Oleh karena itu, investor perlu melihat konteks yang lebih luas dan tidak bertumpu pada satu indikator ekonomi
Jakarta (ANTARA) - Pelaku perdagangan aset kripto dalam negeri meminta investor mencermati dinamika pasar kripto menyusul inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih berada di atas target The Fed (Federal Reserved) sebesar 2 persen.
Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian menilai, investor perlu melihat perkembangan tersebut secara menyeluruh dan tidak menjadikan satu keputusan atau indikator sebagai satu-satunya acuan dalam membaca pasar kripto.
Dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, ia mengatakan, catatan rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis Federal Reserve Amerika Serikat pada 7 Oktober 2026 menunjukkan, pembuat kebijakan masih mencermati risiko inflasi. Dokumen tersebut merangkum rapat 15 – 16 September 2026 yang memutuskan kenaikan suku bunga acuan menjadi 3,75 – 4,00 persen.
Catatan rapat FOMC, lanjutnya, menunjukkan bahwa inflasi masih menjadi perhatian The Fed, namun, pergerakan aset kripto dipengaruhi banyak faktor, mulai dari likuiditas global, kondisi ekonomi, regulasi, hingga dinamika masing-masing aset.
"Oleh karena itu, investor perlu melihat konteks yang lebih luas dan tidak bertumpu pada satu indikator ekonomi,” ujarnya.
Menjelang rapat FOMC berikutnya pada 27 – 28 Oktober 2026, perekonomian A dinilai masih tumbuh solid dengan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif stabil.
Bagi investor, menurut Aloysia, perubahan ekspektasi suku bunga tetap menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi likuiditas dan minat terhadap aset berisiko, sehingga pasar masih akan memantau perkembangan data ekonomi untuk memperoleh arah kebijakan selanjutnya.
Sementara dari pasar domestik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah konsumen pedagang aset keuangan digital dan kripto mencapai 23,21 juta pada Agustus 2026, naik 1,23 persen dibandingkan Juli.
Nilai transaksi aset kripto pada periode yang sama mencapai Rp23,16 triliun, meningkat 12,87 persen secara bulanan.
Sejalan dengan tren tersebut, lanjut Aloysia volume transaksi Indodax mencapai Rp9 triliun pada periode yang sama, meningkat sekitar 20 persen secara bulanan.
Menurut diaa, pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan aset kripto domestik tetap berjalan baik di tengah dinamika kebijakan dan pasar global.
Ia menambahkan bahwa peningkatan ini perlu diiringi dengan literasi masyarakat yang memadai mengenai karakteristik aset kripto dan manajemen risiko.
"Melihat partisipasi masyarakat yang terus bertumbuh secara positif menunjukkan bahwa aset kripto semakin menjadi bagian penting dari perekonomian nasional," katanya.
Namun, tambahnya, hal itu juga menjadi pengingat bahwa investor tetap perlu melakukan riset mandiri, memahami risiko, dan tidak hanya berorientasi pada pergerakan pasar jangka pendek.
Baca juga: OJK: Transaksi aset kripto capai 23,21 juta akun, tumbuh 1,23 persen
Baca juga: OJK: Tujuh peserta "regulatory sandbox" telah selesai proses uji coba
Pewarta: Subagyo
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.