Magetan (ANTARA) - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magetan Rohmat Hidayat menyatakan Program Aksi Cegah Stunting (ACS) yang digulirkan pemerintah pusat menggandeng pemda, akademisi, dan lembaga internasional, telah berhasil menurunkan kasus kekerdilan anak di wilayah setempat.
Kepala Dinas itu menjelaskan Program Aksi Cegah Stunting (ACS) pertama kali diinisiasi di Magetan pada tahun 2021. Magetan menjadi salah satu dari 14 kabupaten/kota percontohan ACS yang bekerja sama dengan Human Development Partnership (HBP), Institute of Public Policy and Government, serta Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia.
Proyek rintisan itu diawali di Desa Jabung, wilayah kerja Puskesmas Panekan, dengan rumah sakit rujukan utama RSUD dr Sayidiman.
"Prinsip utama ACS adalah penguatan poros rujukan mulai dari tingkat posyandu, puskesmas, hingga rumah sakit rujukan untuk anak stunting. Hasilnya, kasus stunting di Desa Jabung berhasil diturunkan dari 43 balita menjadi 23 balita dalam kurun waktu 2022–2023. Keberhasilan itu kemudian direplikasi sehingga saat ini seluruh 22 puskesmas di Magetan telah melaksanakannya," ujar Rohmat dalam rapat evaluasi Program Aksi Cegah Stunting (ACS) di Magetan, Selasa.
Seiring bergulirnya program tersebut, kini Dinkes Magetan melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) perluasan rujukan stunting dengan beberapa rumah sakit lain, yaitu RS Paru Manguharjo Madiun, RSUD dr Soedono Madiun, dan RSU Aisyiyah Ponorogo.
Hal itu untuk mengurangi penumpukan rujukan balita stunting di RSUD dr Sayidiman Magetan. Sekaligus memangkas jarak serta waktu tempuh bagi keluarga balita stunting yang membutuhkan penanganan medis rujukan.
Rohmat menjelaskan melalui Program ACS, sesuai data Pemkab Magetan berhasil menurunkan kasus stunting dari 30,2 persen berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Kemenkes 2018 menjadi 10,4 persen berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kemenkes terbaru tahun 2024.
Selain perluasan fasilitas rujukan, Dinkes Magetan juga terus memperkuat kapasitas petugas kesehatan secara berkala agar mampu melakukan edukasi, deteksi dini, dan penanganan kasus stunting secara lebih cepat dan tepat.
Ia menegaskan bahwa pencegahan dan penurunan stunting bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan semata, melainkan gerakan bersama seluruh elemen masyarakat.
Hal itu karena penanganan stunting merupakan prioritas utama pembangunan nasional yang dapat berdampak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
"Evaluasi program ACS ini diselenggarakan untuk menyamakan persepsi antara puskesmas dan rumah sakit rujukan dalam tata laksana balita stunting, serta menggalang dukungan lintas sektor di luar bidang kesehatan agar program ACS berjalan optimal," katanya.
Pewarta: Louis Rika Stevani
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.