“Ini sangat bagus. Selain nasional, sekarang ASIOP mengadakan International Cup. Ini sudah yang ketiga dan bagus untuk pembinaan dari usia 10-12 tahun, 15 tahun, sampai 17 tahun,” ujar Indriyanto.
Ia menilai jenjang kelompok usia yang tersedia di GIC dapat membantu pemain maupun pelatih melihat perkembangan kemampuan mereka setelah menjalani proses latihan di klub masing-masing.
Bagi Indriyanto, pengalaman bertanding secara konsisten juga menjadi salah satu pembelajaran penting yang bisa didapatkan para pemain muda selama mengikuti turnamen seperti GIC.
Pasalnya, padatnya jadwal pertandingan akan menguji kemampuan pemain untuk mempertahankan performa dari satu laga ke laga berikutnya. Dalam sebuah turnamen, pemain bisa saja menjalani satu hingga dua pertandingan dalam sehari dan kembali bertanding pada hari berikutnya.
“Ini apa yang membuat mereka konsisten atau tidak di setiap pertandingannya. Seorang pelatih bisa memanajemen atau merotasi pemain, kemudian recovery-nya juga harus dijaga,” katanya.
Menurutnya, situasi tersebut bukan hanya menjadi pembelajaran bagi pemain, tetapi juga bagi jajaran kepelatihan. Turnamen internasional dapat menjadi sarana bagi pelatih untuk belajar menyiapkan tim secara lebih matang, terutama dalam aspek rotasi, pemulihan kondisi, dan persiapan pertandingan.
Kehadiran tim-tim dari luar Indonesia juga dinilai menjadi nilai tambah. Pemain muda Indonesia bisa mendapatkan pengalaman menghadapi karakter permainan yang berbeda dari tim-tim negara lain, termasuk China dan Vietnam.
Indriyanto menyebut pengalaman internasional seperti ini sangat dibutuhkan karena pemain usia muda Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan kompetisi domestik. Ia mencontohkan sejumlah turnamen kelompok usia di luar negeri yang selama ini menjadi tempat pemain muda mengasah pengalaman.
“Ini pengalaman buat anak-anak Indonesia. Selama ini mungkin ada Gothia Cup di Swedia, Gothia China, Singa Cup. Sebenarnya di Indonesia juga ada setiap tahunnya seperti Garuda International Cup. Ini penting,” tuturnya.
Indriyanto berharap GIC dapat ikut mendorong gairah pembinaan sepak bola akar rumput di Indonesia. Menurutnya, semakin sering pemain mendapatkan pengalaman bertanding di level internasional, semakin besar pula kesempatan mereka berkembang menuju sepakbola profesional.
Namun, pengalaman bertanding saja tidak cukup. Indriyanto mengingatkan para pemain muda agar tetap menjaga sikap, kondisi fisik, serta etos kerja setelah kembali ke klub masing-masing.
“Harus dijaga attitude-nya. Nanti dikembalikan ke tim masing-masing, pelatih juga bisa menerapkan apa yang mereka mau, filosofinya seperti apa. Mereka harus jaga attitude dan kondisi,” ujar mantan pemain Timnas Indonesia tersebut.
Ia juga meminta para pemain tidak cepat puas setelah mendapatkan pengalaman di GIC 2026. Usia mereka yang masih muda membuat perjalanan menuju level profesional masih sangat panjang dan membutuhkan konsistensi dalam menjalani latihan.
Indriyanto bahkan melihat pengalaman internasional seperti GIC dapat membuka wawasan pemain terhadap kemungkinan berkarier di luar negeri. Namun, peluang tersebut menurutnya hanya bisa diraih jika pemain memiliki kedisiplinan dan kemauan untuk terus berkembang.
“Semoga di Garuda International Cup ini mereka mendapatkan pengalaman yang terbaik buat masa depan. Kalau memang harus terjun di sepakbola, mereka bisa selalu memberikan yang terbaik. Cita-cita untuk bermain di luar negeri mungkin terbuka, tetapi mereka harus menjaga kondisi, menjaga attitude, selalu latihan, dan bekerja keras,” pungkasnya.