Dispar DIY menilai karya seniman neurodivergen bagian ekonomi kreatif

calendar_today 02.08.2026 - person  - timer ~

Dispar DIY menilai karya seniman neurodivergen bagian ekonomi kreatif

Minggu, 2 Agustus 2026 23:06 WIB

Image Print

Pengunjung mengamati karya pada pameran Jejak Warna di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (2/8/2026). ANTARA/Rahid Putra Laksana

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menilai karya seniman neurodivergen yang dipamerkan dalam "Jejak Warna" di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta merupakan subsektor ekonomi kreatif yang berpotensi terus dikembangkan.

"Jadi hasil karya yang hari ini ditampilkan ini merupakan bagian dari subsektor ekonomi kreatif," kata Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY Iwan Pramana saat menghadiri pembukaan pameran Jejak Warna di GIK UGM Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, pengembangan ekonomi kreatif di DIY berlandaskan kreativitas dengan prinsip inklusivitas sehingga setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan mengembangkan potensinya.

"Jadi kami di ekonomi kreatif itu juga melibatkan teman-teman baik yang difabel ataupun adik-adik autis ini juga menjadi bagian dari kami," katanya.

Ia mengatakan karya para seniman neurodivergen tidak hanya berpotensi berkembang pada subsektor seni rupa, tetapi juga berpeluang dikembangkan pada subsektor ekonomi kreatif lain seperti seni pertunjukan dan musik, seiring terbukanya ruang kolaborasi dalam berbagai kegiatan kreatif.

"Kami berharap dapat berkolaborasi dengan Creative for Autism (C4A) maupun Pesona Autistik Indonesia (PAI) agar seniman neurodivergen dapat dilibatkan dalam berbagai pameran dan kegiatan ekonomi kreatif yang diselenggarakan pemerintah daerah bisa menghadirkan adik-adik ini di kegiatan kami," katanya.

Pameran Jejak Warna berlangsung pada 2 hingga 8 Agustus 2026 di GIK UGM dengan menghadirkan 46 karya dari 32 seniman neurodivergen.

Selain pameran lukisan, kegiatan tersebut juga diisi bazar karya, talkshow, dan layanan konseling bagi keluarga dengan anak neurodivergen.

Ketua panitia Adriana mengatakan neurodiversitas merupakan konsep yang menekankan keberagaman cara kerja otak manusia sehingga individu neurodivergen memiliki cara berpikir, berkomunikasi, dan memproses informasi yang berbeda.

"Pesan di balik neurodiversitas bukan berfokus pada ketidakmampuan, tetapi pada perbedaan kemampuan," katanya.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai neurodiversitas sekaligus membuka kesempatan yang lebih luas bagi individu neurodivergen untuk berpartisipasi dalam dunia seni maupun kehidupan bermasyarakat.

Salah seorang orang tua seniman peserta pameran asal Mojokerto Dezy Lyzawaty mengatakan keikutsertaan anaknya dalam pameran tersebut menjadi penyemangat bagi keluarganya untuk terus mendukung proses berkarya.

Menurut dia karya pertama anaknya yang dipamerkan pada kegiatan serupa tahun lalu berhasil terjual sehingga semakin memotivasi keluarganya untuk terus mengembangkan potensi yang dimiliki.

"Saya pulang membawa semangat dan energi untuk terus berjuang buat Dani," katanya.

Dezy berharap semakin banyak orang tua anak neurodivergen memperoleh semangat untuk terus mendampingi putra-putrinya mengembangkan bakat melalui ruang-ruang kreatif seperti pameran tersebut.

Pengunjung mengamati karya pada pameran Jejak Warna di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (2/8/2026). Pameran tersebut menghadirkan 46 karya dari 32 seniman neurodivergen, yakni individu dengan autisme, ADHD, disleksia, dispraksia, dan kondisi neurologis lainnya, sebagai upaya memperluas pemahaman masyarakat tentang neurodiversitas sekaligus menegaskan seni sebagai ruang yang inklusif bagi setiap individu. ANTARA FOTO/Rahid Putra Laksana. (ANTARA FOTO/Rahid Putra Laksana)

Pewarta : Victorianus Sat Pranyoto dan Rahid Putra Laksana
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026