El Nino Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027, Panas Ekstrem hingga Kekeringan Mengintai

calendar_today 14.10.2026 - person  - timer ~

Kamis, 15 Oktober 2026 - 06:16 WIB

Jakarta, VIVA – Fenomena El Nino diperkirakan terus menguat hingga akhir 2026 dan berpotensi meningkatkan risiko gelombang panas, kekeringan, serta banjir di berbagai wilayah dunia. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan, suhu permukaan laut di kawasan tropis Pasifik bagian tengah dan timur mencapai rekor tertinggi pada periode Oktober hingga Desember 2026.

Baca Juga

Dalam laporan terbarunya, WMO menyebut probabilitas El Nino bertahan hingga Februari 2027 mendekati 100 persen. Fenomena ini berpotensi menjadi salah satu episode terkuat yang tercatat sejak setidaknya 1950.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menyampaikan perkiraan tersebut dalam Global Heat Forum di Bangkok, Thailand. Menurutnya, El Nino berkembang dengan cepat dan penguatannya dapat meningkatkan risiko panas ekstrem, kekeringan, serta banjir di berbagai kawasan.

Baca Juga

WMO sendiri telah menyusun proyeksi tersebut berdasarkan konsensus 13 pusat prakiraan nasional dan internasional. Pemantauan dilakukan melalui pertukaran data dari pelampung laut, satelit, dan radiosonde.

Indeks Nino 3.4, yang mengukur anomali suhu permukaan laut di Pasifik ekuatorial bagian tengah dan timur, meningkat, dari rata-rata 1,6 derajat Celsius di atas normal pada Juni 2026 menjadi 2,5 derajat Celsius pada Agustus 2026.

Baca Juga

Untuk Oktober hingga Desember 2026, anomali suhu musiman di wilayah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 3,7 derajat Celsius, dengan puncak pada Desember. WMO menyebut, angka tersebut melampaui rekor sebelumnya sebesar 2,6 derajat Celsius yang tercatat pada November 2015 hingga Januari 2016.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam laporan Global Seasonal Climate Update, WMO menyatakan, El Nino berpotensi meningkatkan suhu di sebagian besar wilayah dunia sekaligus mengubah pola curah hujan. “Fenomena ini kemungkinan menyebabkan suhu di atas rata-rata di sebagian besar wilayah planet ini dan mengubah pola curah hujan, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan banjir di berbagai kawasan,” demikian pernyataan WMO, dikutip dari El Constituciona, Kamis (15/10/2026). 

Saulo menjelaskan, El Nino tidak menambahkan panas baru ke planet ini, melainkan melepaskan panas yang telah tersimpan di bawah permukaan laut. “(Inilah) alasan mengapa suatu peristiwa yang intens biasanya menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat (seperti yang terjadi pada 2024). Lautan yang menjadi sumber panas tersebut merupakan lautan terhangat yang pernah kami catat. Sederhananya, ada lebih banyak panas yang tersedia untuk dilepaskan,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

WMO memperkirakan, curah hujan di atas normal terjadi di Pasifik ekuatorial bagian tengah dan timur, Tanduk Afrika, sebagian Asia Tengah, pesisir Asia Timur, serta Amerika Selatan bagian tenggara. Sebaliknya, kondisi lebih kering diprediksi melanda Pasifik bagian barat, Atlantik ekuatorial, anak benua India, sebagian Karibia, dan Amerika Selatan bagian barat laut.