Iran Tantang AS Akui Kekalahan, Trump Sebut Teheran “Sangat Jahat” dan Peringatkan Harga BBM Tetap Tinggi

calendar_today 17.08.2026 - person  - timer ~

“Selat ini hanya akan dibuka dan ditutup atas perintah Iran,” tulis Gharibabadi melalui X pada Sabtu.

Ia mengatakan Iran akan terus memberlakukan blokade selama Amerika Serikat belum menerima apa yang disebutnya sebagai kenyataan mengenai kekalahan dan masih mengejar apa yang dianggap Teheran sebagai khayalan.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa posisi Iran dan Amerika Serikat masih sangat jauh, sementara perang yang dimulai Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir.

Iran Belum Putuskan Kembali Berunding dengan AS

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran belum mengambil keputusan untuk kembali melakukan pembicaraan dengan Washington.

Dalam wawancara dengan Shahrara News yang diterbitkan Sabtu, Araqchi mengatakan Amerika Serikat harus memenuhi sejumlah persyaratan terkait Selat Hormuz sebelum lalu lintas pelayaran di jalur tersebut dapat kembali berjalan.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut.

Terhentinya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz pun memberikan tekanan tambahan terhadap pasar energi global.

Trump Minta Warga AS Siap Bayar BBM Lebih Mahal

Di Amerika Serikat, Trump mengatakan masyarakat harus bersiap menghadapi kenaikan harga bahan bakar selama konflik masih berlangsung.

Dalam sebuah rapat umum politik di Garden City, New York, pada Jumat, Trump mengatakan membayar sedikit lebih mahal untuk bensin merupakan harga yang layak demi mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Trump juga kembali menyebut Iran sebagai negara yang “sangat jahat”.

“Setelah kita selesai mengalahkan Iran... segera saya akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat,” kata Trump.

Pernyataan tersebut menunjukkan sikap Trump yang tetap keras terhadap Teheran, meskipun sebelumnya ia beberapa kali memberikan sinyal berbeda mengenai kemungkinan eskalasi maupun tercapainya kesepakatan damai.

Harga Bensin AS Naik 29 Persen

Dampak perang mulai terasa langsung di Amerika Serikat melalui kenaikan harga energi.

Menurut data American Automobile Association (AAA), harga rata-rata bensin di AS mencapai sekitar 4,08 dolar AS per galon pada Jumat, atau meningkat 29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan harga tersebut menjadi persoalan politik bagi Trump karena ia sebelumnya berkampanye dengan janji menekan biaya energi bagi masyarakat Amerika.

Partai Demokrat juga berupaya menjadikan dampak perang dan kenaikan harga energi sebagai isu dalam pemilihan kongres pada November.

Di pasar minyak, harga kontrak minyak mentah juga meningkat. Kontrak berjangka Brent berada di jalur kenaikan sekitar 6 persen dalam sepekan, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 5,4 persen.

Selat Hormuz Hampir Sepi dari Kapal Tanker Minyak

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan drastis.

Analisis perusahaan pelacak kapal Kpler menunjukkan hanya dua kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Jumat, dan tidak terlihat adanya pengiriman minyak mentah.

Sebagian kapal mungkin masih melintas tanpa terdeteksi karena mematikan transponder. Namun, jumlah tersebut tetap jauh di bawah kondisi sebelum perang ketika lebih dari 130 kapal per hari melintasi jalur strategis tersebut.

Kapal yang melintas tanpa izin Iran menghadapi risiko serangan rudal maupun drone.

Uni Emirat Arab bahkan menuduh Iran menyerang kapal ketiga yang dioperasikan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) saat melintasi Selat Hormuz pada Jumat. Sebelumnya, UEA juga menuduh Iran terlibat dalam dua insiden lain yang melibatkan kapal ADNOC pada Kamis malam.

Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) juga melaporkan sebuah kapal pengangkut muatan curah terkena proyektil tak dikenal pada bagian lambungnya di Selat Hormuz. Belum jelas apakah insiden tersebut merupakan kejadian yang sama dengan serangan terhadap kapal ADNOC.

Iran Juga Mulai Merasakan Tekanan Ekonomi

Meski pemerintah Iran mempertahankan retorika keras terhadap Amerika Serikat, dampak ekonomi perang juga mulai terasa di dalam negeri.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan tingginya inflasi berkaitan dengan blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran dan sanksi terhadap ekspor minyak negara tersebut.

Dengan demikian, tekanan ekonomi kini dirasakan kedua belah pihak. Amerika Serikat menghadapi kenaikan harga bensin dan minyak, sementara Iran menghadapi tekanan terhadap ekspor minyak, pelabuhan, dan perekonomian domestiknya.

AS Siapkan Sanksi Baru terhadap Iran

Trump dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga berjanji meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Bessent mengatakan pengumuman mengenai langkah-langkah baru terhadap Iran akan disampaikan pada pekan berikutnya.

Washington menyebut tindakan terhadap kapal-kapal Iran sebagai bagian dari tekanan terhadap Teheran, sementara Iran menggambarkan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz sebagai blokade.

Trump sendiri mengatakan tindakan Amerika Serikat bertujuan memberikan manfaat bagi dunia sekaligus melindungi kepentingan negaranya.

Sumber: Asahi