IHSG Sempat Anjlok 2%, Analis Ungkap Biang Kerok & Arahnya

calendar_today 29.09.2026 - person  - timer ~

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terseok-seok di zona merah pada perdagangan sesi I, Selasa (29/9/2026). Pada penutupan sesi I, IHSG turun 12,86 poin atau 0,21% ke level 6.135, setelah sempat menyentuh level terendah dan anjlok hingga 2%.

Sepanjang perdagangan sesi I hari ini, sebanyak 451 saham melemah, 262 saham tidak bergerak, dan hanya 250 saham yang menguat. Kondisi tersebut turut menekan pergerakan IHSG di tengah volatilitas pasar yang cukup tinggi.

Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan koreksi IHSG masih relatif sejalan dengan analisis teknikal. Menurut dia, pola pergerakan IHSG masih berada dalam fase downtrend.

"Dari sisi sentimen sendiri, dari mayoritas pergerakan bursa global dan regional cenderung terkoreksi," ujar Herditya kepada CNBC Indonesia, Selasa, (29/9/2026).

Di sisi lain, harga minyak mentah terpantau menguat di rentang US$93-99 per barel, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di level 5,24%, sedangkan DXY berada di level 101.

Herditya menyebut level support IHSG berada di 6.041, sedangkan resistance berada di 6.196. Level-level tersebut menjadi area yang perlu dicermati untuk melihat arah pergerakan indeks selanjutnya.

Sementara itu, laporan riset Phintraco Sekuritas mencatat foreign flow di pasar reguler mengalami net sell Rp365,88 miliar. Nilai tersebut berasal dari transaksi beli asing sebesar Rp2,62 triliun dan transaksi jual sebesar Rp2,99 triliun.

Penjualan asing terbesar tercatat pada saham ADMF, BMRI, BBCA, TLKM, dan ADRO. Sementara itu, pembelian asing terbesar terjadi pada BBRI, TPIA, ASII, EMAS, dan DSSA, yang menunjukkan aksi asing masih berupa rotasi selektif dan tidak bersifat broad-based selling.

Secara teknikal, Phintraco Sekuritas menilai area 6.000 menjadi level kunci bagi IHSG. Jika IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, terdapat peluang technical rebound menuju gap 6.240 dengan resistance berikutnya di kisaran 6.300-6.400.

Namun, rebound tersebut masih terbatas dan belum mengindikasikan adanya pembalikan tren. Jika level 6.000 ditembus, risiko pelemahan menuju support Fibonacci di level 5.854 tetap perlu diwaspadai.

"Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh konfirmasi price action, peningkatan volume transaksi, serta perbaikan market breadth. Sentimen global, pergerakan yield AS, dan dinamika rupiah juga tetap menjadi katalis utama yang perlu dicermati," sebagaimana dikutip dari laporan tertulisnya.

Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sebesar 231 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp7,34 triliun. Rentang pergerakan harian yang cukup lebar, sekitar 137 poin dari titik terendah ke tertinggi, mencerminkan tingginya volatilitas dan sikap hati-hati pelaku pasar.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]