Di tengah pertumbuhan industri pinjaman daring atau pindar, pertanyaan tersebut semakin relevan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan outstanding pembiayaan industri pinjaman daring mencapai Rp105,14 triliun pada Juni 2026 atau tumbuh 25,88% secara tahunan. Pertumbuhan itu memperlihatkan bahwa layanan pembiayaan semakin banyak digunakan masyarakat. Di sisi lain, kemudahan akses juga perlu diimbangi dengan kemampuan memahami konsekuensi dari setiap keputusan pinjaman.
Secara sederhana, cara berutang yang tepat adalah memahami seluruh kewajiban sebelum menyetujui pinjaman dan memastikan total cicilan sesuai dengan kondisi keuangan.
Sebelum mengajukan pinjaman, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperiksa:
Berapa total uang yang harus dikembalikan?
Berapa lama tenor pinjaman?
Berapa besar cicilan setiap periode?
Kapan cicilan pertama dan berikutnya jatuh tempo?
Berapa total cicilan lain yang sudah berjalan?
Apakah cicilan baru masih menyisakan ruang untuk kebutuhan rutin dan kebutuhan tak terduga?
Apa konsekuensinya apabila terjadi keterlambatan pembayaran?
Perencana Keuangan Profesional Rista Zwestika, CFP®, menilai kesalahan yang sering terjadi adalah terlalu fokus pada kemudahan mendapatkan pinjaman, sementara kewajiban pembayarannya baru benar-benar diperhatikan setelah dana diterima.
Menurut Rista, sebelum memutuskan meminjam, masyarakat perlu melihat pinjaman sebagai komitmen yang akan memengaruhi arus keuangan selama periode tertentu, bukan sekadar tambahan dana yang tersedia saat ini.
“Kalau kita meminjam, jangan hanya melihat uangnya cepat cair atau berapa nominal yang bisa kita dapatkan. Yang harus dilihat adalah nanti bayarnya bagaimana, berapa setiap bulannya, dan apakah kita memang mampu membayarnya,” ujarnya dalam acara Media Gathering AdaKami di Jakarta, Kamis, 14 Agustus 2026.
Perspektif tersebut penting karena kemampuan membayar utang tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan. Seseorang dengan penghasilan tinggi tetap dapat mengalami tekanan keuangan apabila total cicilannya terlalu besar atau kebutuhan lain tidak diperhitungkan.
Banyak orang mengukur kemampuan berutang dengan cara yang sangat sederhana: selama masih ada sisa uang setelah menerima gaji, cicilan baru dianggap masih bisa ditanggung.
Padahal, ruang kosong dalam cash flow tidak selalu sama dengan kapasitas untuk menambah utang.
Misalnya, seseorang memiliki penghasilan Rp10 juta per bulan. Setelah membayar kebutuhan sehari-hari dan cicilan yang ada, masih tersisa Rp3 juta. Secara kasatmata, kondisi tersebut mungkin terlihat cukup aman untuk mengambil cicilan baru Rp2 juta.
Namun, perhitungan tersebut belum tentu menggambarkan kondisi keuangan secara utuh.
Dalam beberapa bulan ke depan, bisa saja muncul kebutuhan baru, mulai dari biaya keluarga, kesehatan, pendidikan, hingga kebutuhan mendadak. Apabila seluruh sisa pendapatan langsung dialokasikan untuk cicilan baru, ruang untuk menghadapi perubahan kondisi keuangan menjadi semakin sempit.
Inilah yang membuat utang berpotensi mengganggu cash flow. Masalahnya tidak selalu terletak pada nominal pinjaman, melainkan pada ketidakselarasan antara kewajiban pembayaran dan kapasitas keuangan seseorang sepanjang tenor pinjaman.
Rista mencontohkan bahwa seseorang perlu mengetahui kemampuan keuangannya terlebih dahulu sebelum mencari produk atau nominal pinjaman.
“Kalau kita sudah tahu kemampuan kita, misalnya kita hanya mampu membayar cicilan Rp2 juta setiap bulan, baru kita mencari pinjaman atau barang yang cicilannya sesuai dengan kemampuan tersebut,” kata Rista.
Pendekatan ini membalik kebiasaan yang kerap terjadi. Banyak orang menentukan pilihan terlebih dahulu, misalnya ingin membeli kendaraan atau barang tertentu, kemudian mencari cara agar cicilannya bisa disetujui.
Padahal, pendekatan yang lebih aman adalah menentukan kapasitas cicilan terlebih dahulu, baru menyesuaikan nilai pinjaman atau harga barang dengan kemampuan tersebut.
Dengan kata lain, jangan bertanya, “Berapa pinjaman yang bisa saya dapatkan?” sebelum mengetahui, “Berapa cicilan yang bisa saya tanggung tanpa mengorbankan kondisi keuangan?”
Salah satu kesalahan yang dapat membuat utang semakin berat adalah hanya melihat nominal cicilan yang akan diajukan.
Seseorang mungkin merasa cicilan Rp1 juta per bulan tidak besar. Namun, kondisi tersebut berubah apabila orang tersebut ternyata sudah memiliki cicilan kartu kredit, pembiayaan kendaraan, atau kewajiban lain yang harus dibayar setiap bulan.
Karena itu, yang perlu dihitung adalah total seluruh cicilan, bukan hanya kewajiban baru.
Dalam paparan edukasi keuangannya, Rista menggunakan acuan bahwa total utang atau cicilan perlu dijaga agar tidak melebihi sekitar 30% dari pendapatan. Angka tersebut dapat menjadi alat bantu untuk melihat apakah kewajiban pembayaran sudah mulai terlalu besar dibandingkan kemampuan keuangan.
Misalnya, seseorang memiliki pendapatan Rp10 juta per bulan. Dengan acuan 30%, total cicilan berada di kisaran Rp3 juta.
Jika orang tersebut sudah memiliki cicilan Rp1,5 juta setiap bulan, maka ruang secara teoritis untuk menambah kewajiban berada di sekitar Rp1,5 juta.
Perhitungan tersebut, bagaimanapun, bukan berarti seseorang harus menggunakan seluruh batas Rp3 juta untuk berutang.
Angka 30% tidak seharusnya dipahami sebagai “jatah utang” yang wajib dihabiskan. Kondisi keuangan setiap orang berbeda. Seseorang yang memiliki tanggungan keluarga, tabungan terbatas, atau kebutuhan besar dalam waktu dekat tentu perlu mengambil keputusan yang lebih konservatif.
Rista mengingatkan bahwa memaksakan cicilan di atas kemampuan dapat meningkatkan risiko masalah pembayaran.
“Kalau pendapatannya Rp4 juta, misalnya kemampuan cicilannya sekitar 30% atau Rp1,2 juta, tetapi dia sudah memaksakan membayar Rp2 juta setiap bulan, itu yang akan membuat kondisi keuangannya bermasalah,” ujarnya.
Persoalannya bukan hanya soal sanggup membayar cicilan bulan ini. Kemampuan berutang perlu dilihat dalam konteks yang lebih panjang.
Seseorang mungkin masih bisa membayar Rp2 juta hari ini. Pertanyaannya, apakah pembayaran tersebut tetap bisa dilakukan ketika muncul kebutuhan lain tiga, enam, atau dua belas bulan kemudian?
Ada satu pola pikir yang terlihat logis, tetapi belum tentu tepat: ketika satu cicilan selesai, uang yang sebelumnya digunakan untuk membayar cicilan tersebut dianggap otomatis tersedia untuk mengambil utang baru.
Dalam praktik perencanaan keuangan, kondisi seseorang dapat berubah lebih cepat daripada tenor pinjaman.
Rista pernah menceritakan contoh seorang klien yang datang untuk berkonsultasi mengenai rencana pembelian mobil. Klien tersebut memiliki rencana mengambil kendaraan dengan cicilan sekitar Rp5,8 juta hingga Rp6 juta per bulan.
Pada saat yang sama, kondisi keuangannya ternyata masih dibebani sejumlah cicilan lain. Sebagian kewajiban tersebut memang diperkirakan akan lunas dalam beberapa bulan sehingga muncul anggapan bahwa akan tersedia ruang cash flow untuk membayar cicilan mobil.
Namun, ada faktor lain yang tidak bisa diabaikan: klien tersebut juga sedang mempersiapkan kelahiran anak.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa cicilan yang selesai tidak otomatis menciptakan kapasitas utang baru. Uang yang sebelumnya digunakan untuk membayar kewajiban lama mungkin justru perlu dialihkan untuk kebutuhan yang sebelumnya belum ada.
Dalam kasus tersebut, keputusan finansial tidak cukup dibuat berdasarkan proyeksi bahwa “bulan depan ada cicilan yang lunas”. Kondisi keuangan harus dilihat secara menyeluruh, termasuk perubahan kebutuhan keluarga.
Inilah salah satu kesalahan yang sering luput ketika seseorang menilai kemampuan berutang hanya berdasarkan cash flow saat ini.
Pendapatan dan cicilan adalah angka yang bergerak, sementara kebutuhan hidup juga dapat berubah.
Seseorang bisa memiliki pendapatan tetap, tetapi kebutuhan keluarga meningkat. Sebaliknya, seseorang yang hari ini memiliki ruang cash flow besar bisa saja menghadapi pengeluaran mendadak pada masa tenor pinjaman.
Oleh sebab itu, sebelum mengambil utang baru, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya apakah cicilan lama segera lunas. Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Setelah cicilan lama selesai, apakah uang tersebut benar-benar bebas digunakan untuk kewajiban baru, atau sebenarnya sudah dibutuhkan untuk kebutuhan lain yang akan datang?
Baca Juga: Sebelum Ajukan Pinjaman di Pindar, Cek 6 Hal Ini agar Cicilan Tidak Ganggu Cash Flow
Baca Juga: OJK Minta Media Pakai Istilah Pindar, Bukan Lagi Pinjol untuk yang Legal
Memutuskan untuk mengajukan pinjaman sebaiknya tidak berhenti pada pertimbangan apakah pengajuannya mudah atau dana dapat segera cair. Setelah pinjaman disetujui, pengguna akan memiliki kewajiban yang perlu dibayar sesuai jadwal hingga tenor berakhir.
Perencana Keuangan Profesional Rista Zwestika menekankan bahwa sebelum mengambil pinjaman, seseorang perlu memahami sejumlah informasi mendasar agar keputusan tersebut tidak justru mengganggu kondisi keuangan.
“Pinjaman itu bukan cuma soal dananya cepat cair. Kita harus ingat bahwa uang yang kita pinjam tetap harus dibayar. Jadi, jangan hanya fokus pada berapa uang yang bisa didapat, tetapi pahami juga bagaimana cara membayarnya,” ujar Rista.
Berikut beberapa hal yang perlu diperiksa sebelum menyetujui pinjaman.
Nominal pinjaman yang diajukan tidak selalu sama dengan total kewajiban yang harus dibayarkan hingga akhir tenor.
Seseorang yang meminjam Rp5 juta, misalnya, perlu mengetahui berapa total pengembalian yang harus dilakukan setelah memperhitungkan seluruh komponen yang tercantum dalam informasi pinjaman.
Pertanyaan ini penting karena keputusan pinjaman tidak seharusnya hanya didasarkan pada nominal dana yang diterima. Pengguna perlu melihat gambaran lengkap mengenai komitmen finansial yang akan ditanggung.
Rista menekankan pentingnya memahami angka tersebut sejak awal. “Kalau saya pinjam Rp5 juta, dalam jangka waktu tertentu, total yang harus saya bayarkan itu menjadi berapa? Itu harus diketahui dulu,” katanya.
Mengetahui total kewajiban juga membantu seseorang membandingkan kebutuhan pinjaman dengan kemampuan keuangannya. Jika jumlah yang harus dikembalikan ternyata membuat arus kas terlalu ketat, keputusan yang lebih aman bisa berupa mengurangi nominal pinjaman atau menunda pengajuan.
Tenor menentukan berapa lama seseorang akan memiliki kewajiban pembayaran.
Pinjaman dengan tenor 30 hari tentu memiliki karakter cash flow yang berbeda dengan pinjaman yang harus dibayar dalam 60 atau 90 hari. Tenor yang lebih pendek dapat membuat kewajiban pembayaran datang lebih cepat, sementara tenor yang lebih panjang berarti komitmen keuangan berlangsung lebih lama.
Karena itu, tenor tidak bisa dipisahkan dari kemampuan membayar.
Seseorang mungkin melihat nominal cicilan sebagai angka yang masih terjangkau. Namun, ia juga perlu mempertimbangkan apakah kondisi keuangannya cukup stabil untuk memenuhi kewajiban tersebut selama seluruh tenor yang telah disepakati.
Pertanyaannya bukan hanya, “Berapa lama saya bisa meminjam?”, melainkan juga, “Apakah selama periode tersebut saya memiliki sumber dana yang realistis untuk memenuhi kewajiban pembayaran?”
Besaran cicilan merupakan salah satu angka paling penting dalam mengambil keputusan pinjaman.
Menurut Rista, pengguna perlu mengetahui secara jelas berapa nominal yang harus dibayarkan pada setiap periode. Informasi tersebut membantu seseorang memasukkan cicilan ke dalam perencanaan pengeluaran bulanan.
Dalam konteks pengelolaan cash flow, cicilan yang nilainya dapat diprediksi lebih mudah dimasukkan ke dalam anggaran. Sebaliknya, pengguna berisiko mengalami kesulitan apabila baru mengetahui besaran kewajibannya setelah pinjaman berjalan.
Rista menyoroti bahwa masyarakat perlu memeriksa apakah jumlah cicilan yang harus dibayar konsisten atau terdapat perubahan pada periode tertentu.
“Selain menghitung kemampuan bayar, pastikan sebelum setuju berapa jumlah cicilannya, kapan jatuh temponya, dan apakah nilainya tetap hingga akhir tenor,” ujarnya.
Kepastian mengenai nominal pembayaran membuat seseorang dapat menghitung dampak cicilan terhadap pengeluaran rutin. Hal ini juga mencegah kesalahan umum berupa melihat nominal pinjaman tanpa benar-benar memahami berapa uang yang harus disiapkan setiap kali jadwal pembayaran tiba.
Tanggal jatuh tempo sering kali terlihat sebagai detail administratif. Padahal, dalam pengelolaan keuangan, waktu pembayaran dapat sama pentingnya dengan besaran cicilan.
Rista mengingatkan bahwa pengguna perlu mengetahui kapan cicilan pertama harus dibayarkan dan apakah waktunya sesuai dengan pola pendapatan mereka.
“Dua hal yang kerap luput dari perhatian adalah apakah besaran cicilan sama setiap bulan dan kapan jatuh tempo cicilan pertama. Banyak pengguna yang baru menyadari belakangan bahwa cicilan mereka ternyata lebih besar di awal dan harus dibayarkan dalam beberapa hari pertama setelah pinjaman diterima,” jelasnya.
Bayangkan seseorang menerima gaji setiap tanggal 25. Ia mengambil pinjaman pada tanggal 10, tetapi pembayaran pertama jatuh tempo beberapa hari kemudian. Secara nominal, cicilan tersebut mungkin masih sesuai kemampuan. Masalahnya, uang yang tersedia pada saat jatuh tempo belum tentu cukup karena sebagian pendapatan sudah dialokasikan untuk kebutuhan lain.
Di sinilah persoalan cash flow dapat muncul.
Utang yang secara nominal terlihat mampu dibayar belum tentu cocok dengan waktu penerimaan pendapatan seseorang.
Karena itu, sebelum menyetujui pinjaman, pastikan jadwal pembayaran dapat diantisipasi dan tidak memaksa pengguna mencari sumber dana baru hanya untuk membayar cicilan yang sudah berjalan.
Pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi jawabannya tidak cukup dengan melihat saldo rekening atau sisa uang pada bulan berjalan.
Kemampuan membayar perlu dihitung dengan mempertimbangkan:
pendapatan rutin;
total cicilan yang sudah berjalan;
kebutuhan pokok;
tanggungan keluarga;
tabungan dan dana yang telah dialokasikan untuk tujuan tertentu;
kebutuhan yang berpotensi muncul selama masa pinjaman.
Dalam paparan Rista, total cicilan dapat menggunakan acuan sekitar 30% dari pendapatan sebagai salah satu alat bantu perencanaan keuangan. Namun, batas tersebut tidak berarti setiap orang aman berutang hingga angka maksimum.
Seseorang dengan pendapatan Rp10 juta dan cicilan Rp3 juta mungkin secara angka masih berada pada kisaran tersebut. Kondisinya dapat berbeda apabila orang tersebut tidak memiliki dana cadangan, sedang mempersiapkan kelahiran anak, atau menghadapi kebutuhan besar dalam waktu dekat.
Kemampuan membayar bukan sekadar soal masih ada uang untuk membayar cicilan bulan ini. Kemampuan membayar berarti tetap mampu memenuhi kewajiban tanpa membuat kebutuhan penting lainnya terganggu.
Sebelum mengambil pinjaman, pengguna juga perlu memahami konsekuensi apabila mengalami keterlambatan pembayaran.
Informasi yang perlu diketahui bukan hanya besarnya kewajiban, tetapi juga bagaimana proses yang berlaku jika pengguna menghadapi kesulitan membayar.
Menurut Rista, aspek tersebut merupakan bagian dari informasi yang perlu dipahami sejak awal. Pengguna sebaiknya tidak baru mencari tahu prosedur yang berlaku ketika sudah berada dalam kondisi kesulitan.
Memahami konsekuensi keterlambatan membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih realistis. Jika sejak awal terdapat kemungkinan besar bahwa pendapatan tidak cukup stabil untuk memenuhi jadwal pembayaran, hal tersebut seharusnya menjadi pertimbangan untuk tidak memaksakan pengajuan.
Kebutuhan untuk memahami seluruh informasi pinjaman menjadi salah satu konteks di balik kampanye “Buka-Bukaan” yang diperkenalkan PT Pembiayaan Digital Indonesia atau AdaKami.
Melalui kampanye bertema “Gak Ada Udang di Balik Batu”, AdaKami menekankan pentingnya keterbukaan informasi mengenai pinjaman, mulai dari dana yang diterima, biaya, tenor, jadwal cicilan, hingga total kewajiban sebelum pengguna menyetujui pinjaman.
Strategic Communication and Brand Lead AdaKami Jonathan Kriss mengatakan pelindungan konsumen menjadi salah satu fokus perusahaan. Menurutnya, transparansi diperlukan agar pengguna memiliki informasi yang cukup sebelum mengambil keputusan.
“Sejak awal, pelindungan konsumen selalu menjadi fokus utama di AdaKami. Kampanye ‘Buka-Bukaan’ ini adalah langkah nyata dalam mendorong transparansi informasi pinjaman guna melindungi masyarakat,” kata Jonathan.
Dalam kampanye tersebut, AdaKami menekankan tiga poin utama, yakni dana pinjaman diterima secara utuh tanpa potongan awal selain biaya materai, cicilan flat setiap periode 30 hari, serta informasi mengenai dana yang diterima, bunga, biaya layanan, tenor, jadwal cicilan, dan total kewajiban yang ditampilkan sebelum konsumen menyetujui pinjaman.
Studi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia atau LPEM FEB UI pada 2026 juga menunjukkan lebih dari 95% pengguna AdaKami memahami total kewajiban pembayaran mereka sebelum menyetujui pinjaman.
Angka tersebut menunjukkan satu hal penting dalam pengambilan keputusan keuangan: informasi yang tersedia dengan jelas dapat membantu konsumen memahami konsekuensi sebelum mengambil kewajiban.
Namun, transparansi dari penyedia layanan hanya menjadi satu bagian dari proses.
Informasi mengenai jumlah cicilan dapat menunjukkan berapa uang yang harus dibayar. Jadwal pembayaran dapat menunjukkan kapan kewajiban tersebut jatuh tempo. Total kewajiban dapat membantu pengguna memahami komitmen hingga akhir tenor.
Keputusan mengenai apakah pinjaman tersebut cocok dengan kondisi keuangan tetap harus dibuat oleh pengguna sendiri.
Seseorang mungkin memahami seluruh informasi pinjaman secara lengkap, tetapi tetap perlu menjawab pertanyaan yang lebih personal: apakah cicilan tersebut sesuai dengan pendapatan, kebutuhan, tanggungan, dan rencana keuangan yang dimilikinya?
Dengan kata lain, transparansi membantu seseorang mengetahui risiko dan kewajibannya, tetapi tidak dapat menggantikan proses menghitung kemampuan finansial pribadi.
Salah satu pendekatan yang dapat membuat keputusan utang menjadi lebih terukur adalah membalik proses pengambilan keputusan.
Banyak orang memulai dari keinginan.
Misalnya, seseorang ingin membeli mobil seharga tertentu. Setelah menentukan mobilnya, ia kemudian mencari pinjaman dengan tenor dan cicilan yang memungkinkan keinginannya terwujud.
Pendekatan tersebut berisiko membuat kemampuan finansial menyesuaikan dengan harga barang, bukan sebaliknya.
Rista menyarankan proses yang berbeda. Seseorang sebaiknya terlebih dahulu mengetahui berapa cicilan yang sanggup dibayar berdasarkan kondisi keuangannya. Setelah itu, barulah mencari produk atau nilai pinjaman yang sesuai.
Misalnya, seseorang setelah menghitung seluruh pengeluaran dan kewajiban mengetahui bahwa ia hanya nyaman menambah cicilan maksimal Rp2 juta per bulan.
Angka tersebut kemudian menjadi batas dalam mencari pilihan.
Jika kendaraan yang diinginkan membutuhkan cicilan Rp5 juta per bulan, masalahnya bukan mencari cara agar cicilan tersebut tetap bisa diambil. Pilihan yang lebih realistis adalah mencari kendaraan dengan harga yang sesuai dengan kapasitas pembayaran atau menunda pembelian hingga kondisi keuangan memungkinkan.
Cara berpikir ini mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak besar terhadap cash flow.
Jangan memaksakan keuangan untuk mengejar barang yang diinginkan. Sesuaikan pilihan dengan kapasitas keuangan yang sudah dihitung.
Berutang dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan. Namun, ada kondisi ketika menambah kewajiban justru berpotensi memperbesar tekanan terhadap cash flow.
Salah satu tanda paling jelas adalah ketika seseorang sudah kesulitan memenuhi cicilan yang sedang berjalan.
Menambah pinjaman baru dalam kondisi tersebut dapat membuat masalah semakin kompleks. Kewajiban yang sebelumnya sudah sulit dikelola akan bertambah, sementara sumber pendapatan belum tentu meningkat.
Ada beberapa kondisi yang patut menjadi tanda peringatan sebelum mengajukan pinjaman baru:
Total cicilan sudah mengambil porsi besar dari pendapatan.
Pembayaran cicilan sebelumnya sering terlambat.
Pendapatan tidak stabil, tetapi jadwal pembayaran bersifat tetap.
Kebutuhan pokok mulai terganggu karena pembayaran utang.
Tidak ada ruang untuk menghadapi kebutuhan mendadak.
Pinjaman baru akan digunakan untuk menutup kewajiban lama tanpa rencana penyelesaian yang jelas.
Keputusan pinjaman dibuat hanya karena limit tersedia atau proses pencairannya mudah.
Pengguna belum memahami total kewajiban, jadwal pembayaran, atau konsekuensi keterlambatan.
Dalam situasi seperti itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi “apakah pinjaman ini bisa disetujui?”, melainkan “apakah saya benar-benar perlu menambah kewajiban sekarang?”
Rista juga menekankan bahwa tidak semua masalah keuangan harus diselesaikan dengan menambah utang.
Seseorang mungkin memiliki alternatif lain, seperti menunda pembelian, menyesuaikan kebutuhan dengan anggaran, atau membangun dana terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
Pilihan untuk tidak berutang bukan berarti gagal membeli sesuatu. Dalam beberapa kondisi, menunda justru dapat menjadi keputusan yang lebih sehat daripada memaksakan cicilan yang akan membatasi keuangan selama berbulan-bulan.
Kemudahan akses pembiayaan telah mengubah cara masyarakat mendapatkan dana. Proses yang lebih cepat tentu dapat membantu dalam kondisi tertentu. Namun, kecepatan tidak seharusnya menjadi satu-satunya alasan untuk mengambil pinjaman.
Rista menilai pengguna perlu mengubah fokus dari sekadar mencari pinjaman yang cepat cair menjadi memahami kewajiban yang muncul setelah dana diterima.
“Pinjaman yang baik bukan cuma soal cepat cair. Yang lebih penting adalah kita tahu apa kewajiban kita, bagaimana cara membayarnya, dan apakah kita memang mampu,” ujarnya.
Pendekatan tersebut semakin relevan ketika keputusan pinjaman dibuat hanya dalam hitungan menit melalui perangkat digital. Semakin mudah proses pengajuan, semakin penting pula proses berhenti sejenak untuk memeriksa kondisi keuangan sendiri.
Sebelum menyetujui pinjaman, seseorang dapat melakukan pemeriksaan sederhana:
Pertama, hitung seluruh pendapatan rutin yang benar-benar dapat digunakan.
Kedua, jumlahkan semua cicilan yang sedang berjalan.
Ketiga, sisihkan kebutuhan pokok dan kewajiban utama.
Keempat, pertimbangkan kebutuhan yang sudah dapat diperkirakan dalam beberapa bulan ke depan.
Kelima, lihat apakah cicilan baru masih menyisakan ruang yang cukup untuk menghadapi perubahan kondisi.
Proses tersebut mungkin tidak menjamin bahwa tidak akan ada masalah keuangan di masa depan. Namun, setidaknya keputusan berutang tidak dibuat hanya berdasarkan nominal dana yang bisa diterima hari ini.
Ada satu perbedaan penting antara mampu mendapatkan pinjaman dan mampu mempertahankan pembayaran pinjaman.
Persetujuan pinjaman hanya menjadi awal dari sebuah transaksi. Kemampuan mengelola kewajiban hingga akhir tenor merupakan tantangan yang sesungguhnya.
Jonathan juga menekankan bahwa edukasi mengenai risiko dan kewajiban perlu terus dilakukan agar masyarakat semakin memahami keputusan pembiayaan yang diambil.
“Kampanye ini tidak berhenti hanya pada hari ini. Kami punya komitmen untuk terus mengedukasi masyarakat agar memiliki kebiasaan untuk mengetahui risiko dan kewajiban ketika menggunakan layanan pembiayaan,” kata Jonathan.
Pada akhirnya, cara berutang yang tepat bukan ditentukan oleh seberapa besar pinjaman yang dapat diperoleh. Ukurannya adalah apakah kewajiban tersebut masih memungkinkan seseorang memenuhi kebutuhan hidup, menjaga stabilitas cash flow, dan menjalankan rencana keuangan tanpa tekanan yang berlebihan.
Pertanyaan sebelum berutang seharusnya tidak berhenti pada “berapa yang bisa saya pinjam?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Setelah cicilan ini masuk ke pengeluaran saya, apakah kondisi keuangan saya masih cukup sehat untuk menghadapi kehidupan sehari-hari dan kebutuhan yang belum terjadi?
Jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin membuat seseorang tetap melanjutkan rencana pinjaman. Dalam kondisi lain, jawabannya bisa menjadi alasan untuk mengurangi nominal, memilih pilihan yang lebih sesuai, atau menunda keputusan.
Keputusan untuk berutang yang sehat bukan selalu tentang mengatakan “tidak” pada pinjaman. Keputusan yang sehat adalah memastikan bahwa utang tetap menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan, bukan kewajiban yang kemudian mengendalikan seluruh kondisi keuangan.
Pantau terus perkembangan informasi seputar keuangan, pinjaman digital, dan pelindungan konsumen agar setiap keputusan pembiayaan dibuat berdasarkan pemahaman, bukan sekadar dorongan untuk mendapatkan dana dengan cepat.
Baca Juga: Fintech Pindar Ramai-ramai Banding Putusan Kartel Bunga ke Pengadilan, Kenapa?
Baca Juga: Industri Fintech Pindar Bergejolak, Denda Rp755 Miliar dari KPPU Picu Perdebatan
Dalam paparan Perencana Keuangan Profesional Rista Zwestika, total cicilan dapat menggunakan acuan sekitar 30% dari pendapatan. Namun, angka tersebut bukan aturan mutlak dan tidak berarti seseorang harus menggunakan seluruh 30% pendapatannya untuk membayar utang. Kemampuan membayar juga perlu mempertimbangkan kebutuhan hidup, tanggungan, dana cadangan, serta rencana keuangan yang akan datang.
Cara mengetahui kemampuan membayar utang adalah dengan menghitung pendapatan rutin, seluruh cicilan yang sudah berjalan, kebutuhan pokok, dan kebutuhan yang diperkirakan akan muncul selama masa pinjaman. Jangan hanya melihat sisa uang pada bulan ini. Kemampuan membayar harus dilihat dari kemampuan mempertahankan cicilan hingga tenor berakhir tanpa mengganggu kebutuhan utama.
Sebelum mengajukan pinjaman, periksa total kewajiban yang harus dibayar, tenor, besaran cicilan setiap periode, tanggal jatuh tempo, total cicilan yang sudah dimiliki, kemampuan membayar, serta konsekuensi jika terjadi keterlambatan. Informasi tersebut membantu calon peminjam memahami dampak pinjaman terhadap cash flow sebelum menyetujui pengajuan.
Tidak selalu. Cicilan Rp1 juta dapat terasa ringan bagi seseorang, tetapi menjadi berat apabila sudah ada beberapa kewajiban lain. Karena itu, yang perlu dihitung adalah total seluruh cicilan dibandingkan dengan pendapatan dan kebutuhan rutin. Cicilan kecil yang ditumpuk dari berbagai pinjaman tetap dapat mengganggu keuangan.
Tanggal jatuh tempo menentukan kapan uang harus tersedia untuk membayar kewajiban. Cicilan yang nominalnya sesuai kemampuan tetap dapat mengganggu cash flow jika waktu pembayarannya tidak selaras dengan jadwal penerimaan pendapatan. Pengguna perlu mengetahui kapan cicilan pertama dan pembayaran berikutnya harus dilakukan sebelum menyetujui pinjaman.
Belum tentu. Uang yang sebelumnya digunakan untuk membayar cicilan lama mungkin dibutuhkan untuk kebutuhan baru, seperti biaya keluarga, kesehatan, pendidikan, atau membangun dana darurat. Sebelum mengambil utang baru, evaluasi kembali kondisi keuangan secara keseluruhan, bukan hanya melihat adanya cicilan yang segera selesai.
Sebaiknya tidak menambah utang ketika total cicilan sudah membebani pendapatan, pembayaran kewajiban lama mulai terganggu, kebutuhan pokok terancam, atau pinjaman baru hanya digunakan untuk menutup masalah utang sebelumnya tanpa rencana penyelesaian yang jelas. Menunda pinjaman dan mengevaluasi kondisi keuangan dapat menjadi pilihan yang lebih aman dibandingkan menambah kewajiban.