Ini Kaki Kuda, Permainan Tradisional Khas Minahasa

calendar_today 21.08.2026 - person  - timer ~

Minahasa -

Minahasa di Sulawesi Utara punya permainan tradisional bernama kaki kuda. Bahan utamanya dari batok kelapa. Bagaimana cara mainnya ya?

Minahasa selama ini dikenal sebagai Bumi Nyiur Melambai. Pohon kelapa mudah dijumpai tumbuh dimana-mana.

Minahasa pun memiliki permainan tradisional berbahan tempurung kelapa yang dikenal sebagai kaki kuda. Biasanya permainan ini dilakukan oleh anak-anak sepulang sekolah atau pada sore hari di halaman rumah dan lapangan terbuka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di era serba digital seperti sekarang, permainan kaki kuda hanya dimainkan pada desa-desa yang jauh dari kota atau dimainkan pada event-event tertentu seperti lomba tujuh belasan.

Permainan kaki kuda adalah permainan adu ketangkasan. Para pemain berjalan menggunakan dua tempurung kelapa sebagai pijakan kaki yang diberi tali.

Permainan ini sangat bagus untuk melatih keseimbangan, koordinasi, dan kekuatan motorik anak. Permainan kaki kuda terbuat dari tempurung kelapa dan tali.

Cara membuatnya dua tempurung kelapa dibersihkan dari serabut. Lalu, haluskan permukaan tempurung dengan mengamplasnya agar nyaman saat dipijak.

Pada bagian tengah tempurung dibuat lubang kecil. Selanjutnya pasang tali dan buat simpul yang kuat di bagian dalam agar tali tidak lepas saat ditarik. Panjang tali disesuaikan dengan tinggi pemain.

Cara memainkannya, letakkan kedua batok kelapa di tanah yang datar. Pijak batok kelapa tersebut menggunakan kaki, dengan posisi tali berada di antara jari jempol dan telunjuk kaki.

Pegang ujung tali dengan kedua tangan dan tarik agar tali tetap tegang dan batok menempel erat pada telapak kaki. Mulai berjalan dengan melangkahkan kaki secara bergantian sambil menarik tali ke atas agar batok kelapa ikut terangkat dan melangkah maju.

Untuk melestarikan permainan kaki kuda, komunitas anak muda dan sekolah perlu rutin mengadakan kegiatan luar ruang untuk memperkenalkan kembali permainan ini agar tidak punah.

--------

Artikel ini ditulis Hari Suroto. Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara.

(wsw/wsw)