IFC: Digitalisasi buka akses pasar yang naikkan kesejahteraan pembatik

calendar_today 03.10.2026 - person  - timer ~

Digitalisasi membantu memotong jalur distribusi yang panjang, sehingga perajin daerah bisa langsung terhubung dengan pembeli kota besar bahkan luar negeri.

Jakarta (ANTARA) - Desainer dan National Chair Indonesia Fashion Chamber (IFC) Lenny Agustin menilai digitalisasi membuka peluang bagi perajin batik di daerah untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan kesejahteraan pembatik dengan menghubungkan mereka secara lebih langsung dengan konsumen di kota besar hingga pasar internasional.

Lenny mengatakan pemanfaatan platform digital seperti media sosial, e-commerce, dan live shopping dapat membantu memperpendek jalur distribusi produk batik dari perajin menuju konsumen.

“Platform digital adalah game changer. Digitalisasi membantu memotong jalur distribusi yang panjang, sehingga perajin daerah bisa langsung terhubung dengan pembeli kota besar bahkan luar negeri,” kata Lenny kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, akses pasar yang lebih luas melalui kanal digital dapat menjadi peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi produk batik sekaligus memperkuat posisi perajin dalam rantai industri fashion.

Selain menjadi kanal penjualan, platform digital juga dapat dimanfaatkan untuk membangun pemahaman konsumen mengenai proses dan nilai yang terdapat di balik produk batik.

Lenny mengatakan konten visual melalui platform digital dapat digunakan untuk menceritakan proses pembuatan batik kepada konsumen, termasuk kerumitan proses manual dan keterampilan yang dibutuhkan perajin.

“Platform digital menjadi sarana edukasi visual yang sangat efektif untuk menceritakan proses pembuatan batik kepada audiens global,” ujarnya.

Menurut Lenny, edukasi tersebut penting karena batik tulis memiliki karakter produksi yang berbeda dengan produk fashion massal.

Proses pembuatan batik tulis membutuhkan waktu dan keterampilan tangan melalui sejumlah tahapan, sehingga produk tersebut tidak tepat jika hanya dibandingkan berdasarkan harga dengan produk fast fashion.

Karena itu, menurut Lenny, strategi pengembangan batik perlu menekankan nilai produk, termasuk aspek eksklusivitas dan proses pembuatannya, agar konsumen memahami perbedaan antara batik sebagai karya budaya dengan tekstil bermotif batik hasil printing.

"Ketika konsumen paham value di balik sehelai kain, mereka tidak akan keberatan membayar harga yang lebih tinggi," kata Lenny.

Di sisi lain, digitalisasi juga dapat mendukung keberlanjutan industri batik dengan memperluas basis konsumen dan membuka peluang pasar baru bagi perajin. Namun, keberlanjutan industri batik juga harus dibarengi dengan peningkatan sumber daya manusia yang mau melakukan pembuatan batik tulis atau cpa tradisional yang butuh proses panjang.

Lenny menilai peningkatan minat generasi muda untuk meneruskan profesi pembatik penting untuk menjaga pasar industri batik dan juga memperkuat kesejahteraan perajin.

"Kita perlu menaikkan taraf kesejahteraan ekonomi perajin agar profesi ini kembali dilirik oleh anak muda sebagai profesi yang membanggakan dan keren," kata Lenny.

Baca juga: IFC: Pelestarian batik harus diiringi inovasi dan diversifikasi produk

Baca juga: APPMI Jatim: Pemahaman nilai batik penting jaga keberlanjutan industri

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.