Tokyo (ANTARA) - Produsen mesin perkapalan asal Jepang, Japan Engine Corp., berhasil mengembangkan mesin berbahan bakar hidrogen pertama di dunia untuk kapal komersial berukuran besar, usai memperkenalkan inovasi tersebut ke publik pada awal September lalu.
Mesin tersebut diklaim mampu memangkas emisi karbon dioksida (CO2) hingga lebih dari 95 persen dibandingkan mesin konvensional berbahan bakar minyak bakar berat (heavy fuel oil).
Nantinya, mesin tersebut akan digunakan pada kapal serbaguna (multipurpose ship) yang akan dibangun oleh galangan kapal Onomichi Dockyard Co., dengan uji coba operasional (onboard demonstration testing) akan dilakukan oleh operator pelayaran Mitsui O.S.K. Lines Ltd. pada April 2028.
Mesin itu mengadopsi sistem injeksi langsung bertekanan tinggi (high-pressure direct injection) guna menciptakan pembakaran hidrogen yang stabil.
Mengingat sifat unsur kimia tersebut yang mudah terbakar dan rawan mengalami kebocoran, pihak pengembang menerapkan standar keselamatan yang ketat, salah satunya dengan memasang sistem perpipaan berdinding ganda pada seluruh jalur suplai bahan bakar.
Pada Agustus lalu, Japan Engine yang berbasis di Akashi, Prefektur Hyogo itu, juga berhasil merampungkan mesin komersial berbahan bakar amonia pertama di dunia.
Saat ini, hidrogen dan amonia dinilai sebagai unsur yang paling potensial untuk dikembangkan sebagai bahan bakar generasi masa depan bagi kapal komersial berukuran besar.
Namun, pemanfaatan hidrogen masih terbentur oleh tingginya biaya produksi serta upaya adopsi teknologi yang lambat, sedangkan amonia memerlukan protokol penanganan risiko yang ketat karena sifatnya yang beracun.
Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO) telah menargetkan nol emisi gas rumah kaca di sektor pelayaran global pada 2050, sebuah agenda yang turut didukung penuh oleh pemerintah Jepang.
Sumber: Kyodo-OANA
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Uploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.