Festival Kuliner Banua kami hadirkan agar semakin banyak masyarakat mengenal,
Banjarmasin (ANTARA) - Festival Kuliner Banua melalui QRIS Jelajah Kuliner Indonesia (QJI) 2026 memberikan dampak positif bagi UMKM mengingat lebih dari 5.000 transaksi pembayaran digital dengan nilai penjualan mencapai Rp200 juta selama tiga hari, menandai meningkatnya adopsi transaksi nontunai di Kalimantan Selatan.
Festival yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan di Halaman Parkir Kantor Perwakilan BI Kalsel itu menghadirkan 15 pelaku UMKM kuliner unggulan hasil kurasi dari 131 kandidat se-Kalimantan Selatan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi kerakyatan melalui sektor kuliner sekaligus mendorong digitalisasi transaksi masyarakat.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan Aloysius Donanto HW di Banjarmasin, Rabu, mengatakan Festival Kuliner Banua dirancang untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi UMKM sekaligus mempercepat pemanfaatan sistem pembayaran digital di tengah masyarakat.
"Festival Kuliner Banua kami hadirkan agar semakin banyak masyarakat mengenal, mencicipi, dan mencintai kuliner khas Banua, sekaligus membuka peluang bagi pelaku UMKM lokal untuk naik kelas dan memperluas pasarnya," ujar Aloysius.
Capaian transaksi QRIS tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap pembayaran digital. Selama festival berlangsung, hampir 2.000 pengunjung memadati lokasi kegiatan untuk menikmati aneka kuliner khas Banua sekaligus bertransaksi secara nontunai.
Selain mendorong transaksi ekonomi, festival juga memperkuat literasi keuangan masyarakat. Lebih dari 500 orang mengikuti edukasi keuangan digital, sementara lebih dari 50 pengunjung memanfaatkan layanan konsultasi pelindungan konsumen dan pengecekan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dia juga mengatakan, semangat berbagi masyarakat juga tercermin melalui penghimpunan wakaf digital yang mencapai lebih dari Rp27,4 juta.
Dana tersebut, ucapnya, dimanfaatkan untuk mendukung dapur produksi daging olahan bagi pondok pesantren, pembangunan kandang ayam untuk pemberdayaan masyarakat, serta dana abadi pendidikan.
Aloysius menilai kolaborasi antara UMKM, komunitas, pemerintah daerah, perbankan, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penting di balik capaian festival.
"Ketika UMKM, komunitas, dan masyarakat bergerak bersama, sebuah kegiatan tidak hanya menciptakan keramaian, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi dan mendekatkan masyarakat pada layanan keuangan digital yang aman dan andal," ujarnya.
Festival juga diramaikan berbagai kegiatan, mulai dari bazaar UMKM kuliner, Banua Culinary Competition, Banua Brewing Battle, lomba tebak aroma rempah dan masakan Banjar, hingga booth edukasi QRIS, Pelindungan Konsumen, cinta bangga paham rupiah, dan layanan cek SLIK OJK.
Keberagaman kuliner khas daerah menjadi daya tarik tersendiri, di antaranya gembur labu juai dari Balangan serta paiwakan banua dari Hulu Sungai Tengah yang menghadirkan apam khas Barabai. Kehadiran produk dari berbagai daerah memperkuat promosi kuliner lokal sebagai bagian dari potensi ekonomi dan pariwisata Kalimantan Selatan.
Selain itu, Aloysius berharap capaian lebih dari 5.000 transaksi QRIS dan omzet UMKM sebesar Rp200 juta menjadi pijakan untuk memperluas penggunaan pembayaran digital sekaligus meningkatkan daya saing pelaku usaha kuliner di Kalimantan Selatan.
"Kami berharap semakin banyak UMKM kuliner banua yang naik kelas dan masyarakat semakin terbiasa menggunakan transaksi digital dalam kehidupan sehari-hari sehingga ekonomi daerah tumbuh lebih inklusif," ujarnya.
Pewarta: Gunawan Wibisono
Editor : Sukarli
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.