Kamis, 08 Oktober 2026, 21:51 WIB
Warta Ekonomi, Jakarta -
Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp319,0 triliun hingga akhir September 2026. Defisit tersebut setara dengan 1,24% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Posisi defisit tersebut meningkat dibandingkan akhir Agustus 2026 yang tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93% PDB. Dengan demikian, defisit bertambah sekitar Rp78,9 triliun dalam satu bulan.
Suahasil mengatakan defisit merupakan bagian dari desain APBN. Pemerintah memang merancang belanja negara dapat lebih besar dibandingkan penerimaan yang dikumpulkan dari masyarakat.
“Defisit APBN di angka Rp319,0 triliun, dan defisit 1,24% PDB. Memang APBN kita dari sejak awal didesain untuk defisit. Artinya kita desain supaya belanja negara bisa lebih tinggi dari apa yang kita kumpulkan dari masyarakat,” ujar Suahasil dalam acara Investor Daily Summit di Raffles Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Pada periode yang sama, pendapatan negara telah mencapai Rp2.341,5 triliun atau 74,5% dari target. Sementara realisasi belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun atau 69% dari pagu anggaran.
Menurut Suahasil, realisasi tersebut masih berada dalam jalur yang sesuai dengan perkembangan APBN hingga tiga perempat tahun berjalan.
“Relatively on track, tentu nanti akan ada percepatan belanja, terutama di bulan November dan di bulan Desember. Tetapi tiga perempat tahun belanja hampir 70 persen ini artinya juga oke, on track,” jelas Suahasil
Suahasil menegaskan pemerintah akan tetap menjaga kredibilitas APBN dalam menjalankan fungsi fiskalnya. Menurut dia, anggaran negara tidak hanya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan perlindungan kepada masyarakat.
“APBN akan terus menjadi APBN yang menumbuhkan, APBN yang melindungi, dan APBN yang akan terus kredibel,” katannya
Ia menambahkan, pemerintah akan menjaga angka-angka dalam APBN agar pengelolaan fiskal tetap dipercaya dan manfaat anggaran dapat kembali dirasakan masyarakat.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra