Jaga Kualitas Pembiayaan, Home Credit Tetap Prudent Layani Pelanggan

calendar_today 10.09.2026 - person  - timer ~

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Home Credit Indonesia menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga kualitas pembiayaan di tengah perubahan lanskap industri multifinance yang terus berubah.

Acting Chief Executive Officer Home Credit Sylvia Lazuarni mengakui ekspektasi konsumen saat ini telah berubah. Dengan penetrasi smartphone yang semakin tinggi, masyarakat menginginkan proses pembiayaan yang sederhana, cepat, dan minim hambatan.

Namun bagi Home Credit, kecepatan layanan tidak boleh mengorbankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan. Menurut Sylvia, tantangan industri saat ini bukan lagi sekadar mempercepat proses persetujuan kredit, tetapi memastikan akses pembiayaan tetap sehat dan berkelanjutan bagi konsumen.

"Kami selalu melihat trade-off antara pertumbuhan, profitabilitas, dan kualitas portofolio. Tapi ada satu hal lagi yang penting bagi kami, yaitu responsible lending (pembiayaan yang bertanggungjawab)," kata Sylvia dalam Multifinance CEO Gathering 2026 CNBC Indonesia, di Jakarta, Selasa, (11/8/2026).

Sylvia mengatakan salah satu fokus perusahaan adalah mencermati perubahan perilaku konsumen dan kompetisi yang terus berkembang. Selama ini, Home Credit mengandalkan proses akuisisi pelanggan baru melalui pembiayaan barang di toko mitra.

Meski seluruh proses pengajuan kredit telah dilakukan secara digital dan paperless sejak sebelum pandemi, pelanggan baru tetap harus menyelesaikan proses transaksi secara tatap muka dibantu oleh 6.000 Sales Agent yang tersebar di sekitar 23.000 toko mitra di seluruh Indonesia.

Pada saat ini, layanan Home Credit tersedia di lebih dari 270 kota dan kabupaten di Indonesia. Pada awal 2026, Home Credit memperluas layanannya di Indonesia Timur dengan membuka layanan di daerah Jayapura, Papua, melengkapi kehadiran perusahaan di berbagai pulau besar lainnya dari Sumatera hingga Sulawesi.

Pendekatan hybrid antara teknologi digital dan asistensi langsung di toko menjadi salah satu pembeda Home Credit dalam menjaga kualitas proses akuisisi dan underwriting pelanggan. Saat ini proses persetujuan kredit Home Credit dilakukan melalui dua langkah.

Pertama, pelanggan mengajukan pembiayaan dan memperoleh persetujuan awal beserta limit kredit melalui aplikasi My Home Credit. Kedua, pelanggan datang ke toko untuk membeli barang, lalu perusahaan kembali melakukan penilaian berdasarkan sejumlah faktor, mulai dari jenis toko, lokasi toko, hingga kategori produk yang dibeli.

"(Misalnya) hari ini limit sudah bisa didapatkan lebih dulu. Tapi ketika pelanggan datang ke toko, kami masih melakukan underwriting untuk menentukan product offering yang tepat. Bisa berbeda-beda tergantung profil risiko dan produk yang dibeli," jelasnya.

Home Credit menilai proses tersebut penting untuk memastikan kemampuan bayar pelanggan tetap terjaga. Perusahaan mencontohkan, meski seorang pelanggan telah memperoleh limit kredit, Home Credit tetap melakukan pengecekan lanjutan terhadap berbagai data dan kewajiban finansial yang dimiliki pelanggan.

"Kalau kami melihat total kewajiban pelanggan berpotensi melebihi batas kemampuan bayar yang sehat, maka kami akan melakukan penyesuaian. Itu bagian dari upaya menjaga kualitas kredit sekaligus melindungi konsumen," katanya.

Home Credit mengakui bahwa tantangan ke depan adalah menemukan keseimbangan antara memenuhi kebutuhan masyarakat yang menginginkan layanan cepat dan mudah dengan menjaga kualitas portofolio perusahaan. Pada saat ini, Non-performing Finance (NPF) net Home Credit per Juni 2026 berada di level 0,47% atau masih di bawah level yang ditentukan regulator sebesar 5%.

Ke depan, Home Credit akan terus mengevaluasi berbagai inovasi layanan agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar yang semakin digital. Namun perusahaan memastikan prinsip prudent responsible lending akan tetap menjadi fondasi utama dalam setiap pengembangan bisnisnya.

(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]