Gunung ‘Bahtera Nuh’ mulai Dibor

calendar_today 27.09.2026 - person  - timer ~

Jakarta -

Sebuah gunung berbentuk kapal yang berada di Turki ini dipercaya sebagai lokasinya Bahtera Nuh. Saat ini pengeboran telah mulai dilakukan dan mendapatkan izin dari pemerintah dan kampus-kampus di Turki.

Diberitakan New York Post, Minggu (27/9/2026) para peneliti mulai melakukan pengeboran dengan harapan akan mengungkap jawaban atas salah satu misteri terbesar. Anggota ekspedisi 'Noah's Ark Scans' meyakini bahwa formasi Durupinar, yang terletak di Turki timur dekat Gunung Ararat, bisa jadi merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi kapal yang digambarkan dalam Kitab Kejadian.

"Selamat pagi dari tepian luar Bahtera Nuh," tulis direktur pemasaran dan penggalangan dana proyek tersebut, aktivis Kristen yang kontroversial Lauren Witzke, di akun Facebooknya pada hari Selasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Witzke mengatakan bahwa ekspedisi tersebut telah mendapat persetujuan pemerintah Turki dan pengawasan dari universitas-universitas setempat, serta melibatkan beberapa ahli.

Witzke adalah sosok yang kontroversial dalam dunia politik Amerika. Mantan kandidat Senat ini secara terbuka menyatakan dirinya sebagai penganut teori Bumi datar, pernah menyuarakan dukungan terhadap teori konspirasi sayap kanan QAnon, dan pernah menyebut vaksin Covid sebagai konspirasi setan.

Meskipun Witzke menangani publisitas bagi tim tersebut, tim ini juga mencakup para arkeolog dan ahli geologi sungguhan dari berbagai penjuru dunia, seperti Direktur Proyek Dr. Cenker Atila dari Universitas Sivas Cumhuriyet di Turki.

Pengeboran gunung yang dipercaya lokasi akhir dari Bahtera Nuh di TurkiPengeboran gunung yang dipercaya lokasi akhir dari Bahtera Nuh di Turki Foto: (Lauren E Witzke/Facebook)

Sejarah yang penuh perdebatan

Selama bertahun-tahun, banyak peneliti telah mengunjungi situs 'bahtera' yang kontroversial ini dan menarik kesimpulan yang sangat beragam.

Formasi Durupinar ditemukan secara resmi pada tahun 1959, ketika seorang kapten Angkatan Darat Turki mengabadikannya dalam foto udara saat sedang memetakan wilayah tersebut.

Peneliti setempat melakukan survei, penggalian, dan peledakan menggunakan dinamit, namun tidak menemukan bukti arkeologis apa pun dan menyimpulkan bahwa formasi tersebut hanyalah anomali alami.

Para ahli geologi modern sependapat; mereka umumnya memandang situs tersebut sebagai pegunungan berbentuk kapal yang terbuat dari batu kapur dan tanah liat vulkanik yang terbentuk akibat erosi.

Setelah penyelidikan awal tersebut, situs "bahtera" itu sempat terlupakan hingga tahun 1980-an, ketika pakar penyelamatan asal Amerika, David Fasold, menggunakan radar penembus tanah untuk memeriksa lokasi tersebut. Ia pun menjadi yakin bahwa dirinya sedang melihat sisa-sisa fosil geladak atas sebuah kapal.

Fasold mengukur panjang formasi tersebut dan mendapati angkanya mencapai 164 meter, angka yang mendekati ukuran panjang bahtera sebesar 300 hasta (157 meter) sebagaimana disebutkan dalam Alkitab.

Ada pula temuan berupa batu jangkar (drogue stones): batu-batu besar berukir yang tersebar di sebelah barat laut situs dengan lubang yang dibuat pada bagian ujung atasnya. Fasold meyakini batu-batu itu adalah jangkar laut kuno yang dilepaskan dari bahtera saat air bah surut.

Namun, pihak yang skeptis berpendapat bahwa batu-batu tersebut hanyalah penanda peringatan atau batu nisan kuno.

Bertahun-tahun setelah penelitiannya di Durupinar, Fasold mulai mengubah pandangannya; ia secara terbuka menolak teori bahtera tersebut dan menyebutnya sebagai omong kosong belaka. Namun, rekan sekaligus penulis biografinya yang berasal dari Australia, June Dawes, bersikeras bahwa ia meninggal dunia dengan keyakinan telah menemukan bahtera tersebut.

Apa yang dilakukan dalam ekspedisi tahun 2026 ini?

Dalam beberapa tahun terakhir, lokasi tersebut kembali diperiksa menggunakan radar penembus tanah (ground-penetrating radar) oleh ekspedisi Noah's Ark Scans. Mereka mengklaim telah memetakan struktur yang tampak seperti koridor dan ruangan di bawah permukaan tanah, termasuk satu lorong yang membentang lebih dari 250 kaki (sekitar 76 meter).

Langkah selanjutnya adalah melakukan pengeboran inti yang sempit menuju ruang-ruang tersebut dan mengirimkan Gopher, sebuah robot bawah tanah yang dirancang untuk menjangkau area yang tidak dapat dimasuki manusia.

Gopher telah dilengkapi dengan peralatan untuk mengambil rekaman beresolusi tinggi serta sampel tanah dari bawah permukaan.

Robot ini dirancang oleh seorang insinyur asal Australia, Dr. Robert Ross dari Universitas La Trobe. Pihak penyelenggara penggalangan dana Noah's Ark Scans menyatakan bahwa proyek ini membutuhkan dana sebesar USD 600.000 untuk memulai pengeboran.

Hingga hari Selasa, dana yang terkumpul baru sebagian kecil dari jumlah tersebut; namun rekaman drone yang dibagikan oleh Witzke tampaknya menunjukkan bahwa kegiatan pengeboran telah dimulai.

Saat ini, ekspedisi tersebut berpacu dengan waktu sebelum datangnya musim dingin, yang akan membekukan tanah dan memaksa para peneliti untuk menghentikan operasi hingga tahun depan.

Mungkin hanya tinggal menunggu waktu sampai Gopher akhirnya menuntaskan misteri Durupinar yang telah lama diperdebatkan.

Halaman 2 dari 2

Simak Video "Video: Tradisi Perang Cendol Dawet Agar Hujan Turun di Temanggung Jateng"
[Gambas:Video 20detik] (sym/ddn)