Liputan6.com, Madrid - Aparat keamanan di Ceuta, wilayah kantong Spanyol di pesisir utara Afrika yang berbatasan langsung dengan Maroko, mengaku kewalahan menghadapi lonjakan kedatangan migran. Anggota Kepolisian Nasional dan Garda Sipil Spanyol yang bertugas di sana mengatakan situasi tersebut telah berlangsung selama sepekan dan memperingatkan bahwa kemampuan aparat menanganinya berada di ambang kelumpuhan.
Mereka menilai situasinya lebih buruk daripada krisis migrasi pada Mei 2021 dan khawatir keadaan tersebut tidak akan berakhir dalam dua hari.
Situasi ini terjadi setelah Mahkamah Agung Spanyol pada awal Juli 2026 melarang aparat langsung memulangkan migran yang telah memasuki wilayah Spanyol melalui laut.
Mahkamah Agung menyatakan bahwa pemulangan cepat di perbatasan, yang dikenal sebagai "hot returns", hanya boleh dilakukan terhadap migran yang berusaha masuk dengan memanjat pagar perbatasan atau melewati penghalang fisik lainnya.
Ribuan orang yang berhasil memasuki Spanyol pekan ini saling berpelukan, mengacungkan tanda kemenangan, dan meminta pakaian kering. Sebagian lainnya terus menyusuri jalan, kemungkinan untuk mencari tempat penampungan terdekat.
Pada Kamis (30/7/2026), layanan darurat menyatakan kewalahan dan mengatakan hanya dapat memberikan pertolongan kepada orang-orang yang terluka.
Kepala pemerintahan Ceuta, Juan Vivas, menyebut wilayahnya tengah menghadapi darurat kemanusiaan dan sosial total. Ia meminta pemerintah pusat Spanyol turun tangan dan menetapkan status darurat nasional.
Menghadapi lonjakan kedatangan secara tiba-tiba tersebut, Kementerian Dalam Negeri Spanyol pada Kamis menyatakan mengerahkan lebih banyak sumber daya, sarana, dan personel.
Namun, sejumlah petugas yang diwawancarai EL PAIS menegaskan bahwa situasi tersebut tidak akan dapat diatasi hanya dengan mengirimkan lebih banyak personel.
Kementerian Dalam Negeri turut menepis keraguan mengenai dugaan kurangnya kerja sama dari Maroko, seperti yang terjadi dalam krisis migrasi pada Mei 2021.
"Pemerintah Maroko terus bekerja sama dengan Spanyol secara berkelanjutan dan dengan iktikad baik, serta berkoordinasi erat untuk menangani situasi ini. Tindakan aparat keamanan Maroko telah mencegah kedatangan banyak orang yang berusaha mencapai Ceuta dari wilayah Maroko," kata kementerian tersebut, seperti dilaporkan EL PAIS.
Rachid Sbihi, sekretaris jenderal AUGC untuk wilayah Ceuta, menggambarkan kondisi yang dihadapi aparat di lapangan. AUGC merupakan serikat terbesar di lingkungan Garda Sipil.
"Jalan yang kami kenal sebagai jalan baru, yang membentang dari pemecah gelombang menuju kota, sepenuhnya dipenuhi migran," tutur Sbihi.
Menurut dia, sekitar 12 petugas pada Kamis pagi tidak mampu mengendalikan 300 migran yang sedang mereka awasi setelah diselamatkan di laut.
"Mereka melarikan diri dan tidak ada cara untuk menghentikan mereka. Kami tidak tahu harus berbuat apa. Situasinya kritis," ujarnya.
Situasi tersebut juga telah menelan banyak korban jiwa. Sbihi mengatakan aparat telah mengevakuasi lebih dari 25 jenazah migran dalam beberapa hari terakhir. Para migran itu tenggelam ketika berusaha berenang menuju Ceuta.