Gak Jujur ke Istri soal Penghasilan, Dosakah? Ini Penjelasan Buya Yahya

calendar_today 20.10.2026 - person  - timer ~

Selasa, 20 Oktober 2026 - 16:16 WIB

Jakarta, VIVA – Tidak semua suami terbuka mengenai jumlah penghasilan yang diperolehnya setiap hari. Ada yang memilih menyimpan sebagian uang untuk kebutuhan mendadak atau tabungan keluarga, tetapi ada pula yang sengaja menyebut nominal lebih kecil kepada istri. Lantas, apakah tindakan tersebut termasuk dosa dalam Islam?

Baca Juga

Pertanyaan itu disampaikan seorang pria bernama Sabar dari Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, kepada pendakwah Buya Yahya. Ia mengaku terkadang mendapatkan penghasilan Rp500.000 dalam sehari, tetapi hanya memberitahu istrinya bahwa uang yang diperoleh sebesar Rp300.000. Sisa uang tersebut disimpan sebagai persiapan apabila suatu hari ia tidak mendapatkan penghasilan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melalui penjelasannya, Buya Yahya mengingatkan bahwa berbohong bukanlah tindakan yang dibenarkan. Namun, ia juga menjelaskan bahwa suami tidak selalu berkewajiban menyampaikan secara terperinci jumlah pemasukan yang diperolehnya kepada istri.

Baca Juga

Menanggapi pertanyaan tersebut, Buya Yahya memahami bahwa Sabar memiliki alasan untuk menyimpan sebagian penghasilannya. Uang itu dipersiapkan sebagai cadangan apabila pendapatan pada hari berikutnya berkurang atau bahkan tidak ada.

Meski demikian, Buya Yahya menekankan pentingnya kejujuran dalam kehidupan rumah tangga. Menurutnya, suami sebaiknya tidak perlu berbohong apabila ingin menyisihkan sebagian uang untuk tabungan.

Baca Juga

“Mohon maaf berbohong itu tidak dibenarkan, tidak baik,” ujar Buya Yahya dalam penjelasannya yang dikutip dari YouTube pada Selasa (20/10/26). 

Ia menyarankan agar suami dan istri membangun kesepahaman mengenai pengelolaan keuangan. Apabila istri dapat diajak bekerja sama, suami bisa menyampaikan penghasilan yang sebenarnya dan mendiskusikan pembagian uang untuk kebutuhan sehari-hari maupun tabungan.

Buya mencontohkan, suami dapat mengajak istri mengatur pendapatan bersama agar sebagian uang bisa disimpan untuk menghadapi kebutuhan pada masa mendatang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Buya Yahya juga menjelaskan bahwa setiap pasangan memiliki karakter dan kebiasaan yang berbeda dalam mengelola keuangan. Ada istri yang mampu mengatur uang dengan baik, gemar bersedekah, serta memahami pentingnya menabung. Namun, ada pula pasangan yang dinilai kurang cermat dalam membelanjakan uang.

Menurut Buya, seorang suami tidak memiliki kewajiban untuk selalu memberi tahu secara terperinci seluruh pemasukan yang diperolehnya. Hal yang menjadi kewajiban suami adalah memenuhi nafkah istri secara cukup sesuai dengan kemampuannya.

Halaman Selanjutnya

“Yang wajib bagi seorang suami adalah memberikan nafkah yang cukup di saat dia mampu,” kata Buya Yahya.