ILUSTRASI. Sepinya IPO maupun penerbitan obligasi sepanjang periode berjalan 2026 turut menekan bisnis penjaminan emisi perusahaan sekuritas. (Istimewa/NULL)
Reporter: Ade Priyatin | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi pasar modal yang relatif sepi dari aksi penawaran umum perdana saham (IPO) maupun penerbitan obligasi sepanjang periode berjalan tahun 2026 turut menekan bisnis penjaminan emisi perusahaan sekuritas.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai berkurangnya jumlah emiten yang melakukan fundraising melalui pasar modal secara langsung mengurangi potensi fee-based income dari jasa penjaminan emisi.
"Sehingga kontribusi segmen ini terhadap pendapatan sekuritas cenderung menurun," ujarnya kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).
Namun, besarnya penurunan pendapatan penjaminan emisi juga tidak hanya dilihat dari jumlah IPO dan penerbitan obligasi saja. Nilai emisi dan besaran fee yang diperoleh dari setiap transaksi turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Baca Juga: LPS Proyeksikan Suku Bunga Simpanan Tetap Tinggi di Tengah Kebutuhan Likuiditas
Menurutnya, jika nilai transaksi yang berhasil dihimpun relatif besar, satu atau beberapa aksi korporasi saja bisa memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan. Sebaliknya, jika jumlah transaksi dan nilai emisi sama-sama menurun, maka tekanan terhadap pendapatan underwriting akan kian terasa.
Oleh karena itu, pelemahan aktivitas aksi korporasi berpotensi membuat pertumbuhan pendapatan underwriting secara tahunan lebih terbatas dibandingkan periode ketika aktivitas pasar perdana (primary market) lebih tinggi.
Di tengah kondisi ini, diversifikasi lini usaha dinilai menjadi salah satu strategi penting bagi perusahaan sekuritas untuk menjaga kinerja.
"Diversifikasi ini penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan underwriting yang cenderung bersifat transaksional dan fluktuatif," ujarnya.
Katanya, perusahaan sekuritas akan semakin mengoptimalkan sumber pendapatan lain yang lebih berulang. Beberapa di antaranya adalah bisnis brokerage saham, investment banking advisory, asset management, wealth management, hingga bisnis fixed income dan treasury.
Di samping itu, perusahaan sekuritas dengan basis nasabah ritel maupun institusi yang kuat berpotensi lebih mampu menjaga kinerja melalui peningkatan volume transaksi perdagangan ketika aktivitas pasar sekunder meningkat.
Baca Juga: Dana Pensiun Borong SRBI, Investasinya Melonjak 132% Jadi Rp18,52 Triliun
Akan tetapi, dampak sepinya IPO dan penerbitan obligasi terhadap kinerja masing-masing perusahaan sekuritas akan berbeda, tergantung pada diversifikasi bisnis, pipeline transaksi, serta seberapa besar ketergantungan perusahaan terhadap pendapatan underwriting.
Di sisi lain, ia memperkirakan prospek bisnis ini masih cukup menantang hingga akhir tahun 2026. Meski demikian, peluang pemulihan tetap terbuka seiring dengan perbaikan kondisi pasar yang makin kondusif, volatilitas terkendali, likuiditas meningkat, dan kepercayaan investor kembali menguat.
Selain itu, pipeline IPO, rights issue, obligasi, maupun aksi korporasi lainnya bisa menjadi katalis apabila terealisasi pada paruh kedua tahun ini.
Oleh karenanya, Nafan melihat underwriting belum menjadi motor pertumbuhan utama bagi sebagian besar perusahaan sekuritas dalam jangka pendek. Kemampuan melakukan diversifikasi pendapatan serta menangkap peluang dari bisnis pasar sekunder akan menjadi faktor penting bagi perusahaan sekuritas dalam menjaga kinerja hingga akhir 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News