Esha Tri Wahyuni
| 18 Oktober 2026, 15:52 WIB

Pemilik Jan Ayu, Linda Sudibyo. -Akurat.co/ Esha Tri Wahyuni
AKURAT.CO Brand fesyen asal Lampung, Jan Ayu, mengembangkan kain tapis menjadi busana yang dapat digunakan sehari-hari untuk memperluas pasar wastra tradisional sekaligus menjaga keberlangsungan pengrajin lokal.
Inovasi dilakukan dengan menggunakan benang non emas agar tapis lebih ringan dan nyaman dikenakan dalam berbagai aktivitas.
Pemilik Jan Ayu, Linda Sudibyo mengatakan, tapis selama ini identik dengan busana adat dan acara khusus. Selain memiliki nilai budaya, kain tersebut juga relatif mahal sehingga tidak semua orang membelinya untuk kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga: Kalahkan Ipswich Town, Manchester City Lawan Cemooh dengan Dukungan 'Pisang'
Kondisi itu mendorong Jan Ayu mengembangkan desain busana berbahan tapis yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern, termasuk kalangan pekerja profesional.
“Kalau semua orang berpikir tapis hanya untuk acara tertentu, nanti pengrajin tapisnya mau makan dari mana? Makanya kita harus menciptakan inovasi, bagaimana tapis bisa dibuat menjadi baju,” kata Linda saat ditemui di ajang Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2026 di Jakarta, Minggu (18/10/2026).
Menurut Linda, kebutuhan sandang yang digunakan sehari-hari menjadi peluang bagi pengembangan pasar tapis. Dengan mengubahnya menjadi pakaian yang lebih praktis, Jan Ayu berharap wastra Lampung tidak hanya tersimpan sebagai koleksi atau dikenakan ketika menghadiri upacara adat.
Linda mengatakan, salah satu tantangan dalam mengembangkan tapis adalah karakter kainnya yang secara tradisional menggunakan benang emas sehingga memiliki tampilan mencolok. Jan Ayu kemudian memilih benang nonemas agar produknya lebih mudah dipadukan dengan gaya berpakaian sehari-hari.
“Tapisnya kita inovasi dengan menggunakan benang bukan emas. Tujuannya supaya lebih nyaman dipakai sehari-hari,” ujarnya.
Di balik inovasi desain tersebut, proses pembuatan tapis tetap mengandalkan keterampilan tangan. Linda menjelaskan, pembuatan tapis terdiri atas dua tahap, yakni menenun bahan dasar kain dan menyusun serta menyematkan benang untuk membentuk motif.
Proses tersebut membuat pengerjaan tapis membutuhkan ketelitian dan waktu. Karena itu, pengembangan pasar menjadi penting agar keterampilan para pengrajin tetap memiliki nilai ekonomi.
Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






