AKURAT.CO Selama ini, kinerja perusahaan kerap dilihat dari angka pendapatan, laba, aset, utang, hingga arus kas.
Namun, angka-angka tersebut belum selalu menunjukkan seluruh biaya yang muncul dari kegiatan bisnis, terutama ketika aktivitas perusahaan menggunakan sumber daya alam atau menghasilkan limbah dan emisi.
Di sinilah konsep green accounting atau akuntansi hijau menjadi relevan. Secara sederhana, green accounting merupakan pendekatan akuntansi yang memasukkan aspek lingkungan ke dalam proses pencatatan, pengukuran, analisis, dan pengambilan keputusan ekonomi.
Baca Juga: Strategi ESG Pegadaian Berbuah Penghargaan di IDX Channel Anugerah ESG 2026
Artinya, lingkungan tidak hanya dipandang sebagai isu di luar laporan keuangan. Penggunaan energi, pengelolaan limbah, pengendalian pencemaran, efisiensi sumber daya, hingga biaya pemulihan lingkungan dapat menjadi bagian dari informasi yang diperhitungkan perusahaan.
Konsep tersebut semakin relevan ketika aktivitas ekonomi dituntut tidak hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya yang menopang kegiatan produksi.
Green accounting adalah pendekatan akuntansi yang menghubungkan aktivitas ekonomi dengan dampaknya terhadap lingkungan.
Dalam praktiknya, perusahaan dapat mengidentifikasi biaya yang berkaitan dengan perlindungan lingkungan, penggunaan sumber daya alam, pengelolaan limbah, efisiensi energi, hingga kewajiban pemulihan lingkungan.
Tujuannya bukan sekadar membuat perusahaan terlihat lebih ramah lingkungan. Informasi tersebut dapat digunakan manajemen untuk mengetahui berapa besar sumber daya yang digunakan dan berapa biaya yang harus dikeluarkan akibat aktivitas operasional perusahaan.
Dengan demikian, keputusan bisnis tidak hanya didasarkan pada pertanyaan apakah sebuah kegiatan menghasilkan keuntungan, tetapi juga bagaimana kegiatan tersebut menggunakan sumber daya dan menimbulkan dampak lingkungan.
Pentingnya green accounting berkaitan dengan perubahan cara melihat hubungan antara ekonomi dan lingkungan.
Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengembangkan Sistem Terintegrasi Neraca Lingkungan dan Ekonomi Indonesia (Sisnerling) yang mengacu pada System of Environmental-Economic Accounting (SEEA).
Kerangka tersebut digunakan untuk menggambarkan hubungan antara aktivitas ekonomi, sumber daya alam, dan lingkungan.
Dalam publikasi terbarunya, BPS menyusun Sisnerling Indonesia 2020–2024 yang mencakup informasi mengenai dampak pembangunan terhadap ketersediaan dan peran sumber daya alam dalam kegiatan ekonomi.
Perhitungan tersebut mencakup antara lain neraca fisik dan moneter sumber daya alam.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi dan kondisi lingkungan dapat dianalisis dalam satu kerangka pengukuran.
Pada tingkat perusahaan, prinsip yang serupa dapat membantu manajemen memahami biaya lingkungan yang selama ini berpotensi tersebar di berbagai pos pengeluaran.
Tidak ada satu daftar biaya yang berlaku sama untuk seluruh perusahaan. Jenis informasi yang diperhitungkan bergantung pada sektor usaha dan dampak kegiatan operasionalnya.
Beberapa contoh yang dapat berkaitan dengan green accounting antara lain:
biaya pengolahan dan pengelolaan limbah
biaya pengendalian pencemaran
pengeluaran untuk efisiensi energi
penggunaan dan konservasi air
biaya pemulihan atau rehabilitasi lingkungan
investasi pada teknologi yang lebih efisien
pengelolaan emisi
biaya kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan
penggunaan sumber daya alam dalam proses produksi
Misalnya, sebuah perusahaan manufaktur menggunakan energi dalam jumlah besar dan menghasilkan limbah dari proses produksi.
Melalui pendekatan green accounting, perusahaan dapat mengidentifikasi biaya yang berkaitan dengan penggunaan energi, pengolahan limbah, serta investasi untuk menekan dampak lingkungan.
Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk mengevaluasi apakah investasi pada teknologi yang lebih efisien mampu mengurangi penggunaan energi dan biaya operasional dalam jangka panjang.
Green accounting kerap disandingkan dengan ESG atau Environmental, Social, and Governance. Keduanya memang saling berkaitan, tetapi bukan hal yang sama.
ESG memiliki cakupan lebih luas karena mencakup aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan. Sementara itu, green accounting lebih berfokus pada bagaimana aspek lingkungan diidentifikasi dan dihubungkan dengan informasi ekonomi atau akuntansi.
Dengan kata lain, data mengenai penggunaan energi atau pengelolaan limbah dapat menjadi bagian dari informasi keberlanjutan.
Namun, green accounting berusaha membawa informasi tersebut lebih dekat dengan proses pengukuran dan pengambilan keputusan ekonomi.
Di Indonesia, isu keberlanjutan juga telah masuk ke dalam kerangka regulasi sektor keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memiliki POJK Nomor 51/POJK.03/2017 mengenai penerapan keuangan berkelanjutan bagi lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik.
Bayangkan sebuah perusahaan mengeluarkan Rp10 miliar untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Dalam perhitungan bisnis konvensional, perusahaan mungkin berfokus pada tambahan pendapatan, biaya produksi, laba, dan pengembalian investasi.
Namun, perusahaan juga perlu melihat apakah peningkatan produksi tersebut menyebabkan penggunaan air dan energi meningkat, menghasilkan lebih banyak limbah, atau membutuhkan biaya tambahan untuk memenuhi ketentuan lingkungan.
Jika perusahaan kemudian mengeluarkan Rp1 miliar untuk sistem pengolahan limbah dan Rp2 miliar untuk teknologi yang mengurangi konsumsi energi, pengeluaran tersebut tidak hanya dilihat sebagai biaya tambahan.
Manajemen dapat mengukurnya sebagai investasi yang berkaitan dengan pengurangan konsumsi sumber daya dan pengendalian dampak lingkungan.
Dari sini, perusahaan dapat menghitung apakah efisiensi energi, pengurangan limbah, atau penghematan penggunaan sumber daya menghasilkan manfaat ekonomi dalam jangka panjang.
Salah satu fungsi penting green accounting adalah menyediakan informasi bagi manajemen.
Data lingkungan dapat membantu perusahaan menentukan pilihan investasi, mengukur efisiensi proses produksi, mengidentifikasi pemborosan sumber daya, serta memperkirakan biaya yang mungkin muncul akibat kewajiban lingkungan.
Pendekatan ini juga dapat membantu perusahaan memahami risiko yang tidak langsung terlihat dalam laporan keuangan.
Sebagai contoh, ketergantungan terhadap sumber daya tertentu dapat menjadi risiko apabila ketersediaannya semakin terbatas atau biaya penggunaannya meningkat.
Dengan mengukur penggunaan sumber daya tersebut, perusahaan dapat memiliki dasar untuk mencari alternatif yang lebih efisien.
Penerapan pendekatan ekonomi-lingkungan tidak hanya dilakukan di tingkat perusahaan.
BPS pada Juni 2025 menerbitkan Neraca Arus Energi dan Neraca Emisi Gas Rumah Kaca Indonesia 2019–2023. Publikasi tersebut menggunakan kerangka SEEA 2012 dan mencatat arus energi dari lingkungan ke dalam ekonomi, penggunaan energi dalam kegiatan ekonomi, serta residu yang kembali ke lingkungan.
Neraca tersebut juga memuat informasi mengenai emisi gas rumah kaca yang dilepaskan oleh unit-unit ekonomi residen Indonesia.
Pengukuran semacam ini penting karena pertumbuhan ekonomi tidak hanya menghasilkan output dan pendapatan. Aktivitas ekonomi juga membutuhkan energi dan sumber daya alam serta menghasilkan residu dan emisi.
BPS bahkan menjelaskan bahwa penyajian ukuran ekonomi perlu memperhitungkan penipisan sumber daya alam dan degradasi lingkungan agar gambaran pembangunan ekonomi menjadi lebih komprehensif.
Bagi perusahaan, green accounting dapat memberikan setidaknya beberapa manfaat.
Pertama, perusahaan dapat mengetahui biaya lingkungan yang muncul dari aktivitas operasionalnya.
Kedua, informasi tersebut dapat membantu perusahaan mencari peluang efisiensi, misalnya melalui pengurangan penggunaan energi, air, bahan baku, atau biaya pengelolaan limbah.
Ketiga, data lingkungan dapat mendukung proses pengambilan keputusan investasi dan operasional.
Keempat, informasi tersebut dapat menjadi bagian dari transparansi perusahaan kepada pemangku kepentingan, terutama ketika tuntutan terhadap informasi keberlanjutan semakin meningkat.
Pada akhirnya, green accounting menempatkan lingkungan sebagai bagian dari perhitungan ekonomi, bukan sekadar persoalan kepatuhan atau citra perusahaan.
Penerapan green accounting juga tidak berarti perusahaan harus mengesampingkan keuntungan.
Justru, salah satu kegunaannya adalah membantu perusahaan melihat hubungan antara biaya lingkungan dan kinerja ekonomi secara lebih lengkap.
Investasi pada teknologi hemat energi, misalnya, memang membutuhkan modal pada awalnya. Namun, pengurangan konsumsi energi dapat menghasilkan efisiensi biaya operasional dalam jangka panjang.
Karena itu, green accounting dapat menjadi alat bagi perusahaan untuk melihat apakah suatu kegiatan benar-benar efisien ketika seluruh biaya yang berkaitan dengan lingkungan ikut diperhitungkan.
Dalam konteks ekonomi yang semakin menuntut keberlanjutan, kemampuan mengukur hubungan antara kegiatan usaha, sumber daya alam, biaya, dan dampak lingkungan menjadi semakin penting.
Green accounting pada akhirnya bukan hanya tentang menghijaukan laporan keuangan. Konsep ini berupaya membuat keputusan ekonomi perusahaan lebih lengkap dengan memasukkan faktor lingkungan yang sebelumnya kerap berada di luar perhitungan utama.