Marah Khaled Al-Za anin (18), seorang pengungsi Palestina, melukis salah satu karya seninya di dalam tendanya di tempat penampungan Sekolah Al-Rimal, Jalur Gaza, Rabu (28/1/2026). Marah mengubah tenda pengungsiannya menjadi galeri seni kecil tempat ia memajang karya-karyanya setelah rumahnya hancur selama perang Israel di Gaza.
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Kementerian Pendidikan Palestina melaporkan, tentara Israel telah membunuh lebih dari 800 guru Palestina dan melukai lebih dari 3.300 lainnya di Jalur Gaza sejak awal perang genosida pada Oktober 2023.
Dilansir dari Palestine Chronicle, pernyataan tersebut dirilis menjelang peringatan Hari Guru Sedunia yang diperingati setiap 5 Oktober. Kementerian memperingatkan bahwa para pendidik Palestina saat ini berjuang keras mempertahankan akses pendidikan di tengah penargetan secara sistematis oleh pasukan pendudukan.
Guru-guru di seluruh wilayah pendudukan Palestina dinilai tengah menghadapi "pertempuran nyata untuk bertahan hidup" demi melindungi hak atas pendidikan. Kementerian menggambarkan kehancuran serta serangan yang menghantam sektor pendidikan di Gaza dan Tepi Barat sebagai bentuk "genosida menyeluruh."
Selain korban jiwa dan luka-luka, kementerian juga menyoroti penahanan para pendidik. Lebih dari 170 guru hingga kini masih mendekam di penjara-penjara Israel. Mereka berada dalam kondisi yang sangat buruk.
Data tersebut merinci besarnya kerugian tenaga pengajar, di samping tekanan bertubi-tubi yang dihadapi mereka yang berusaha tetap mengajar, mulai dari pembatasan ruang gerak hingga krisis keuangan.
Kementerian Pendidikan Palestina menyebutkan, pembatasan gerak dan pelecehan di ratusan pos pemeriksaan (checkpoint) Israel makin memperberat penderitaan harian para guru di Tepi Barat yang diduduki.
Kondisi terparah dialami para tenaga pengajar di Masafer Yatta (selatan Hebron/Al-Khalil), Al-Mughayyir (Tepi Barat tengah), Lembah Yordan, serta komunitas-komunitas di Area C.
Berdasarkan Perjanjian Oslo II 1995 yang sejatinya dirancang sebagai kesepakatan sementara, Tepi Barat dibagi menjadi tiga wilayah: Area A, B, dan C. Area A berada di bawah kendali sipil dan keamanan Palestina.
Area B berada di bawah administrasi sipil Palestina dan kontrol keamanan Israel. Sementara itu, Area C—yang mencakup sekitar 60 persen dari total wilayah Tepi Barat—sepenuhnya berada di bawah kendali Israel.