Gudang Garam bukukan laba Rp2,97 triliun meski pendapatan turun

calendar_today 10.09.2026 - person  - timer ~

Jakarta (ANTARA) - PT Gudang Garam Tbk membukukan laba Rp2,976 triliun pada semester I 2026, meningkat Rp120 miliar dari periode sama setahun sebelumnya, meski pendapatan perseroan turun 7,2 persen.

Direktur Gudang Garam Heru Budiman mengatakan perbaikan laba ditopang antara lain oleh penyesuaian harga jual, penurunan beban usaha, serta berkurangnya biaya bunga.

"Di profitnya, ini menunjukkan perbaikan yang sebetulnya terjadi karena timing kenaikan harga," kata Heru dalam Public Expose Live 2026 di Jakarta, Kamis.

Heru menjelaskan sebagian besar kenaikan harga pada 2025 dilakukan pada paruh kedua tahun tersebut.

Dengan demikian, perseroan memasuki semester I 2026 dengan tingkat harga jual yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ditambah penyesuaian harga pada awal 2026.

"Kenaikan harga di 2025 lebih banyak terjadi di paruh kedua tahun 2025. Sehingga tahun 2026 harga awal paruh pertama 2026 sudah lebih tinggi, ditambah dengan kenaikan harga yang terjadi di tahun 2026 ini," ujarnya.

Pendapatan Gudang Garam sepanjang Januari-Juni 2026 tercatat Rp41,177 triliun, turun dari Rp44,369 triliun pada periode yang sama tahun lalu, terutama sejalan dengan volume penjualan yang berkurang 13,6 persen.

Volume penjualan perseroan turun menjadi 20,5 miliar batang pada semester I 2026 dari 23,7 miliar batang pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski pendapatan menurun, beban pokok pendapatan berkurang lebih dalam, yakni 13,3 persen menjadi Rp35,192 triliun dari Rp40,581 triliun. Kondisi tersebut membuat laba bruto meningkat 58 persen menjadi Rp5,986 triliun dari Rp3,788 triliun.

Margin laba bruto perseroan pun meningkat menjadi 14,5 persen dari 8,5 persen pada semester I 2025. Materi perseroan menyebut perbaikan margin tersebut ditopang kenaikan harga jual.

Pada saat yang sama, beban usaha yang mencakup biaya penjualan, umum, dan administrasi turun 33,8 persen menjadi Rp2,262 triliun dari Rp3,419 triliun.

Perseroan mencatat penurunan antara lain berasal dari biaya pemasaran dan kompensasi karyawan.

"Penurunan ini terutama terjadi karena berkurangnya aktivitas selling expense alias marketing," ucap Heru.

Beban bunga juga menyusut menjadi Rp5 miliar dari Rp219 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya sejalan dengan berkurangnya tingkat pinjaman.

Kombinasi perubahan tersebut membuat margin laba meningkat menjadi 7,2 persen dari 0,3 persen.

Dari sisi neraca, posisi kas perseroan mencapai Rp8,720 triliun per 30 Juni 2026, meningkat 119,7 persen dibandingkan Rp3,970 triliun pada tanggal yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, persediaan turun 14,2 persen menjadi Rp31,763 triliun dari Rp37,034 triliun.

Heru menjelaskan penurunan persediaan mengikuti berkurangnya pembelian bahan baku sejalan dengan penurunan volume penjualan, bukan merupakan langkah khusus perseroan untuk mengurangi persediaan.

Total aset Gudang Garam tercatat Rp77,787 triliun pada akhir Juni 2026, turun 2,5 persen dibandingkan Rp79,801 triliun setahun sebelumnya. Total liabilitas juga turun 26,4 persen menjadi Rp13,779 triliun dari Rp18,726 triliun.

Pinjaman bank jangka pendek yang tercatat Rp5,205 triliun pada 30 Juni 2025 telah menjadi nihil pada 30 Juni 2026.

Pada saat yang sama, ekuitas meningkat 4,8 persen menjadi Rp64,008 triliun dari Rp61,075 triliun.

Penurunan liabilitas dan peningkatan ekuitas membuat rasio total liabilitas terhadap ekuitas turun menjadi 21,5 persen dari 30,7 persen pada akhir Juni tahun sebelumnya.

Terkait kebijakan dividen, Heru mengatakan perseroan akan mempertimbangkan pembagian dividen apabila dana yang tersedia tidak diperlukan untuk kebutuhan perusahaan.

"Kalau memang uang itu tidak diperlukan, ya tentunya akan dipertimbangkan untuk membayar dividen," ujarnya.

Pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) 2026 yang membahas tahun buku 2025, Gudang Garam sebelumnya memutuskan pembagian dividen Rp800 per saham dengan nilai total sekitar Rp1,6 triliun.

Perseroan belum menyampaikan besaran dividen untuk tahun buku berikutnya.

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.