Gerakan mahasiswa Serbia menang dalam pemilihan parlemen, Sekaligus mengakhiri 14 tahun kekuasaan Partai Progresif Serbia pimpinan Aleksandar Vucic.
Gerakan mahasiswa Serbia menyatakan kemenangan dalam pemilihan parlemen yang digelar pada Minggu (25/10/2026), sekaligus mengakhiri 14 tahun kekuasaan Partai Progresif Serbia pimpinan Aleksandar Vucic. (REUTERS/Uros Arsic)
Hasil tersebut menjadi kemenangan bagi gerakan mahasiswa yang selama hampir dua tahun menggelar demonstrasi menentang dugaan korupsi dan kecenderungan pemerintahan yang semakin otoriter. (REUTERS/Marko Djurica)
Kekalahan Vucic sekaligus mengakhiri dominasinya dalam politik Serbia selama lebih dari satu dekade dan membuka babak baru bagi negara Balkan berpenduduk sekitar 6 juta jiwa tersebut. (REUTERS/Zorana Jevtic)
Vucic, yang dikenal sebagai politikus populis dan nasionalis, mendominasi panggung politik Serbia sejak 2014, baik ketika menjabat sebagai perdana menteri maupun presiden. (REUTERS/Zorana Jevtic)
Namun, tekanan dari demonstrasi mahasiswa yang terus membesar membuatnya menggelar pemilu dini pada September. Aksi protes itu bermula setelah atap kanopi sebuah stasiun kereta di Kota Novi Sad ambruk pada 2024 dan menewaskan 16 orang. Tragedi tersebut memicu kemarahan publik terkait dugaan korupsi dan buruknya tata kelola pemerintahan. "Jelas bahwa kami telah kalah dalam pemilu ini, [gerakan] Student List telah menang," kata Vucic dalam pidato yang disiarkan televisi, dilansir Reuters. (REUTERS/Marko Djurica)
Tak lama setelah pengumuman itu, jalanan Beograd, ibu kota Serbia, dipenuhi warga yang merayakan kemenangan gerakan mahasiswa. Jumlah massa terus bertambah hingga mencapai puluhan ribu orang. Kendaraan membunyikan klakson, warga menari, sementara para mahasiswa meneriakkan kata "kemenangan" dan "dia sudah tamat". (REUTERS/Djordje Kojadinovic)
Kemenangan kelompok mahasiswa tersebut menandai perubahan politik besar di Serbia. Peristiwa ini mengingatkan pada kekalahan Viktor Orban di Hungaria pada April lalu. Hasil pemilu Serbia juga berpotensi menjadi inspirasi bagi gerakan mahasiswa di negara-negara Eropa lainnya yang belakangan turun ke jalan memprotes buruknya kualitas pendidikan dan terbatasnya prospek masa depan. (REUTERS/Zorana Jevtic)