Festival Udin 2026 Digelar, Soroti Impunitas dan Kejahatan Ekologis

calendar_today 14.08.2026 - person  - timer ~

Bagikan:

BANTUL - Festival Udin 2026 resmi dibuka di Concert Hall Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Peringatan yang berlangsung sejak Rabu, 13 Agustus 2026 hingga Sabtu, 15 Agustus 2026 ini menjadi ruang untuk terus menagih keadilan atas kasus pembunuhan wartawan Harian Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin atau akrab disapa Udin, yang telah mangkrak selama 30 tahun.

Mengusung tajuk “30 Tahun Kasus Udin: Menolak Bungkam, Melawan Perusakan Lingkungan”, festival ini menautkan semangat kritis Udin pada masanya dengan berbagai krisis ekologi. Ketua Panitia Festival Udin 2026, Vivi Maulida, secara tajam menyoroti kegagalan negara dalam mengungkap dalang kejahatan tersebut.

Udin sendiri mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Bethesda pada 16 Agustus 1996 pukul 16.58 WIB. Dirinya mengalami cedera fatal di bagian kepala setelah dianiaya secara brutal oleh pelaku tak dikenal di kediamannya yang berlokasi di Jalan Parangtritis KM 13, Dusun Gelangan Samalo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Insiden itu terjadi tiga hari sebelum dia meninggal.

“Kasus ini sudah melintasi tujuh Presiden RI, 13 Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), dua Gubernur DIY, 24 Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) DIY, dan delapan Bupati Bantul. Tak satu pun dari mereka menuntaskan siapa dalang di balik pembunuhannya,” kata Vivi.

Di sisi lain, Vivi memaparkan bagaimana eskalasi kerusakan lingkungan hidup saat ini turut memunculkan ancaman serius bagi kebebasan berekspresi kelompok sipil.

“Kejahatan ekologis selalu beriringan dengan represi. Saat alat berat meratakan ruang hidup warga, peluru, jerat hukum, hingga teror digital kerap diarahkan kepada jurnalis, aktivis, dan seniman yang berani merekam kehancuran tersebut," ujar dia.

Upaya merawat ingatan ini turut digerakkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta yang menggandeng berbagai elemen pers mahasiswa. Perwakilan LPM PRESSISI ISI Yogyakarta, Saynediva Malika Putri, menegaskan pers mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan politik yang konkret.

“Tentu penting bagi kami, sebagai pers mahasiswa, untuk tidak hanya hadir sebagai perekam isu dan euforia yang terjadi, baik di dalam kampus maupun di ruang sosial yang lebih luas. Lebih dari itu, pers mahasiswa harus berdiri sebagai penyambung lidah bagi masyarakat yang mengalami ketidakadilan,” ucap Saynediva.

Perlawanan Melalui Seni dan Arsip

Hari pertama festival turut diramaikan dengan pembukaan pameran seni dan tur kuratorial bertajuk “Bersama Penyaksi Bersaksi”. Perwakilan kurator, Adhi Pandoyo, menjelaskan bahwa pameran ini mengolah arsip tentang Udin dan menantang para seniman untuk merespons persoalan hak asasi manusia hingga kejahatan struktural.

“Kasus Udin adalah kunci untuk menggugat narasi negara yang selalu nengklaim baik-baik saja,” kata Adhi.

Ruang pameran diisi sejumlah karya yang sarat kritik sosial. ABDW Art Project ,misalnya, menampilkan instalasi tentang proyek strategis nasional Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) di Gunungkidul.

Karya berjudul Cleret Tahun, Karstku Tabunganku, Penjarahan Gunung Sewu itu mengkritik proyek infrastruktur yang menghilangkan habitat satwa, memicu kawanan kera menyerang lahan warga, dan membahayakan keselamatan pejalan kaki lansia.

Kelompok seni Taring Padi juga memamerkan trilogi visual mereka, meliputi Hak Asasi Manusia (2021), Bumi Manusia (2021), dan Adil dan Beradab (2023). Khusus karya Bumi Manusia, visualnya mengadaptasi bentuk monumen Pembebasan Irian Barat untuk melayangkan kritik terhadap ekspansi tambang Freeport dan industri sawit di tanah Papua.

Bergeser ke area luar Concert Hall, sebuah instalasi dari Ibu Berisik berjudul Rewang Kenduri Melawan Tirani (2026) turut menarik perhatian. Karya ini meminjam praktik gotong-royong masyarakat Jawa, yakni tradisi kenduri.

“Karya kolektif para ibu-ibu ini mengingatkan kembali pada kita tentang pentingnya merajut gotong-royong antar sesama warga di tengah suasana negara yang serba kacau,” kata Adhi.

Instalasi tersebut sekaligus menjadi respons atas tembang Lagu Buat Penyaksi yang dirilis grup Kantata Samsara pada 1997 silam. Pesan menolak mati bersama korban itu turut digaungkan kelompok Corong Api melalui karya fasad bertajuk Keberanian Udin (2026).

Rangkaian hari pertama Festival Udin 2026 ini disempurnakan oleh aksi performance art Khuluqul Karim yang memerankan sosok Udin, penampilan musik dari Umar Haen, serta pemutaran film The Years of Blur.

Agenda juga disempurnakan oleh dua sesi diskusi publik yang menyoroti diskriminasi jemaat Gereja Kristen Misi Sejahtera (GMS) Bantul serta reposisi peran jurnalisme dalam gerakan advokasi lingkungan dan bantuan hukum.

Festival Udin 2026 hadir sebagai ruang refleksi, edukasi, dan partisipasi publik yang mempertemukan jurnalis, seniman, akademisi, aktivis, komunitas lingkungan, serta masyarakat umum untuk bersama-sama merawat ingatan atas perjuangan Udin sekaligus menyuarakan pentingnya perlindungan lingkungan hidup.

BACA JUGA:


Festival ini diharapkan mampu memperluas kesadaran publik bahwa kebebasan pers, hak atas informasi, dan hak atas lingkungan yang sehat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokratis.

Melalui tema “30 Tahun Kasus Udin: Menolak Bungkam, Melawan Perusakan Lingkungan”, festival ini mengajak masyarakat membayangkan kembali bagaimana semangat kritis Udin akan membaca dan merespons berbagai persoalan lingkungan yang terjadi hari ini.

Festival Udin 2026 berlangsung di Concert Hall Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada Kamis-Sabtu, 13-15 Agustus 2026. Diinisiasi oleh AJI Yogyakarta dan berkolaborasi dengan LPM Pressisi, AJI Jakarta, AJI Indonesia, Sekolah Jurnalisme SK Trimurti, Sigab, PR2Media, LKiS, TrenAsia, Mongabay serta didukung Blok Cold Brew.

Festival Udin 2026 bekerja sama publikasi media dengan Tempo, Tirto ID, Project Multatuli, Magdalene, Konde, Radio Unisia, Mojok, VOI, Tapak, Tribun Jogja, Ayo Yogya, Berita DIY, Portal Yogya, Semut Api Media, Gejayan ID, Pandangan Jogja, Suara Jogja, Suara Aisyiyah, Solider News, Kampung Gusdurian, Suara Hijau, Independen ID, Bandung Bergerak, Kawan Bergerak, Arah Media, dan Seni Rupa ID.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+