Ekonomi karbon biru dari lamun Kaltim berpotensi peroleh Rp5,78 miliar - ANTARA News Kalimantan Timur

calendar_today 03.10.2026 - person  - timer ~

Samarinda (ANTARA) - Karbon biru dari padang lamun pada lokasi penelitian oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah Kalimantan Timur (Brida Kaltim) di sejumlah wilayah berpotensi menghasilkan nilai ekonomi mencapai Rp5,78 miliar dari perdagangan karbon.

"Nilai itu didapat dari simpanan 1.157,51 ton karbon di lokasi penelitian jika dikonversi dengan harga perdagangan karbon yang kini mencapai Rp5 juta per ton," ujar Koordinator Tim Periset Karbon Biru dari Yekhali Auliansyah di Samarinda, Jumat.

Ia menyebut bahwa nilai ekonomi karbon yang tersimpan di lamun sejauh ini belum sepenuhnya dihitung dan dimanfaatkan secara optimal.

Riset bertajuk "Restorasi Lamun sebagai Upaya Peningkatan Carbon Storage di Provinsi Kaltim" dilakukan secara berkesinambungan sejak 2024 hingga 2026, dilakukan kerja sama antara Brida Kaltim, Yekhali, dan Universitas Mulawarman. 

Hasilnya menunjukkan stok karbon pada sedimen di salah satu lokasi mencapai 383,78 ton karbon per hektare, jauh lebih besar dibandingkan yang tersimpan di bagian tanaman.

Pulau Miang Kecil di Kabupaten Kutai Timur mencatat simpanan karbon sedimen tertinggi sebesar 383,78 ton karbon per hektare ( C per ha), disusul wilayah Kutai Kartanegara 381,13 ton C per ha. Sementara stok karbon pada tegakan tanaman tertinggi tercatat di Pulau Malahing sebesar 4,19 ton C per ha dan Pulau Miang Kecil 2,18 ton C per ha.

“Temuan ini menegaskan peran sedimen sebagai gudang karbon utama ekosistem lamun,” kata Auliansyah menjelaskan.

Di Bontang, tepatnya di perairan Malahing dengan luas padang lamun 802 hektare, tim memperkirakan simpanan karbon mencapai 209 ton dengan estimasi nilai ekonomi hingga Rp17 juta per ton karbon per hektare.

Secara keseluruhan, Kaltim memiliki 7.225,6 hektare padang lamun yang tersebar di Berau, Kutai Timur, Bontang, Kutai Kartanegara, dan Balikpapan, khususnya pada lokasi yang dilakukan penelitian.

Kekayaan hayatinya pun luar biasa, dari 13 jenis lamun yang ada di Indonesia, 10 jenis ditemukan di perairan Kaltim, antara lain Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, dan Halophila ovalis.

"Kami berharap potensi besar ini dapat dikelola secara berkelanjutan, sehingga nilai ekonomi karbon biru mampu memberi manfaat langsung bagi masyarakat pesisir sekaligus menjaga ekosistem tetap lestari," ujar dia.

Pewarta: Rahmad
Editor : M.Ghofar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.