Iran: Peluang damai 10 persen - ANTARA News Kalimantan Selatan

calendar_today 20.07.2026 - person  - timer ~

Istanbul (ANTARA) - Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan pihaknya tetap berupaya menempuh jalur perundingan sebelum perang, meski prediksi peluang mencapai penyelesaian damai hanya sekitar 10 persen.

Menurut Araghchi, negosiasi tetap dilakukan untuk mencari jalan guna memenuhi tuntutan Iran sekaligus menghindari konflik bersenjata.

"Perundingan memiliki beberapa tujuan. Salah satunya adalah kemungkinan menemukan cara melalui negosiasi untuk mencapai tuntutan kami dan kami tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu," kata Araghchi dalam wawancara yang dipublikasikan pada Minggu (19/7).

Dia mengatakan Iran tetap menilai negosiasi merupakan upaya yang layak untuk ditempuh walaupun peluang keberhasilannya sangat kecil.

"Kami mengatakan bahwa meskipun hanya ada peluang 10 persen untuk mencapai hasil selain perang melalui negosiasi, kami harus memanfaatkan kesempatan itu," kata Araghchi.

Jika upaya itu tidak berhasil, lanjutnya, maka setidaknya Iran telah menunjukkan kepada musuh, masyarakat internasional, serta rakyatnya bahwa mereka telah menempuh setiap jalan yang memungkinkan.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer bersama terhadap Iran pada Februari lalu.

Iran lalu membalas dengan serangan rudal dan pesawat nirawak dengan menyasar sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi penempatan aset militer AS.

AS dan Iran sempat mencapai nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik dan merintis perjanjian damai.

Namun, ketegangan kembali meningkat akibat sengketa di Selat Hormuz hingga memicu aksi saling serang antara kedua negara.

Sumber: Anadolu

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Iran: Peluang damai 10 persen tetap layak diperjuangkan

Pewarta: Yoanita Hastryka Djohan
Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.