IHCBS 2026: Produktivitas SDM Indonesia Tertinggal dari ASEAN, AI Jadi Kunci Transformasi Human Capital

calendar_today 12.08.2026 - person  - timer ~

Warta Ekonomi, Jakarta -

Indonesia Human Capital and Beyond Summit (IHCBS) 2026 kembali digelar. Konferensi ini diharapkan mampu mendorong perubahan paradigma pengelolaan sumber daya manusia (SDM), dari sekadar human resources menjadi human capital sebagai penggerak produktivitas nasional.

Chairman of the Steering Committee GNIK, Yunus Triyonggo, mengatakan peningkatan produktivitas tenaga kerja Indonesia semakin mendesak di tengah percepatan perkembangan kecerdasan artifisial (AI) dan transformasi digital. Menurutnya, produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN dan berada sekitar 10 persen di bawah rata-rata kawasan.

"Kalau dibandingkan Malaysia, satu jam pekerja kita di Indonesia menghasilkan 13–15 dolar AS, sementara Malaysia sudah 26–27 dolar AS," ujar Yunus dalam Media Day IHCBS 2026 di Wayang Bistro, Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Yunus menilai kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas SDM tidak cukup dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan konvensional. Penguatan kompetensi harus disertai kemampuan menciptakan nilai tambah, beradaptasi dengan teknologi, serta meningkatkan produktivitas.

Ia juga menyoroti kesenjangan produktivitas Indonesia dengan Jepang yang dinilai masih sangat lebar. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan IHCBS tidak ingin berhenti sebagai forum diskusi tahunan.

"Beyond berarti kita melihat human capital tidak hanya sebagai human resources, tetapi sebagai potensi bangsa untuk meningkatkan produktivitas," katanya.

IHCBS 2026 dijadwalkan berlangsung pada 15–16 September 2026 dengan target sekitar 6.000 peserta, hampir dua kali lipat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.

Yunus menegaskan IHCBS dirancang sebagai movement atau gerakan yang menghasilkan aksi nyata setelah forum berakhir. Agenda tersebut akan dikaitkan dengan blueprint pembangunan SDM yang berfokus pada dua aspek utama, yaitu employability dan entrepreneurial capability.

"Setiap tahun kita akan memperbarui apa yang sudah dikerjakan dan apa target utama yang harus dijalankan," ujarnya.

Pendekatan tersebut sekaligus merespons kritik bahwa banyak forum dan konferensi berhenti pada diskusi tanpa menghasilkan perubahan nyata. Karena itu, IHCBS berupaya mengukur keberhasilan bukan hanya dari jumlah peserta, tetapi juga dari output dan dampak yang dihasilkan.

Selama dua tahun penyelenggaraan sebelumnya, IHCBS diklaim telah menjangkau sekitar 300.000 SDM di Indonesia melalui berbagai program pengembangan kompetensi, termasuk pelatihan AI gratis bagi lebih dari 20.000 orang. Tahun ini, penyelenggara juga menyiapkan sebuah buku sebagai salah satu bentuk legacy. Materi dan gagasan yang muncul selama forum akan dirangkum dengan bantuan AI sebelum diverifikasi oleh para ahli.

"Target kita bukan hanya aktivitas, tetapi juga output dan outcome. Setelah acara ini harus ada gerakan yang benar-benar bisa dirasakan," kata Suwardi Luis, Founder dan CEO GML sekaligus Founder QuBisa.

IHCBS 2026 mengusung tema Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity. Tema tersebut menempatkan AI dan digitalisasi bukan sebagai pengganti manusia, melainkan instrumen untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas manusia.

Suwardi menjelaskan terdapat tiga elemen utama yang hendak dipertemukan, yaitu people, technology, dan purpose. Teknologi, kata dia, harus diarahkan pada tujuan yang jelas, yakni meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan, dengan tetap ditopang kemampuan SDM.

"AI dan digitalisasi harus berorientasi pada tujuan dan digawangi oleh kapabilitas human capital," ujarnya.

Pendekatan itu dinilai semakin penting karena dunia kerja kini menghadapi kemunculan berbagai teknologi baru, mulai dari AI assistant, augmented AI, hingga agentic AI. Tanpa peningkatan kompetensi, pekerja berisiko hanya menjadi penonton dalam perubahan teknologi.

Karena itu, IHCBS 2026 akan memperluas agenda dari tujuh menjadi delapan track, menghadirkan sesi yang membahas keterampilan praktis, serta menyediakan Digitalization Zone yang melibatkan sekitar 100 penyedia solusi di bidang HR, AI, dan digitalisasi.

Format spotlight stage juga disiapkan untuk menghadirkan paparan singkat selama 10–15 menit yang berisi solusi dan tips praktis agar peserta dapat langsung mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh.

Transformasi IHCBS juga terlihat dari semakin luasnya ekosistem yang dilibatkan. Tahun ini, penyelenggara menargetkan keterlibatan 102 komunitas dan asosiasi HR dari berbagai wilayah Indonesia. Komunitas tersebut akan menjadi bagian dari Indonesia Human Resources Ecosystem, yang diharapkan menjadi wadah kolaborasi para pengelola SDM lintas sektor.

Yunus mengatakan pendekatan pentahelix juga diperkuat melalui keterlibatan pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan komunitas.

"Kita ingin membangun unity di antara para pengelola HR," ujarnya.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menjawab persoalan yang selama ini belum tuntas, termasuk kesenjangan antara kebutuhan industri dengan kompetensi lulusan SMK, politeknik, dan perguruan tinggi. Di tengah perkembangan AI, menurut Yunus, persoalan upskilling, reskilling, dan link and match harus dijawab melalui aksi yang lebih konkret.

Dukungan terhadap IHCBS 2026 juga datang dari sektor kesehatan dan pengembangan kompetensi. Associate Director Marketing & Sales Mayapada Hospital Group, Michelle C. Tjindarbumi, mengatakan produktivitas SDM tidak dapat dilepaskan dari kesehatan fisik dan mental.

Menurut dia, perusahaan membutuhkan SDM yang sehat agar produktivitas dapat dipertahankan. Karena itu, Mayapada Hospital Group akan membawa isu pemanfaatan AI dalam layanan kesehatan, termasuk sistem AI untuk pemeriksaan kesehatan.

"Kami ingin menjadi mitra bagi korporasi dan human capital, bukan hanya dalam aspek kuratif, tetapi juga preventif dan, dengan AI, menjadi prediktif, sehingga produktivitas tetap terjaga," ujarnya.

Sementara itu, GM Business Support International Test Center, Yeni Widiyasari, menilai kompetensi bahasa Inggris tetap penting di tengah perkembangan AI. Menurutnya, kemampuan berbahasa Inggris dan sertifikasi berstandar internasional tetap diperlukan agar tenaga kerja mampu beradaptasi dengan teknologi dan lingkungan kerja global.

Rangkaian agenda tersebut menunjukkan bahwa IHCBS 2026 tidak hanya membahas masa depan pekerjaan, tetapi juga mendorong ekosistem SDM untuk mengambil peran aktif dalam membentuknya.

Dengan target 6.000 peserta, keterlibatan 102 komunitas HR, delapan track, dan sekitar 100 penyedia solusi HR, AI, serta digitalisasi, IHCBS 2026 diarahkan menjadi ruang untuk mengubah diskusi tentang SDM menjadi aksi yang terukur dan berkelanjutan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.