Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:05 WIB
Bandung, VIVA – Dunia hiburan tak hanya membutuhkan aktor yang tampil di depan kamera. Di balik film, animasi, iklan, hingga gim, ada pengisi suara yang berperan membangun karakter dan menghidupkan cerita. Profesi ini pun semakin mendapat tempat di industri kreatif, sekaligus membuka peluang bagi anak muda yang ingin berkarier lewat kemampuan vokal.
Baca Juga
Peluang tersebut menjadi salah satu sorotan dalam program Road to Wonder Voice of Indonesia (WVI) 2026 yang digelar di Auditorium Gedung Damar, Telkom University, Bandung, Kamis (15/10/2026). Untuk pertama kalinya, rangkaian pembuka WVI berlangsung di lingkungan kampus guna mempertemukan mahasiswa dengan praktisi industri sulih suara.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menilai industri kreatif memiliki peran penting dalam membuka kesempatan kerja bagi generasi muda dan perempuan.
Baca Juga
“Ada 27,4 juta orang yang bekerja di industri kreatif, 63 persen di antaranya Gen Z dan milenial, dan 58 persen perempuan. Artinya, sektor ini berkelanjutan dan inklusif," ujar Menkraf dalam keterangannya, dikutip Minggu (18/10/2026).
Menurut Teuku Riefky, sulih suara atau voiceover kini memiliki ruang kolaborasi yang luas. Keahlian ini dibutuhkan di berbagai bidang, mulai dari film, periklanan, televisi, konten digital, hingga gim. Ia juga menyebut suara talenta WVI telah digunakan oleh lebih dari 300 perusahaan untuk berbagai produk.
Baca Juga
Kesempatan tersebut dinilai dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk mulai membangun portofolio dan memperoleh penghasilan bahkan sebelum menyelesaikan pendidikan.
“Sambil kuliah pun sudah bisa punya penghasilan. Ini juga bagian agar generasi muda kita semakin mandiri, sekaligus mengurangi pengangguran di negara kita,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dekan Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial Telkom University, Iis Kurnia Nurhayati, turut menyoroti relevansi keterampilan sulih suara bagi mahasiswa komunikasi. Menurutnya, kemampuan mengolah suara bukan hanya soal membaca naskah, tetapi juga menyampaikan pesan, membangun karakter, serta menghidupkan emosi agar dapat diterima audiens.
“Teknologi akan terus berkembang, tetapi kepekaan, interpretasi, dan ekspresi manusia tetap memiliki nilai penting dalam komunikasi. Kami berharap kegiatan ini menjadi awal dari kolaborasi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Halaman Selanjutnya
Belajar Menghidupkan Karakter Lewat Suara