Bandung (ANTARA) - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menantang Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jawa Barat untuk membumikan ilmu menjadi karya dan inovasi nyata bagi publik.
Pasalnya, kata Dedi dengan tradisi insan akademik yang kerap menjadikan gelar pendidikan sebatas pemenuhan administratif normatif, selama ini masih ada jarak lebar antara tingginya pemikiran akademisi di ruang seminar dengan realitas kompleksitas persoalan masyarakat di lapangan, termasuk di lingkungan perkotaan sekitar pusat pendidikan.
"Akademik di kita sering kali bersifat normatif administratif untuk memenuhi gelar, tanpa ada kejujuran dan keadilan serta tidak menjunjung nilai-nilai kebenaran," kata Dedi Mulyadi di Bandung.
Dedi menekankan bahwa persoalan bangsa tidak cukup diselesaikan melalui pergantian rezim atau tambal sulam regulasi, melainkan butuh aksi nyata berbasis nilai kebudayaan Nusantara yang mampu menerjemahkan gagasan besar ke dalam solusi praktis.
Ia mendorong para intelektual Muslim untuk mentransformasikan diri dari sekadar pemikir menjadi pencipta yang menghasilkan dampak terukur di berbagai sektor kehidupan warga.
"Kalau sudah pencipta, maka harus ada yang diciptakan. Bisa menciptakan lagu, karya arsitektur, sistem pendidikan, sistem aplikasi, sistem energi. Seluruh bahasa yang langit itu harus dijelaskan dalam bahasa bumi," ucapnya.
Merujuk pada filosofi kepemimpinan pewayangan Semar, Gubernur yang akrab disapa KDM ini mengingatkan KAHMI agar para alumni perguruan tinggi tidak ragu turun ke strata masyarakat paling bawah demi menggerakkan peradaban.
"Bagi seorang Semar, tinggal di kahyangan memang terhormat, memang tinggi. Tapi tidak ada arti karena tidak bisa mengubah. Tapi dengan menjadi seorang kepala desa, dia bisa mengubah sebuah peradaban," ujar Dedi menambahkan.
Pewarta: RPG
Editor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.