Ekonom Ingatkan Risiko Jatuh Tempo Utang Luar Negeri Makin Pendek |Republika Online

calendar_today 14.09.2026 - person  - timer ~

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengingatkan risiko jatuh tempo utang luar negeri (ULN) yang semakin pendek. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengingatkan risiko jatuh tempo utang luar negeri (ULN) yang semakin pendek meski rasio ULN terhadap PDB masih stabil atau relatif aman.

Untuk diketahui, rasio ULN terhadap PDB pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 30,63 persen dari periode yang sama tahun lalu sekitar 30,51 persen. Namun, rasio ULN jangka pendek berdasarkan jangka waktu sisa terhadap cadangan devisa naik dari 55,57 persen pada triwulan II 2025 menjadi 72,77 persen pada triwulan II 2026.

“Stabilnya rasio (ULN) terhadap PDB jangan sampai membuat kita mengabaikan risiko jatuh tempo yang semakin pendek,” kata Yusuf di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Yusuf menjelaskan, rasio ULN jangka pendek berdasarkan jangka waktu sisa terhadap cadangan devisa yang meningkat berarti kewajiban valas yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan meningkat relatif terhadap bantalan devisa.

Namun, menurutnya, angka 72,77 persen tersebut belum menunjukkan krisis. Secara praktis, jelas dia, masih di bawah ambang 100 persen yang sering digunakan dalam pendekatan Guidotti-Greenspan. Sementara cadangan devisa Agustus sekitar 146,5 miliar dolar AS juga masih setara lebih dari lima bulan impor.

“Jadi buffer eksternal masih ada. Yang berubah adalah tingkat sensitivitasnya. Jika sentimen global memburuk, tekanan terhadap rupiah, arus modal keluar, dan kebutuhan rollover utang jangka pendek bisa terjadi bersamaan. Risikonya lebih pada tekanan kurs dan biaya refinancing daripada solvabilitas pemerintah,” kata Yusuf.

Lebih lanjut, ia mengatakan rasio utang jangka pendek terhadap cadangan devisa juga tidak otomatis akan terus meningkat. Arahnya bergantung pada perkembangan utang jangka pendek, jatuh tempo utang lama, pertumbuhan cadangan devisa, arus modal, neraca perdagangan, serta harga minyak.

sumber : Antara