Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti mengungkapkan sejumlah faktor yang membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tertekan dan menembus lebih dari 18.000 per dolar AS.
Destry menuturkan, kondisi global masih diwarnai volatilitas tinggi, termasuk akibat inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih berada di atas target dan prospek suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer. Tantangan bagi rupiah lainnya yakni perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral AS, yakni Federal Reserve (The Fed).
“Sehingga itu menjadi salah satu tantangan buat rupiah kita,” kata Destry dalam konferensi pers usai rapat terbatas ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10).
Destry mengklaim, bank sentral dapat mengantisipasi sejumlah kondisi yang menekan nilai tukar rupiah tersebut. Ia pun mengaku diminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengupayakan stabilitas mata uang garuda.
“Tapi so far, dua hari ini rupiah, bisa kami jaga stabilitasnya, sehingga terjadi memang sedikit perlambatan. Dan itu juga sesuai dengan beberapa negara di (emerging markets),” katanya.
Lebih jauh ia menuturkan, langkah BI untuk menjaga stabilitas rupiah yaitu dengan memanfaatkan berbagai instrumen kebijakan, mulai dari intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan non-deliverable forward (NDF), hingga insentif biaya lindung nilai atau hedging.
Destry menyebut, insentif hedging yang dikucurkan sejak akhir Juni 2026 telah mendatangkan aliran dana melalui instrumen swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF) senilai sekitar US$ 8 miliar hingga US$ 9 miliar.
“Intinya, Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar,” kata Destry.
Merujuk data spot Bloomberg, rupiah ditutup di angka 18.046 per dolar AS pada Senin (19/10) sore. Angka tersebut melemah sekitar 20 poin atau 0.11% dari pembukaan Senin (19/10) pagi yang mana rupiah berada di level 18.026 per dolar AS.