Force Majeure Ganggu Aktivitas Tambang Bayan (BYAN), Bagaimana Nasib Produksi? - Bursa Katadata.co.id

calendar_today 16.09.2026 - person  - timer ~

Prospek kinerja PT Bayan Resources Tbk (BYAN) diproyeksikan akan tertekan setelah sejumlah anak usahanya menyatakan force majeure imbas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang belum diterbitkan pemerintah.

Jauh sebelum persoalan persetujuan RKAB terbaru mencuat, Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Fauzan Luthfi Djamal telah menyoroti langkah pemerintah yang lebih dulu memangkas kuota produksi emiten tambang batu bara itu. 

Fauzan menyebut Bayan Resources menjadi salah satu emiten yang menghadapi risiko pemangkasan kuota produksi ketika pemerintah mewacanakan penyesuaian RKAB. Saat itu, kata Fauzan, emiten konglomerat Low Tuck Kwong itu mengajukan kuota produksi sekitar 80 juta ton, tetapi berpotensi hanya memperoleh sekitar separuh dari volume yang diajukan.

“Kita ingat waktu sempat ada kisruh RKAB dipotong, Bayan itu salah satu yang dipotong hampir setengahnya dari kuota produksi yang mereka ajukan. Kalau tidak salah sekitar 80 juta ton dan mereka hanya mendapat sekitar 50%-nya,” kata Fauzan dalam Media Day September 2026: Navigating Indonesia’s Market: Policy Shifts, Commodities & Opportunities secara daring, Selasa (15/9).

Selain itu Fauzan menilai kondisi itu sudah memberikan gambaran tekanan terhadap kinerja operasional Bayan Resources. Meski saat ini perusahaan belum merilis data terbaru realisasi produksi sepanjang semester pertama 2026, ia melihat prospek produksi BYAN tahun ini cukup menantang.

Menurut Fauzan, tekanan utama berasal dari kuota produksi yang disetujui tahun ini sekitar 38 juta ton. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan realisasi produksi Bayan Resources pada 2025 yang mencapai sekitar 68 juta ton.

“Itu sudah menjadi gambaran kalau secara operasional produksinya agak sedikit tertekan. Ini menjadi proyeksi yang secara outlook cukup negatif,” kata Fauzan.

Ia menilai penurunan volume produksi berpotensi menjadi tantangan bagi Bayan Resources untuk mempertahankan kinerja operasionalnya. Terutama apabila kuota produksi tidak mengalami penyesuaian hingga akhir tahun.

“Dan prospek sahamnya menurut saya juga agak susah buat dijustifikasi dari sisi fundamental, sih,” ucap Fauzan. 

Apabila menilik kinerja operasionalnya, Bayan Resources mencatat sejumlah rekor sepanjang 2025. Produksi batu bara perseroan mencapai 68 juta ton, naik 19,6% dibandingkan rekor sebelumnya sebesar 56,9 juta ton pada 2024.

Bayan juga mencatat rekor penanganan batu bara melalui Balikpapan Coal Terminal (BCT) serta Kalimantan Floating Transfer Station (KFT) 1, 2, dan 3 dengan total 55,9 juta ton, meningkat 18,9% dibandingkan 2024.

Dari sisi penjualan, perseroan membukukan rekor 70,8 juta ton sepanjang 2025 atau melonjak 25,9% dibandingkan capaian terbaik sebelumnya pada 2024.

Dari lantai bursa, saham BYAN ditutup anjlok hingga 8,11% ke Rp 10.200 per saham dan kapitalisasi pasarnya menjadi Rp 340 triliun pada Selasa (15/9) kemarin. Adapun saham BYAN sempat ke Rp 17.275 pada 18 Agustus 2026 dan kini sudah terperosok hingga 29,17%. Tak hanya itu, secara year to date (ytd) sudah anjlok hingga 35,03%. 

Umumkan Force Majeure

Hal itu usai usai tiga anak usahanya belum mengantongi persetujuan RKAB 2026 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yaitu PT Tiwa Abadi (TA), PT Tanur Jaya (TJ), dan PT Fajar Sakti Prima (FSP). 

“Pada 11 September 2026 menyampaikan pemberitahuan kejadian/keadaan yang bersifat memaksa (keadaan kahar/force majeure) terhadap kewajiban pemenuhan penyediaan batu bara berdasarkan Perjanjian Penyediaan Batubara/Coal Supply Agreement kepada para pelanggannya,” tulis manajemen BYAN dalam keterbukaan informasi BEI, Senin (15/9) malam.

Manajemen Bayan Resources mengatakan persetujuan perubahan RKAB 2026 untuk tiga anak usahanya belum terbit, meski perusahaan telah mengajukan permohonan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Hal itu mengingat persetujuan RKAB penting demi anak usaha Bayan bisa menjalankan produksi batu bara secara sah. Belum terbitnya persetujuan tersebut membuat kegiatan produksi terganggu dan memengaruhi kemampuan BYAN memenuhi kewajiban pasokan batu bara kepada pelanggan.

Atas kondisi tersebut, Bayan bersama anak usahanya menetapkan force majeure kepada para pelanggan. Perseroan menyebut belum terbitnya persetujuan perubahan RKAB memberikan dampak cukup material terhadap kelangsungan usaha perusahaan.

“Namun dengan dilakukannya pemberitahuan keadaan/kejadian yang bersifat memaksa (Keadaan Kahar/Force Majeure) ini, diharapkan dapat meminimalisir risiko dan/atau konsekuensi bagi BYAN dan anak-anak perusahannya,” tulis manajemen. 

Penulis Katadata.co.id telah meminta konfirmasi kepada Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno terkait belum terbitnya persetujuan perubahan RKAB 2026 tiga anak usaha Bayan Resources. Namun, hingga berita ini ditulis, Tri belum merespons.

Ditawar Murah oleh Haji Isam

Persoalan RKAB tersebut muncul ketika tambang Bayan Resources tengah dibidik oleh crazy rich Kalimantan. 

Di saat operasional sejumlah anak usahanya terganjal izin produksi, pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, disebut mengincar perusahaan batu bara milik konglomerat Low Tuck Kwong itu.

Dalam pemberitaan Bloomberg, entitas yang dikendalikan Haji Isam disebut tengah mengajukan penawaran tunai kepada BYAN. Haji Isam disebut lagi bernegosiasi untuk mengakuisisi 62% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Nilai penawarannya dinilai mencapai sekitar US$ 3 miliar atau Rp 52,65 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.550 per dolar AS. Harga tersebut jauh di bawah harga pasar BYAN.

“Pembayaran kemungkinan akan dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus, kesepakatan dengan harga tersebut akan mewakili diskon sekitar 80% dari level pasar saat ini,” kata sumber Bloomberg seperti dikutip Rabu (9/9). 

Meski begitu, sebelumnya manajemen Jhonlin Grup melalui PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dalam penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia menyatakan belum mendapat informasi tentang rencana akuisisi.  

"Namun pemegang saham pengendali perseroan telah menyampaikan kepada kami  bahwa dari waktu ke waktu sebagai investor mereka dapat saja mempertimbangkan berbagai kesempatan dan peluang untuk memaksimalkan investasi mereka di perseroan," ujar manajemen JARR. 

Lebih jauh Bloomberg menyebut keluarga Low berpotensi melepas kepemilikan mayoritas di Bayan dengan diskon besar dari harga saham di pasar. Terbatasnya jumlah saham yang beredar di publik atau free float dan tipisnya volume perdagangan BYAN dinilai membuat harga saham di pasar tidak sepenuhnya mencerminkan valuasi dalam transaksi berjumlah besar.

Haji Isam merupakan pengusaha asal Kalimantan yang menjadi salah satu pendukung Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden 2024. Konglomerasi bisnisnya, PT Jhonlin Group, telah menjadi salah satu pemain besar di industri pertambangan batu bara Indonesia. 

Bloomberg sebelumnya melaporkan Jhonlin mengajukan kuota produksi batu bara kepada pemerintah sekitar 60 juta ton pada tahun ini. Apabila berhasil mengambil alih 62% saham Bayan, transaksi tersebut akan semakin memperkuat posisi Haji Isam di industri batu bara nasional.

Rencana transaksi tersebut muncul ketika perusahaan tambang batu bara Indonesia tertekan dari kebijakan produksi pemerintah. Prabowo memangkas kuota produksi sejumlah produsen batu bara terbesar untuk mendorong kenaikan harga komoditas tersebut. 

Sejumlah perusahaan tambang juga menghadapi denda besar terkait pelanggaran izin penggunaan kawasan hutan. Bayan menjadi salah satu perusahaan yang paling terdampak pemangkasan kuota produksi tersebut. 

Sementara itu, sejumlah pesaing seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) terhindar dari dampak pemangkasan tersebut, sebagaimana dilaporkan Bloomberg pada Februari.