Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat pasar modal Indonesia, mulai dari membenahi tata kelola hingga meningkatkan investasi di dalam negeri. Salah satu langkah yang disiapkan adalah masuk sebagai pemegang saham Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah proses demutualisasi bursa.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menilai, reformasi pasar modal menjadi momentum untuk memulihkan kepercayaan investor global. Menurut dia, peluang investasi di pasar domestik masih menarik karena valuasi saham relatif murah, sementara fundamental sejumlah perusahaan tetap menunjukkan pertumbuhan.
Menurut Pandu, koordinasi yang dibangun antarlembaga keuangan pemerintah dalam menyampaikan arah reformasi kepada investor global menjadi salah satu pendorong keberhasilan reformasi pasar modal Indonesia. Hal tersebut terjalin dalam forum meja bundar atau roundtable yang digelar di Bangkok, Thailand, di sela-sela pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia dua hari lalu.
Forum tersebut mempertemukan Danantara, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI) serta perwakilan BEI dengan investor global, lembaga pemeringkat dan penyedia indeks internasional. Sejumlah lembaga yang hadir antara lain Moody’s Ratings, S&P Global Ratings, Fitch Ratings, J.P. Morgan dan MSCI. Pandu mengatakan, investor mengapresiasi koordinasi antarlembaga sekaligus menantikan tindak lanjut yang konsisten setelah berbagai kebijakan diumumkan dalam poin-poin reformasi integritas pasar modal sejak Februari lalu.
“Kalau kami melihat posture 2027, apalagi dengan economy team tadi, institusi tadi yang sekarang sudah saling mengisi, saya malah sekarang tendensi bisa dibilang optimis, lebih optimis. Dan juga posture kita dalam berinvestasi mungkin akan lebih lagi ke domestik,” kata Pandu kepada Katadata usai menghadiri roundtable bertajuk Reform, Transparency and Capital: Indonesia’s Financial Sector and the Role of Danantara di Bangkok, Thailand, Selasa (13/10).
Menurut dia, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa koordinasi tersebut berlanjut menjadi implementasi kebijakan yang nyata. Kepercayaan investor tidak cukup dibangun melalui pernyataan atau komitmen, tetapi juga melalui hasil yang bisa mereka lihat.
“Kalau mengenai waktu, give us time, chance to prove,” ujarnya.
Salah satu strategi memperkuat pasar modal Indonesia adalah demutualisasi BEI. Perubahan struktur bursa dari organisasi berbasis keanggotaan menjadi perusahaan berbentuk perseroan diharapkan membuka ruang bagi penguatan modal, perbaikan tata kelola dan peningkatan daya saing.
“Dari sisi keberanian, dari sisi OJK, kemampuan eksekusi OJK dan Bursa untuk membuka demutualisasi, itu menurut kami langkah yang perlu diapresiasi oleh para pemain pasar modal, baik domestik maupun global,” kata Pandu.
Dalam proses demutualisasi bursa, Danantara akan mengambil peran di dalamnya. Pandu mengatakan, Danantara akan masuk sebagai pemegang saham bursa namun tetap mengikuti regulasi yang ditetapkan OJK.
Setelah demutualisasi, Danantara berpeluang menjadi salah satu pemegang saham BEI. Namun, Pandu menyatakan, peran tersebut tidak berarti Danantara akan mengambil alih fungsi regulator ataupun mengintervensi pengelolaan bursa.
Menurut dia, OJK tetap berwenang mengatur ketentuan kepemilikan saham, termasuk batas kepemilikan pemegang saham tertentu. Sementara itu, Danantara akan menjalankan peran sebagai pemegang saham dengan mendorong visi dan rencana bisnis yang mampu meningkatkan daya saing bursa.
Pandu mengatakan, BEI perlu memiliki kemampuan bersaing yang setara dengan bursa regional yang lebih dahulu menjalankan demutualisasi, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand.
“Setelah level playing field-nya sama, tentu nanti akan berbeda sendiri,” ujarnya.
Danantara juga berpotensi memberikan pendanaan baru kepada BEI setelah proses demutualisasi. Pandu menyebut, tambahan modal tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat teknologi dan meningkatkan daya saing infrastruktur pasar modal.
Kendati demikian, ia menyatakan setiap keputusan investasi harus memberikan manfaat yang jelas bagi Danantara dan dijalankan dengan tata kelola yang baik.
“Apa pun investment-investment ke saham, bond, private company, apa pun bentuknya, harus ada benefit yang jelas buat Danantara,” kata Pandu.
Ia menambahkan, karakter Danantara sebagai badan pengelola investasi milik negara membuat lembaga tersebut perlu menerapkan prinsip kehati-hatian lebih kuat dibandingkan investor swasta. Karena itu, Danantara cenderung menyasar perusahaan yang telah memiliki rekam jejak usaha, alih-alih masuk langsung ke perusahaan rintisan yang berisiko tinggi.
Dalam investasi di sektor teknologi, misalnya, Danantara akan mengandalkan pengelola dana yang memiliki keahlian dan rekam jejak yang terbukti.
“Kita harus tahu apa yang memang kita kuasai dan percaya kepada pihak yang memang ahli di bidangnya,” ujarnya.

Acara Danantara Indonesia bertajuk Reform, Transparency and Capital: Indonesia’s Financial Sector and the Role of Danantara sebagai rangkaian dari Dana (Danantara)
Selain mendukung reformasi kelembagaan bursa, Danantara berencana memperbesar porsi investasi di dalam negeri pada 2027. Pandu menilai peluang investasi domestik masih terbuka, terutama karena valuasi saham Indonesia relatif murah dibandingkan riwayatnya.
Ia menyebut valuasi pasar saham Indonesia berada di sekitar sembilan kali rasio harga saham terhadap laba bersih yang diperkirakan atau forward price to earnings (P/E). Menurut Pandu, level tersebut termasuk yang terendah dalam sekitar 20 tahun terakhir.
Selain valuasi yang menarik, Pandu menilai fundamental perusahaan di sektor perbankan, energi, dan barang konsumsi masih cukup kuat. Hal ini tecermin dari tingkat pengembalian ekuitas atau return on equity (ROE) yang masih di atas 15% serta pendapatan dan laba bersih yang terus meningkat.
“Jadi, sebenarnya yang berubah adalah persepsi,” kata dia.
Ia menilai kombinasi valuasi yang menarik, fundamental perusahaan dan koordinasi kebijakan yang lebih kuat menjadi alasan Danantara lebih optimis terhadap prospek investasi domestik pada tahun depan.
Sejumlah sektor yang menarik perhatian Danantara antara lain energi terbarukan, hilirisasi, infrastruktur digital, pusat data, efisiensi energi, pengolahan air hingga pembangunan pabrik yang mendukung rantai pasok energi bersih.
Danantara juga akan melanjutkan investasi yang berkaitan dengan ketahanan pangan, termasuk melalui kerja sama dengan perusahaan daging asal Brasil, JBS. Pandu menyebut skema pendanaan bersama atau matching fund dengan JBS dapat mencapai US$ 2,5 miliar dari masing-masing pihak, sehingga total investasi berpotensi mencapai US$ 5 miliar. Dana tersebut juga diarahkan untuk investasi di Indonesia.
Menurut Pandu, Danantara ingin memastikan bahwa modal yang dikeluarkan dapat menarik investasi tambahan dari mitra swasta. Dengan begitu, investasi negara tidak hanya membiayai proyek, tetapi juga mendorong pembentukan modal dan kegiatan ekonomi yang lebih luas.
Ia mencontohkan proyek pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy (WtE). Untuk setiap Rp 1 yang diinvestasikan Danantara, proyek tersebut berpotensi menarik tambahan investasi sekitar Rp 6–7.
Sementara itu, pada proyek energi terbarukan dan infrastruktur digital, setiap US$ 1 investasi Danantara berpotensi mendorong pembentukan modal sekitar US$ 10–15.
“Skema matching ini merupakan narasi yang baik karena akan ada efek berganda atau multiplier effect,” ujarnya.
Pandu menilai, peningkatan investasi tersebut juga penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menurunkan rasio incremental capital output ratio (ICOR), yakni indikator yang menggambarkan besarnya kebutuhan investasi untuk menghasilkan tambahan output ekonomi.
Danantara memperkirakan sejumlah proyek WtE dapat mulai memberikan hasil dalam beberapa tahun ke depan. Pandu menyebut proyek di Bali telah mencapai sekitar 20% penyelesaian, sementara proyek-proyek lainnya disiapkan untuk memasuki tahap pembangunan secara bertahap.
Di luar WtE, investasi pada energi terbarukan dan infrastruktur digital juga diharapkan memperluas kegiatan ekonomi serta menciptakan lapangan kerja.
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, reformasi pasar modal tidak hanya diarahkan untuk merespons perhatian investor global, tetapi juga untuk membangun pasar yang lebih sehat, efisien dan berkelanjutan.
Perempuan yang akrab disapa Kiki itu melaporkan proses reformasi pasar modal yangs edang berjalan di Indonesia. Fokus ke depan meliputi peningkatan transparansi kepemilikan saham, penguatan pengawasan dan tata kelola hingga pendalaman pasar melalui peningkatan likuiditas dan kualitas perusahaan tercatat.
Menurut Kiki, investor global masih menaruh perhatian pada transparansi kepemilikan saham, kualitas pembentukan harga, likuiditas serta konsistensi pengawasan dan penegakan aturan.
Masukan tersebut akan menjadi bahan evaluasi OJK dalam menyempurnakan kebijakan dan memperkuat infrastruktur pasar.
“Kepercayaan investor tidak cukup dibangun melalui komitmen kebijakan, tetapi harus didukung oleh implementasi yang konsisten dan hasil yang dapat dirasakan oleh pelaku pasar,” kata Kiki.
Dia mengatakan, setelah agenda reformasi berjalan delapan bulan, OJK mencermati perlu untuk membangun fondasi pasar modal yang lebih kuat. Namun, perubahan struktural tidak selalu langsung tercermin dalam indikator pasar dalam jangka pendek.
Karena itu, OJK akan mengevaluasi kebijakan berdasarkan dampaknya terhadap kualitas pembentukan harga, likuiditas, transparansi, dan perlindungan investor. Agenda berikutnya mencakup penguatan transparansi kepemilikan saham, pengawasan konsentrasi kepemilikan, peningkatan free float, serta perbaikan kualitas emiten dan ketentuan keberlanjutan pencatatan.
Bagi OJK, keberhasilan reformasi tidak semata-mata diukur dari jumlah aturan yang diterbitkan, tetapi dari efektivitas implementasinya dalam memperbaiki kualitas pasar.
Dari sisi pemerintah, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan, upaya memperkuat pasar keuangan tidak cukup hanya dengan menarik investasi masuk ke Indonesia. Pemerintah juga perlu memastikan investor memiliki kepercayaan untuk menanamkan modal dalam jangka panjang.
“Capital follows opportunity, but long-term capital stays where there is trust,” kata Suminto.
Ia menjelaskan, kepercayaan investor akan dibangun melalui tiga pendekatan. Pertama, menjaga kredibilitas, kinerja, dan stabilitas perekonomian, baik dari sisi fiskal, moneter, maupun sektor keuangan. Arah kebijakan tersebut juga perlu dikomunikasikan secara terpadu kepada pelaku pasar.
Kedua, menjaga disiplin dan integritas pasar untuk menciptakan sistem keuangan yang lebih dalam, aktif, dan likuid. Ketiga, memperluas pendalaman pasar dengan memperkuat peran investor institusional dan ritel domestik.
Menurut Suminto, penguatan basis investor domestik diperlukan agar pasar keuangan Indonesia tidak hanya lebih aktif dan likuid, tetapi juga lebih tahan menghadapi gejolak global.
Bagi Danantara, reformasi kelembagaan, perbaikan tata kelola dan peningkatan investasi domestik merupakan bagian dari agenda yang saling berkaitan satu sama lain. Demutualisasi diharapkan memperkuat daya saing bursa, sementara tambahan modal dan investasi pada sektor produktif dapat memperluas aktivitas ekonomi serta meningkatkan kedalaman pasar.
Pandu mengatakan, pasar modal yang lebih dalam merupakan salah satu langkah untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8%. Danantara, menurut dia, dapat berperan sebagai katalis untuk mendorong investasi dan membawa lebih banyak modal ke dalam negeri.
“Langkah yang positif, dan itu nantinya tentu akan membawa market deepening. Untuk growth (pertumbuhan) 8% bisa tercapai, salah satunya yang dibutuhkan adalah market deepening,” kata Pandu.