Harga Minyak Dunia Tembus US$103, Trump Bikin Pasar Kembali Tegang

calendar_today 30.09.2026 - person  - timer ~

Rabu, 30 September 2026 - 16:30 WIB

VIVA – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu, 30 September 2026, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan yang menyebut dirinya bersedia melonggarkan sanksi terhadap Iran. 

Baca Juga

Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi perkembangan negosiasi antara AS dan Iran serta pemulihan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mengutip Reuters, harga minyak Brent untuk kontrak November yang berakhir pada Rabu naik 71 sen atau 0,69 persen menjadi US$103,30 per barel, setara sekitar Rp1,85 juta per barel dengan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS. Sementara itu, kontrak Brent Desember yang lebih aktif naik 35 sen menjadi US$96,51 per barel atau sekitar Rp1,73 juta.

Baca Juga

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik 43 sen atau 0,48 persen menjadi US$89,81 per barel, setara sekitar Rp1,61 juta per barel.

Kenaikan harga terjadi setelah Trump membantah laporan Axios yang mengutip pejabat AS mengenai kemungkinan pemberian keringanan sanksi kepada Iran serta pelepasan dana Iran yang dibekukan. Langkah tersebut disebut dapat dilakukan sebagai imbalan atas langkah konkret Teheran terkait program nuklirnya.

Baca Juga

“Ketidakpastian yang berkelanjutan mengenai keringanan sanksi dan negosiasi membuat premi risiko geopolitik tetap tertanam dalam harga,” kata Sugandha Sachdeva, pendiri perusahaan riset SS WealthStreet yang berbasis di New Delhi.

“Peningkatan pasokan dapat membatasi kenaikan lebih lanjut, tetapi gangguan baru atau eskalasi ketegangan dapat memicu reli lainnya,” lanjutnya.

Di sisi lain, Qatar menyatakan harapan bahwa upaya diplomasi antara Iran dan AS dapat menghasilkan terobosan. Perkembangan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena keberhasilan negosiasi berpotensi memengaruhi risiko pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Kenaikan pada Rabu turut memperkuat performa minyak Brent sepanjang September. Brent diperkirakan mencatat kenaikan sekitar 14 persen dalam sebulan, menjadi penguatan bulanan terbesar sejak Juli.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, WTI berada di jalur kenaikan sekitar 4 persen sepanjang September. Harga WTI sebelumnya sempat menembus US$106 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.

Perbedaan harga antara kedua acuan minyak tersebut juga melebar hingga level terluas dalam empat bulan. Salah satu faktor yang diperhatikan pasar adalah rencana potensial AS membatasi ekspor diesel.

Halaman Selanjutnya

Pembatasan tersebut dikhawatirkan menciptakan kelebihan pasokan diesel di pasar domestik AS. Kondisi itu pada akhirnya dapat mendorong kilang minyak AS mengurangi pemrosesan minyak mentah.