Jumat, 14 Agustus 2026 18:25 WIB
Arsip- Seorang petani di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah sedang menjemur gabah hasil panen sebelum digiling menjadi beras, Sabtu (11/3/2023). (ANTARA/Moh Ridwan)
Parigi, Sulteng (ANTARA) - Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) mengatakan Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah mengalami surplus beras di angka 130 ribu ton pada tahun 2025.
"Kelebihan produksi ini salah satu angka paling besar dibandingkan dengan surplus beberapa tahun lalu. di bandingkan dengan 2024 angka surplus hanya sekitar 98 ribu ton," kata Kepala Dinas TPHP Parigi Moutong Dadan Priatna di Parigi, Jumat.
Ia menjelaskan surplus komoditas beras di tunjang dengan konsistensi petani yang terus meningkatkan angka produksi dari tahun ke tahun, yang aman capaian itu sangat membantu dalam memperkuat ketahanan pangan daerah maupun nasional.
Parigi Moutong memiliki luas persawahan cukup signifikan, di mana luas tanam padi Kabupaten itu mencapai 63 ribu hektare dengan hasil panen sebanyak 317.361 ton gabah kering giling (GKG) menghasilkan 180 ribu ton lebih beras siap konsumsi.
"Rata-rata konsumsi lokal di angka 50 ribu ton per kapita per tahun dengan jumlah penduduk 459,57 jiwa tersebar di 283 desa/kelurahan," ujarnya.
Ia menjelaskan pertanian salah satu sektor unggulan daerah di Parigi Moutong, selain sektor kelautan dan perikanan sekaligus berkontribusi terhadap penggerak roda perekonomian daerah.
Di satu sisi produksi petani sangat positif maka di sisi lain pemerintah setempat juga berupaya menjaga stabilitas harga beras, supaya terjadi keseimbangan produksi dan harga pasar.
"Sejauh ini harga beras masih stabil. Beras petani lokal selain di konsumsi dalam daerah juga diperdagangkan lintas provinsi. Beras asal Parigi Moutong sebagian besar masuk ke pasar Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Utara, termasuk dipasok ke Maluku Utara dan sekitarnya di kawasan timur Indonesia," tutur Dadan.
Ia menambahkan saat ini petani lokal mengandalkan sistem tanam benih langsung (tabel) yang mampu berproduksi dua sampai tiga kali dalam setahun dengan rata-rata produktivitas sekitar 5,2 ton per hektare.
Kini pemerintah setempat melakukan inovasi dengan menggunakan metode tanam Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) atau budidaya berbasis teknologi guna meningkatkan produktivitas padi.
"Dari metode PM-AAS produktivitas padi petani diproyeksikan meningkat 10 ton per hektare," kata dia.
Pewarta : Mohamad Ridwan
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026