Dari Mal ke Pinggir Lapangan, Perjuangan Seorang Ibu Dampingi Sang Anak Kejar Mimpi di Panggung Sepakbola

calendar_today 22.08.2026 - person  - timer ~

Namun, semua itu dijalani Riva dengan satu keyakinan, bahwa sepakbola bukan semata-mata tentang mencetak gol atau mengangkat trofi, melainkan tentang membentuk karakter anak.

“Awalnya mungkin lebih banyak dukanya. Saya yang sebelumnya hampir tidak pernah ke lapangan dan setiap akhir pekan lebih sering ke mal, tiba-tiba harus mengantar anak latihan, panas-panasan di lapangan, dan hampir setiap akhir pekan mendampingi dia bertanding,” ujar Riva di ASIOP Training Ground, Sentul, Jawa Barat, Sabtu (22/8/26).

Riva melihat perubahan besar dalam diri Valian setelah sang anak menemukan sepakbola sebagai olahraga yang disukainya. Valian yang sebelumnya dikenal sebagai anak yang manja mulai belajar keluar dari zona nyaman.

Rutinitas latihan dan pertandingan membuat sang putra harus belajar disiplin. Ia juga dituntut mampu membagi waktu antara sepakbola dan pendidikan, termasuk menyelesaikan tugas sekolah setelah menjalani latihan.

“Setiap anak tentu berbeda. Kalau anak saya, yang awalnya manja dan berada di zona nyaman, setelah mengikuti olahraga yang memang dia sukai, dia mulai berubah,” tuturnya.

Bagi Riva, kemenangan dalam pertandingan bukanlah tujuan utama. Ia bahkan memiliki cara tersendiri dalam menjelaskan makna kemenangan kepada Valian.

“Saya selalu bilang kepada dia, kalau yang kamu cari hanya kemenangan, Mami bisa beli trofi. Tetapi yang saya butuhkan adalah kamu bisa bekerja sebagai tim, bisa berjuang, dan yang paling penting punya disiplin,” katanya.

Kekalahan pun tidak pernah dianggap sebagai sebuah kegagalan. Justru, ia menjadikannya kesempatan bagi sang anak untuk mengevaluasi diri.

Sebaliknya, ketika menang, Riva mengingatkan anaknya agar tidak cepat berpuas diri. Menurutnya, masih banyak pemain lain yang juga berlatih keras dan memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik.

“Ketika kamu menang, masih ada tim lain yang terus berlatih dan berusaha menjadi lebih baik,” ujarnya.

“Setelah menang mereka tetap harus latihan. Begitu juga ketika kalah, mereka harus bangkit dan memperbaiki kekurangan. Menurut saya, siklus seperti itu yang nantinya akan mereka temui di dunia kerja dan kehidupan dewasa,” katanya.

Karena itu, Riva tidak ingin membebani Valian dengan target harus menjadi pesepakbola profesional. Ia akan mendukung apa pun pilihan sang anak di masa depan, meski pendidikan tetap menjadi prioritas.

Namun, jika Valian memilih melanjutkan karier di sepakbola, Riva memastikan dukungan akan tetap diberikan. Latihan tambahan, private, hingga pertandingan akan terus didampingi selama sang anak memang memiliki kemauan.

Di sisi lain, Riva juga menyadari bahwa perjalanan seorang pemain muda tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis. Sikap dan karakter menjadi bagian penting yang harus dibentuk sejak dini.

“Sebagus apa pun kemampuan seorang pemain, attitude tetap menjadi bagian penting. Lingkungan keluarga juga ikut membentuk karakter anak,” ucapnya.

Di pinggir lapangan, Riva lebih memilih menjadi sumber energi positif bagi sang anak. Ketika Valian menguasai bola, ia memberikan dukungan dengan menyebut nama sang anak atau memberikan kalimat penyemangat.

“Love you, Sayang,” atau “Mommy proud,” menjadi bentuk dukungan Riva kepada sang putra. Ia ingin sang anak memahami bahwa dukungan orang tua tidak bergantung pada hasil pertandingan.

Sebab, bagi Riva, Falion tetap seorang anak yang harus menikmati masa pertumbuhannya. Sepakbola jangan sampai berubah menjadi tekanan hanya karena tuntutan untuk menang.

“Mereka masih anak-anak, jadi jangan sampai sepak bola justru menjadi tekanan. Mereka harus menikmati proses bermain, berlatih, bertanding, menang maupun kalah,” katanya.

Perjalanan mendampingi Falion pun kini membawanya ke panggung Garuda International Cup (GIC) 2026. Ajang tersebut menjadi pengalaman pertama Valian mengikuti GIC setelah sebelumnya beberapa kali tampil di turnamen internasional di luar negeri.

Bagi Riva, GIC memberikan pengalaman kompetitif yang berharga bagi pemain muda. Meski menurutnya masih terdapat sejumlah hal minor yang dapat diperbaiki dari penyelenggaraan, secara keseluruhan turnamen tersebut dinilai sudah memberikan atmosfer kompetisi internasional bagi anak-anak.

Lebih dari sekadar pertandingan, perjalanan Valian di sepakbola membuat Riva memahami bahwa menjadi orang tua pemain muda berarti ikut menjalani proses dari pinggir lapangan.

Ada panas yang harus ditahan, perjalanan yang harus ditempuh, pertandingan yang harus disaksikan, hingga rasa kecewa ketika anak kalah. Namun, semua itu terasa sepadan ketika melihat sang anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan berani keluar dari zona nyaman.