Jakarta, CNN Indonesia --
Laporan terbaru dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) mengungkap bahwa emisi karbon dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia termasuk yang tertinggi dalam 24 tahun terakhir.
Menurut data CAMS, sejak akhir Juli 2026, kebakaran yang melanda hutan, lahan pertanian, dan lahan gambut di Indonesia telah melepaskan asap dalam jumlah besar. Kondisi ini berdampak pada penurunan kualitas udara di hampir seluruh wilayah Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
"Emisi dari kebakaran hutan di Indonesia dari Januari hingga September 2026 termasuk yang tertinggi dalam 24 tahun terakhir," ungkap Copernicus dalam sebuah unggahan di Instagram, Selasa (20/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut citra pemantauan dari aplikasi CAMS Fire Emissions Watch, data prakiraan CAMS untuk tanggal 20 Oktober pukul 09.00 UTC menunjukkan gumpalan asap yang meluas dan hampir menutupi seluruh wilayah Indonesia.
Data CAMS Global Fire Assimilation System yang ditampilkan dalam aplikasi Fire Emissions Watch menunjukkan emisi karbon dari kebakaran di Indonesia sepanjang 2026 meningkat tajam sejak Agustus.
Berdasarkan grafik kumulatif tahunan, emisi tahun ini hingga Oktober 2026 berada di kisaran 180 juta ton karbon. Angka tersebut jauh di atas rata-rata historis, yakni sekitar 75-80 juta ton karbon per tahun.
Meski begitu, emisi karbon akibat karhutla tahun ini masih belum menyamai tahun-tahun dengan kebakaran besar sebelumnya. Pada 2015, emisi kumulatif tercatat sekitar 380 juta ton karbon, lebih dari dua kali prakiraan emisi Indonesia 2026.
Berdasarkan analisis data mingguan periode 13-19 Oktober, dari total 35,9 juta ton emisi global, Indonesia menduduki posisi teratas sebagai penyumbang emisi di angka 19,6 juta ton karbon dengan peningkatan sebesar 245 persen dari rata-rata historisnya.
Pada periode tersebut, daerah paling parah adalah Kalimantan Tengah dengan total volume emisi karbon harian mencapai 1,32 juta ton karbon, disusul Sumatra Selatan yang mencapai 589 ribu ton karbon, lalu Kalimantan Barat di angka 513 ribu ton karbon.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan masih ada 570,08 hektare lahan yang masih terbakar di enam provinsi prioritas.
"Berdasarkan data BNPB per 19 Oktober 2026, total target penanganan karhutla di 6 provinsi prioritas mencakup area seluas 1.024,33 hektar (ha). Dari jumlah tersebut, tim gabungan telah berhasil memadamkan 454,25 ha, sementara 570,08 ha sisanya masih dalam proses pemadaman dan pendinginan," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan dalam keterangannya dikutip Rabu (21/10).
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan luas lahan yang belum padam paling besar, yakni 389,39 ha dari total target penanganan 452,49 ha. Sementara itu, di Sumatera Selatan, masih terdapat 108,50 ha lahan yang belum padam dari total 401,67 ha.
Di Jambi, lahan yang masih dalam proses pemadaman dan pendinginan mencapai 64,50 ha dari total 96,50 ha. Adapun di Kalimantan Selatan, masih tersisa 7,50 ha dari target penanganan 58,45 ha.
Sementara itu, di Kalimantan Barat, luas lahan yang belum padam tersisa 0,19 ha dari total 11,92 ha. Seluruh lahan terdampak karhutla seluas 3,30 ha di Riau dilaporkan telah berhasil dipadamkan.
Selain di enam provinsi prioritas tersebut, BNPB mencatat karhutla di sejumlah wilayah lain dengan total luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 572,90 ha. Dari jumlah itu, sekitar 107,77 ha telah berhasil dipadamkan, sedangkan 465,13 ha lainnya masih dalam penanganan intensif.
(fta/dmi)