Jakarta -
Tidak semua hewan laut aman dikonsumsi. Beberapa di antaranya mengandung racun hingga merkuri dalam jumlah tinggi.
Tak semua seafood atau hewan laut aman disantap. Beberapa jenis hewan laut justru mengandung racun atau zat berbahaya yang bisa memicu keracunan hingga mengancam nyawa.
Bahaya tersebut bisa berasal dari racun alami dalam tubuh hewan maupun zat yang terakumulasi akibat lingkungan. Bahkan, beberapa kasus keracunan seafood pernah berujung fatal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria nyaris makan gurita cincin biru Foto: Weibo/iStock
Gurita cincin biru berukuran kecil, tetapi memiliki racun yang sangat berbahaya. Hewan ini hidup di perairan dangkal Samudra Pasifik dan Hindia, termasuk Indonesia.
Saat merasa terancam, tubuhnya akan menampilkan cincin biru terang sebagai tanda peringatan. Racunnya mengandung tetrodotoksin yang dapat mengganggu kerja saraf hingga menyebabkan kelumpuhan.
Pada 2023, seorang pria nyaris menyantap gurita cincin biru yang sangat beracun. Gurita itu ditemukan dalam hidangan dan berhasil dikenali sebelum dimakan.
Food Vlogger Tewas Usai Santap Kepiting Beracun Foto: Site News
Devil crab adalah kepiting karang bernama ilmiah Zosimus aeneus yang hidup di wilayah Indo-Pasifik. Meski berwarna cerah, kepiting ini mengandung racun berbahaya pada tubuhnya.
Racunnya berupa neurotoksin, termasuk saxitoxin dan tetrodotoxin, yang dapat menyerang sistem saraf. Paparan racun tersebut bisa menyebabkan kelumpuhan hingga kematian.
Kasus mengerikan usai konsumsinya dialami oleh food vlogger Filipina Emma Amit yang meninggal pada Februari 2026. Sebelumnya ia menyantap devil crab untuk konten.
Ikan buntal Ilustrasi. Foto: Getty Images/kparis
Ikan buntal bisa menggembungkan tubuhnya saat merasa terancam. Ikan ini mengandung tetrodotoksin, racun yang dapat mengganggu sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan.
Racun ikan buntal dapat ditemukan di beberapa organ, seperti hati, ginjal, insang, dan kulit. Karena itu, ikan ini tidak boleh diolah sembarangan meski dagingnya bisa dikonsumsi dengan penanganan khusus.
Tragedi karena makan ikan buntal pernah terjadi pada 2023 di Johor, Malaysia. Seorang wanita tewas usai menyantap ikan buntal yang dibeli secara online. Suaminya juga mengalami keracunan hingga masuk ICU.
Ilustrasi kerang ijo yang ada di perairan toksin. Foto: Getty Images/iStockphoto/mamadela
Kerang dapat mengandung toksin jika hidup di perairan yang tercemar mikroalga penghasil racun. Kerang sebagai hewan penyaring air bisa menumpuk toksin tersebut di tubuhnya.
Salah satunya saksitoksin yang dapat menyebabkan Paralytic Shellfish Poisoning atau keracunan kerang paralitik. Racun ini menyerang sistem saraf dan dapat memicu gejala seperti kebas hingga kelumpuhan.
Kasus keracunan kerang juga pernah terjadi di Indonesia, termasuk Cirebon, Jeneponto, dan Ambon. Di Cirebon pada 2016, 115 orang keracunan setelah mengonsumsi kerang hijau dan dua orang meninggal.
Ilustrasi ikan todak. Foto: Getty Images/bhofack2
Ikan todak atau swordfish merupakan ikan predator berukuran besar yang dapat mengandung merkuri tinggi. Merkuri terakumulasi dalam tubuh ikan karena berada di tingkat atas rantai makanan.
Paparan merkuri dalam jumlah tinggi dapat berdampak pada sistem saraf, terutama pada janin dan anak-anak. Karena itu, konsumsi ikan todak perlu dibatasi, terutama bagi kelompok rentan.
Beberapa aturan konsumsi bahkan membatasi ikan todak untuk wanita dan anak-anak. Sementara pria dianjurkan membatasi konsumsinya hingga satu porsi dalam sebulan.
Halaman 2 dari 2
Simak Video "Video: Kepala BGN Setop SPPG di Bogor Buntut Kasus Keracunan Massal MBG"
[Gambas:Video 20detik]
(raf/adr)