Data Terbaru Tren Childfree di Indonesia: Mengapa Lebih Populer di Masyarakat Perkotaan?

calendar_today 18.07.2026 - person  - timer ~

Daftar Isi

Jakarta -

Fenomena childfree atau keputusan untuk tidak memiliki anak semakin banyak diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) juga menemukan bahwa fenomena ini lebih banyak dijumpai di wilayah perkotaan, terutama di Pulau Jawa. Lantas, mengapa pilihan childfree lebih banyak muncul di kawasan perkotaan?

Data Terbaru: Sekitar 71 Ribu Perempuan Memilih Childfree

Berdasarkan data BPS yang terbit tahun 2023 berjudul Menelusuri Jejak Childfree di Indonesia yang menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022, terdapat sekitar 71 ribu perempuan berusia 15 hingga 49 tahun menyatakan tidak ingin memiliki anak.

Hingga saat ini, data tersebut masih menjadi salah satu acuan nasional mengenai fenomena childfree karena belum ada pembaruan BPS yang menunjukkan perubahan signifikan pada angkanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa Lebih Banyak Ditemukan di Perkotaan?

Deputi Bidang Pengendalian Kependudukan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto, mengatakan fenomena childfree di Indonesia memang lebih banyak ditemukan di wilayah perkotaan.

"Kebanyakan di perkotaan memang. Tapi saya katakan masih kecil. Ini terpengaruh oleh media sosial. Jadi (semacam) tren," kata Bonivasius ketika ditemui detikcom di kantor United Nations Population Fund (UNFPA), Jakarta Pusat, Kamis (3/7/2025).

Pulau Jawa menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, terutama DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Menurut Bonivasius, paparan media sosial membuat berbagai pilihan gaya hidup, termasuk childfree, lebih mudah dikenal dan didiskusikan.

Selain itu, kawasan perkotaan umumnya memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, biaya hidup yang lebih besar, serta perubahan cara pandang terhadap pernikahan, karier, dan perencanaan keluarga. Berbagai faktor tersebut turut memengaruhi keputusan untuk menunda atau tidak memiliki anak.

Tidak Hanya Dipengaruhi Faktor Ekonomi

Bonivasius menjelaskan bahwa keputusan menjalani hidup childfree tidak selalu berkaitan dengan kondisi ekonomi. Salah satu contohnya adalah pengalaman kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Menurut Bonivasius, pengalaman tersebut dapat menimbulkan kekhawatiran bahwa anak yang lahir kelak akan mengalami pengalaman serupa.

"KDRT misalkan. Itu terjadi juga, dia nggak mau anaknya mengalami hal serupa. Menikah pun nggak mau karena takut anaknya jadi korban seperti itu," ujar Bonivasius.

Di sisi lain, sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup turut memengaruhi keputusan untuk menjalani hidup childfree. Sebagian pasangan memilih tidak memiliki anak karena ingin lebih fokus mengembangkan karier, melanjutkan pendidikan, atau mengejar tujuan hidup lainnya. Urbanisasi, meningkatnya tingkat pendidikan, dan perubahan cara pandang terhadap keluarga juga ikut membentuk keputusan tersebut.

Childfree Masih Menjadi Fenomena yang Relatif Kecil

Bonivasius menegaskan bahwa fenomena childfree di Indonesia saat ini masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduk secara keseluruhan.

"Ternyata memang childfree itu ada, tapi fenomena kecil sekali. Dan kita memang harus tetap hati-hati. Kalau itu terus digaung-gaungkan ya akan menuju ke sana," tutur Bonivasius.

Meski demikian, Indonesia tetap perlu mencermati tren penurunan angka kelahiran. Total Fertility Rate (TFR) Indonesia terbaru dari Survei Penduduk Antar-Sensis (SUPAS) 2025 berada di angka 2,13 anak per perempuan. Angka ini memang masih belum tergolong krisis dan masih berada di atas sejumlah negara maju yang mengalami krisis fertilitas, tetapi menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun dibandingkan data sebelumnya yaitu pada angka 2,18. Karena itu, pemerintah menilai berbagai faktor yang dapat memengaruhi angka kelahiran, termasuk fenomena childfree, perlu terus dipantau sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan struktur penduduk di masa mendatang.

(mal/kna)