Pertemuan berlangsung di Mesir dan disebut menjadi pertemuan tingkat tinggi pertama antara pejabat AS dan Hamas sejak kesepakatan gencatan senjata Gaza tercapai tahun lalu.
Pertemuan itu juga dihadiri Utusan Board of Peace Nickolay Mladenov dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Perwakilan Mesir, Qatar, dan Turki turut mengikuti pembicaraan tersebut.
Selain bertemu delegasi Hamas, Kushner juga melakukan pertemuan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi.
Rangkaian diplomasi tersebut dilakukan ketika pemerintahan Trump berupaya menyelamatkan rencana perdamaian Gaza yang mendapat penolakan dari Israel.
Kushner, Mladenov, dan Blair dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin.
Pertemuan tersebut diperkirakan menjadi bagian penting dari upaya Washington menjembatani perbedaan antara Israel dan Hamas mengenai implementasi rencana perdamaian Gaza.
Board of Peace sebelumnya mengatakan telah mencapai kesepakatan mengenai pelucutan senjata Hamas dan kelompok-kelompok bersenjata lainnya di Gaza secara menyeluruh.
Rencana tersebut terdiri dari 15 poin dan mencakup sejumlah agenda besar untuk mengakhiri konflik serta membangun kembali Gaza.
Salah satu bagian penting rencana tersebut adalah penarikan pasukan Israel dari wilayah Gaza dan pembangunan kembali kawasan tersebut di bawah pemerintahan sipil Palestina yang baru.
Namun, Israel menolak rencana tersebut.
Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya sebelum Hamas benar-benar dilucuti.
“Israel menolak dokumen 15 poin Board of Peace mengenai Gaza,” kata Netanyahu. “IDF tidak akan melakukan penarikan apa pun sampai Hamas benar-benar dilucuti.”
Sikap tersebut menjadi salah satu hambatan terbesar dalam penerapan rencana perdamaian yang didukung Trump.
Penolakan Israel terhadap rencana tersebut juga mendapat kritik dari delapan negara Muslim.
Mesir, Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, Yordania, Turki, Pakistan, dan Indonesia mengeluarkan pernyataan bersama yang menyayangkan keputusan Israel.
Mereka menilai penolakan tersebut berpotensi mengancam upaya Trump untuk mewujudkan perdamaian di Gaza.
Pernyataan bersama itu muncul ketika Washington berusaha mempertahankan momentum diplomasi dan mencegah konflik Gaza kembali memasuki fase eskalasi.
Pertemuan Kushner dengan Hamas menjadi perkembangan penting dalam diplomasi Gaza karena berlangsung langsung dengan perwakilan kelompok yang selama ini menjadi salah satu pihak utama dalam konflik.
Keterlibatan Mesir, Qatar, dan Turki juga menunjukkan bahwa upaya diplomatik untuk mempertahankan proses perdamaian melibatkan sejumlah negara yang memiliki hubungan dan saluran komunikasi dengan pihak-pihak yang bertikai.
Kini, tantangan terbesar bagi pemerintahan Trump adalah menemukan formula yang dapat menjembatani tuntutan Israel agar Hamas dilucuti dengan agenda penghentian konflik, penarikan pasukan Israel, serta pembangunan kembali Gaza.
Pertemuan Kushner dengan Hamas dan agenda pertemuan berikutnya dengan Netanyahu menjadi penentu penting apakah rencana damai Gaza 15 poin masih dapat diselamatkan atau justru kembali menghadapi kebuntuan.
Sumber: UPI