Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali merosot hingga mencapai auto reject bawah (ARB) ke level Rp 37 per saham pada perdagangan sesi pertama, Selasa (29/9). Ini adalah kedua kalinya secara berturut-turut GOTO menyentuh batas ARB sejak Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan batas minimum harga saham Rp 1 mulai Senin (28/9) kemarin.
Tersungkurnya saham GOTO membuat posisi investasi anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), Telkomsel, mencatatkan floating loss jumbo. Telkomsel tercatat menggenggam 23,72 miliar saham GOTO atau sekitar 1,99% di harga Rp 270 per saham.
Dengan harga GOTO kini bertengger di Rp 37, nilai investasi pun anjlok hingga sekitar 86,3%. Apabila dikalkulasikan, floating loss investasi Telkomsel di GOTO mencapai sekitar Rp 5,53 triliun.
Alhasil, nilai kepemilikan Telkomsel yang semula sekitar Rp 6,40 triliun, kini menyusut hanya tersisa sekitar Rp 877,64 miliar berdasarkan harga Rp 37 per saham.
Sebelumnya, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel, Daru Mulyawan mengatakan, investasi Telkomsel di GOTO menjadi bagian dari kemitraan strategis jangka panjang yang berfokus pada optimalisasi potensi, sinergi, dan penciptaan nilai bagi perusahaan.
Menurut dia, pergerakan harga saham GOTO mencerminkan dinamika pasar dan tidak sepenuhnya menggambarkan manfaat strategis dari kemitraan kedua perusahaan. Adapun ke depannya, ia menyatakan Telkomsel akan terus melakukan evaluasi secara disiplin terhadap kinerja investasi dan realisasi sinergi perusahaan.
“Setiap keputusan terkait investasi akan diambil secara pruden berdasarkan kajian yang komprehensif serta mengikuti prinsip data kelola dan mekanisme persetujuan yang berlaku,” kata Daru dalam konferensi pers paparan publik 2026, Senin (7/9).
Head of Corporate Affairs GOTO, Audrey Petriny mengatakan, harga saham GOTO saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis perseroan yang terus menguat. “Dinamika harga saham lebih disebabkan oleh aspek teknis menyusul aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas bawah harga saham yang tidak lagi di Rp 50,” kata Audrey dalam keterangan resmi, dikutip pada Senin (28/9).
Dia menuturkan, kinerja bisnis GOTO terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada kuartal II/2026, perseroan kembali mencetak laba bersih sebesar Rp252 miliar dan membukukan laba selama dua kuartal berturut-turut.
Pendapatan bersih GOTO tercatat sebesar Rp 5,7 triliun, sedangkan adjusted EBITDA mencapai lebih dari Rp 1 triliun. “Kami juga tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp 3,2-3,4 triliun,” ujarnya.
Audrey mengatakan GOTO akan tetap fokus memperkuat kinerja bisnis yang diyakini dapat menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham.
Menilik hitung-hitungan Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, jikalau ada investor yang ingin menjual 1 juta lot saja belum tentu terjual, apalagi institusi asing yang menggenggam puluhan juta lot atau milyaran lembar saham.
“Berdasarkan logika sederhana di atas, most likely guyuran GOTO masih akan berlanjut besok-besok,” kata Liza.
Secara teknikal, saham GOTO masih bergerak dalam tren penurunan yang membentuk pola parallel channel. Menurutnya, saham GOTO berpotensi menguji area support di kisaran Rp 36 hingga Rp 27. “Lihat teknikal aja deh dulu, kira-kira ke Rp 27 (fair value GOTO),” ujar Liza.