Minggu, 16 Agustus 2026 13:45 WIB
IPARI Kabupaten Sleman menggelar kegiatan Gelar Seni dan Budaya 2026 di SMK As-Syafi'i, Selasa (11/8). ANTARA/HO-Kemenag
Yogyakarta (ANTARA) - Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Sleman menggelar kegiatan Gelar Seni dan Budaya 2026 di SMK As-Syafi'i, Selasa (11/8), sebagai sarana memperkuat nilai-nilai moderasi dan kerukunan umat beragama melalui pendekatan kebudayaan.
Mengusung tema “Dengan Gelar Seni dan Budaya Kita Mantapkan Kerukunan Umat Beragama untuk Membangun Manusia yang Sejati” kegiatan ini diikuti anggota IPARI lintas agama se-Kabupaten Sleman, Pokjaluh/Pokbin masing-masing agama, unsur pondok pesantren, serta tokoh agama dan pemangku kepentingan lainnya.
Kepala Kantor Kemenag Sleman Nadhif mengapresiasi inisiatif IPARI yang menjadikan seni dan budaya sebagai medium memperkuat kerukunan dan menurutnya tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan kehidupan beragama saat ini, terutama dalam membangun kesadaran toleransi bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bersama dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.
“Saya ikut bahagia dan berterima kasih atas inisiatif kegiatan ini. Gelar seni budaya menjadi metode yang keren, relevan, dan relatif lebih familiar bagi generasi muda maupun masyarakat," katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pertunjukan seni, tetapi berlanjut pada pemahaman dan penguatan nilai-nilai moderasi beragama serta membekali para penyuluh agar semakin hadir di tengah masyarakat.
Indonesia, lanjutnya, memiliki keragaman agama, budaya dan tradisi yang menjadi kekuatan nasional sekaligus membutuhkan pengelolaan secara bijaksana dan dalam konteks tersebut, penyuluh agama di tengah masyarakat memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menyampaikan pesan keagamaan yang menyejukkan, membangun dialog, serta merawat persatuan.
Di sisi lain, Nadhif menyoroti tantangan baru yang dihadapi penyuluh agama di era digital. Aksesibilitas dan pola komunikasi masyarakat telah berubah, sehingga penyuluh dituntut mampu menghadirkan pesan-pesan keagamaan melalui media dan pendekatan yang sesuai dengan karakter masyarakat saat ini.
“Tantangan penyuluh hari ini bukan hanya bagaimana pesan disampaikan, tetapi bagaimana pesan itu dapat didengar, hadir, dan mendapatkan simpati masyarakat. Karena itu, kreativitas dalam membangun komunikasi menjadi penting," tegasnya.
Gelar Seni dan Budaya IPARI juga menjadi ruang kolaborasi lintas agama dan dalam kepengurusan IPARI Kabupaten Sleman terdapat empat bidang yang menopang penguatan peran penyuluh, yakni Bidang Moderasi Beragama, Seni dan Budaya, Sumber Daya Manusia, serta Pengabdian Masyarakat.
Keempat bidang tersebut diarahkan untuk memperkuat eksistensi penyuluh agar semakin responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh pemuka lintas agama dan unsur pemerintahan, di antaranya Ketua FKUB Yulianinongo tokoh lintas agama seperti Romo Bela Riantata dan Pendeta Bakoh Jatmiko serta Untung Waluyo sebagai narasumber. Hadir pula utusan yang mewakili Kapolresta Sleman.
Sementara itu, Staf Ahli Bupati Sleman Bidang Kesejahteraan Rakyat Samsul Bakri yang menyampaikan sambutan Bupati Sleman memberikan apresiasi atas kegiatan tersebut, karena kerukunan merupakan modal sosial sekaligus fondasi penting bagi pembangunan masyarakat Sleman secara utuh.
“Perbedaan suku, agama, dan ras bukan alasan untuk tidak bergerak bersama. Kerukunan adalah modal sosial dan fondasi pembangunan masyarakat Sleman seutuhnya,” ujarnya.
Ia menegaskan pembangunan infrastruktur sosial harus berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur fisik, sebab pemahaman moderasi beragama yang tepat, menurutnya, akan melahirkan kehidupan sosial yang indah melalui sikap saling menghargai hak orang lain.
“Sleman adalah masyarakat yang sangat kompleks dan dinamis. Mari kita jaga Sleman sebagai rumah bersama dengan sikap terbaik untuk kita semua,” pesannya.
Samsul juga mengingatkan masyarakat agar semakin bijak menghadapi derasnya arus informasi yang kerap beredar lebih cepat sebelum sempat diverifikasi, sehingga budaya tabayun perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum teruji kebenarannya.
Pewarta : N008
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026