Beijing (ANTARA) - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengakui Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk memperbaiki supremasi hukum agar dapat memberikan rasa percaya kepada mitra dari luar negeri."Jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang setara, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk memperkuat supremasi hukum. Itulah sebabnya kami juga sedang mengembangkan 'Indonesia International Financial Center' di Bali,"
kata Luhut saat memberikan kuliah tamu di the School of Public Policy and Management, Universitas Tsinghua, Beijing, Jumat (18/9).
Hadir sekitar 200 mahasiswa-mahasiswi asal Indonesia dan negara lain di tempat tersebut. Luhut sendiri mendapat gelar "Honorary Professor" dari Universitas Tsinghua pada 2024 lalu.
"Pendirian 'financial center' itu dimaksudkan untuk membangun kepercayaan, menciptakan 'platform' terpercaya bagi modal global dengan kepastian hukum yang lebih kuat dan standar internasional. Sebab, pada akhirnya, investasi jangka panjang bergantung pada kepercayaan. Kepercayaan dan ketidakpercayaan," ungkap Luhut.
Indonesia International Financial Center (IIFC) dipersiapkan dalam 2-3 tahun untuk menyiapkan berbagai perangkat kelembagaan dan infrastruktur pendukung.
Danantara berperan sebagai pengembang kawasan, sedangkan pengelolaan IIFC akan dipimpin oleh pimpinan kawasan beserta "governor" yang bertanggung jawab membangun seluruh sistem dan tata kelola agar pusat keuangan tersebut dapat beroperasi secara optimal.
"Para investor membutuhkan kepastian. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa aturan itu jelas, kontrak dihormati dan dipatuhi, serta kebijakan bersifat konsisten. Berbagai studi menunjukkan bahwa supremasi hukum memiliki kaitan terkuat dengan kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi di banyak negara," kata Luhut.
Luhut lebih lanjut mengatakan dirinya memberi tahu Menteri Luar Negeri Wang Yi bahwa Indonesia memiliki pusat penelitian AI sendiri di Kura-Kura Bali karena kecerdasan buatan sangat penting saat ini.
Luhut bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada Kamis (17/9) di Beijing untuk menegaskan pentingnya hubungan persahabatan dan rasa percaya antara kedua negara.
"Menurut saya, kini kita perlu melangkah lebih jauh: dari sekadar alih teknologi menuju inovasi bersama, serta dari pabrik-pabrik menuju riset dan pengembangan talenta," tambah Luhut.
Saat perusahaan China berinvestasi di Indonesia, Luhut mengatakan pihaknya ingin perusahaan tersebut sukses, tapi mereka juga ingin investasi tersebut membangun keterampilan, teknologi, riset, kapabilitas, dan rantai pasok lokal Indonesia.
"Di dunia yang semakin terfragmentasi, Indonesia dan China seharusnya tidak semakin menjauh. Kita seharusnya semakin dekat, harus memperdalam hubungan ekonomi kita, harus memperluas operasi teknologi kita dan yang terpenting, kita harus membangun kemitraan yang menciptakan kemakmuran bagi rakyat," Jelas Luhut.
Ia pun meminta agar para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di China menyadari bahwa peran China bagi Indonesia sangatlah krusial terutama dalam 10 tahun terakhir.
"Saya sering mendapat tekanan saat bertemu dengan rekan-rekan lain. Mereka bertanya, 'Mengapa Anda begitu dekat dengan China?' Saya menjawab, bagi kami, ini adalah soal kelangsungan hidup. Indonesia harus bertahan dan agar bisa bertahan, kita membutuhkan investasi yang masuk ke Indonesia, kita juga perlu melihat peluang pasar, kita ingin adanya kerja sama penelitian, ada begitu banyak hal yang kita butuhkan," kata Luhut.
Nilai perdagangan Indonesia-China pada 2025 mencapai 167 miliar dolar AS sedangkan investasi adalah 7,6 miliar dolar AS. Sementara hingga Juli 2026, nilai perdagangan keduanya telah mencapai 120 miliar dolar AS dan diperkirakan dapat mencapai 207 miliar dolar AS pada akhir tahun sementara investasi dari China dan Hong Kong sampai Juni 2026 sudah 10,2 miliar dolar AS.
"Sebagai penutup, jangan ragu untuk kembali ke Indonesia setelah Anda menghabiskan waktu bekerja di China. Anda bisa melihat sendiri bahwa Indonesia akan terus berkembang maju dan saya berjanji kepada Anda meski generasi saya telah membuat banyak kesalahan, saya tidak ingin melihat Anda mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut," kata Luhut.
Ikut mendampingi Luhut dalam kunjungan tersebut Bersama Luhut, hadir juga Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu, Sekretaris Eksekutif DEN Setipan Hario Seto, Direktur Ekesekutif DEN Mochammad Firman Hidayat, anggota DEN Heriyanto Irawan, penasihat khusus bidang Hubungan Internasional Jona Widhagdo Putri dan pejabat terkait lainnya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Di Beijing, Luhut akui Indonesia masih harus perkuat supremasi hukum
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.