Dua helikopter water bombing dijadwalkan tiba di Sampit hari ini

calendar_today 16.09.2026 - person  - timer ~

Dua helikopter water bombing dijadwalkan tiba di Sampit hari ini

Rabu, 16 September 2026 15:35 WIB

Image Print

Bupati Kotim Halikinnor mengungkapkan rencana pengerahan dua helikopter water bombing untuk penanganan karhutla dari provinsi, Rabu (16/9/2026). ANTARA/Devita Maulina.

Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mendapat dukungan dua unit helikopter water bombing yang dijadwalkan tiba di Sampit, Rabu (16/9), untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya pada titik api yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

"Saya terima informasi hari ini mudah-mudahan jadi. Ada dropping dua buah helikopter untuk water bombing. Kita berharap khususnya pada titik api yang jangkauannya jauh dan tidak mungkin kita melaksanakan pemadaman lewat darat," kata Bupati Kotim Halikinnor di Sampit.

Halikinnor mengatakan, pengerahan dua helikopter tersebut diharapkan dapat mempercepat pemadaman pada lokasi yang memiliki akses terbatas bagi personel dan kendaraan pemadam di darat.

Dukungan dari udara menjadi penting di tengah kondisi karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim. Keberadaan helikopter diharapkan membantu Satgas Karhutla dan Kekeringan menjangkau titik api yang sulit didatangi pasukan darat.

Halikinnor juga berharap pengerahan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal, terutama untuk lokasi yang membutuhkan penanganan cepat dan tidak memiliki akses jalan yang memadai.

Sementara itu, Koordinator Lapangan Satgas Karhutla dan Kekeringan Kotim Rihel mengatakan dua helikopter water bombing direncanakan tiba dari Palangka Raya dan selanjutnya ditempatkan untuk siaga di Bandara Haji Asan Sampit.

"Helikopter untuk water bombing rencananya tiba di Sampit hari ini dan itu standby di Sampit. Rencananya ada dua unit, yaitu AS365 dan Kamov," sebutnya.

Rihel menjelaskan, kepastian kedatangan kedua helikopter tersebut masih sangat bergantung pada kondisi cuaca. Saat ini, salah satu kendala yang perlu diperhatikan adalah kabut asap tebal yang dapat mengurangi jarak pandang dan menghambat penerbangan.

"Kalau kondisi cuaca bagus, mereka bisa geser dari Palangka Raya ke Sampit. Potensi kendalanya saat ini hanya cuaca, dalam hal ini kabut asap tebal. Kalau tidak ada kendala tersebut maka seharusnya dua helikopter itu akan tiba di Sampit hari ini," ujarnya.

Adapun setelah tiba di Sampit, Satgas Udara akan melakukan inventarisasi lokasi dan titik koordinat yang membutuhkan dukungan pemadaman dari udara menggunakan water bombing. Data tersebut akan dikombinasikan dengan informasi dari Satgas Darat yang melakukan pengecekan langsung di lapangan.

Informasi titik api juga dapat diperoleh dari personel kepolisian yang berada di lapangan maupun melalui pemantauan peta satelit Sistem Monitoring Karhutla (SiPongi). Titik yang terindikasi memiliki tingkat kerawanan tinggi akan menjadi pertimbangan dalam menentukan sasaran water bombing.

Prioritas awal diarahkan pada titik api yang berada dalam radius sekitar Kota Sampit. Namun, apabila kondisi memungkinkan dan tersedia dua helikopter, salah satunya akan diarahkan ke wilayah pedalaman yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Ia melanjutkan, berdasarkan pengamatan melalui peta satelit SiPongi, lokasi yang dinilai paling membutuhkan dukungan water bombing adalah titik-titik yang tidak dapat tertangani secara optimal oleh pasukan darat akibat jarak dan keterbatasan akses.

Wilayah selatan Kotim menjadi salah satu perhatian karena mencakup sejumlah kecamatan yang memiliki lokasi karhutla dan sebagian areanya sulit dijangkau melalui akses darat. Daerah itu meliputi Pulau Hanaut, Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan dan Mentaya Hilir Utara.

Namun, pengerahan helikopter tetap akan disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan. Apabila titik api di wilayah perkotaan juga sulit dijangkau, armada udara dapat dialihkan untuk membantu pemadaman di lokasi tersebut.

Mengenai durasi penempatan, Rihel menyebutkan kedua helikopter dapat berada di Sampit selama kondisi karhutla masih membutuhkan dukungan dari udara.

Masa standby tersebut dapat berlangsung selama satu hingga dua pekan atau menyesuaikan perpanjangan dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Untuk saat ini tergantung kondisi lapangan. Tidak menutup kemungkinan bisa saja seminggu, dua minggu sampai dengan kita dan juga perpanjangan dari BNPB," sebutnya.

Rihel juga menyampaikan, operasional kedua helikopter tersebut merupakan dukungan BNPB sehingga Pemerintah Kabupaten Kotim tidak perlu mengeluarkan biaya operasional. Kontrak penyewaan helikopter dilakukan BNPB dengan operator melalui mekanisme yang telah ditetapkan.

"Kontraknya dari BNPB dengan operator. Biayanya semua ditanggung BNPB. Jadi Pemda tidak mengeluarkan biaya untuk operasionalnya," tegasnya.

Selain keberadaan titik api, faktor keselamatan penerbangan juga menjadi penentu utama pelaksanaan water bombing. Kabut asap yang terlalu tebal dapat mengurangi visibility sehingga helikopter tidak dapat beroperasi secara aman.

Rihel menyebutkan jarak pandang menjadi salah satu persyaratan penting. Jika jarak pandang hanya sekitar satu kilometer, penerbangan dinilai tidak memungkinkan, sehingga diperlukan kondisi visibilitas yang jauh lebih baik.

Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.