Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia memasukkan infrastruktur digital dan pusat data (data center) ke dalam daftar proyek strategis yang akan dipacu pada 2027. Investasi itu akan menjadi salah satu fokus dalam upaya Danantara menarik modal global melalui New Asia Forum (NAF) 2026.
Seiring dengan itu, analis memproyeksikan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Indointernet Tbk (EDGE) dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) akan mendapatkan angin segar dari proyek tersebut.
Managing Director Global Relations & Communications Danantara Pahala Mansury mengatakan, Danantara menargetkan penghimpunan investasi sebesar US$ 30 miliar atau setara Rp 539,58 triliun melalui forum itu. Danantara membidik sektor energi, mineral kritis (critical minerals) dan infrastruktur digital yang akan dikebut tahun depan.
Sementara itu, Managing Director Investment Danantara Investment (DIM) Stefanus Ade Hadiwidjaja mengatakan, pengembangan pusat data dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia berpotensi mendatangkan investasi berskala besar sekaligus menciptakan ribuan lapangan kerja di Indonesia.
Menurut Stefanus, setiap pembangunan pusat data berkapasitas 100 megawatt berpotensi menciptakan ribuan lapangan kerja. Danantara juga tengah menyiapkan sejumlah proyek pusat data berskala besar yang diharapkan dapat diumumkan dalam waktu dekat.
Dalam eskapansi itu dia menjelaskan, strategi investasi Danantara tidak hanya berorientasi pada penghimpunan modal, tetapi juga pada transfer teknologi, pengetahuan, kemampuan dan pengembangan talenta. Karena itu, Danantara ingin memastikan investasi yang masuk memberikan nilai tambah bagi perekonomian domestik.
“Kami ingin menggabungkan modal dengan smart capital. Jadi, bukan hanya uang yang masuk, tetapi juga teknologi, pengetahuan, kemampuan dan talenta,” ujar Stefanus dalam Media Coffee Session di Wisma Danantara, Kamis (22/10).
Dia mengatakan, Danantara akan tetap berhati-hati dalam memilih proyek investasi, terutama di tengah pesatnya perkembangan industri AI secara global. Namun, kehati-hatian tersebut tidak berarti Danantara akan melewatkan peluang pertumbuhan di sektor tersebut.
Danantara juga berencana menggandeng sejumlah perusahaan global untuk mengembangkan pusat data dan infrastruktur energi di Indonesia. Stefanus menegaskan, investasi tersebut harus dilakukan dengan memperhatikan ketersediaan sumber daya dan keberlanjutan lingkungan.
Menurut dia, ada dua aspek utama yang menjadi perhatian Danantara dalam pengembangan pusat data, yakni pasokan energi dan pengelolaan air.
Dari sisi energi, Danantara mendorong penerapan konsep bring your own energy (BYOE), terutama untuk pusat data berkapasitas besar, misalnya di atas 500 megawatt. Melalui pendekatan ini, investor diharapkan menyediakan sumber energi sendiri agar kebutuhan pusat data tidak mengganggu pasokan listrik bagi masyarakat maupun sektor industri lain.
Sementara itu, untuk pusat data berskala lebih kecil yang menggunakan jaringan listrik umum, pemanfaatan pasokan listrik harus mempertimbangkan ketersediaan kapasitas dan harga yang layak secara komersial.
Stefanus menekankan bahwa investasi pusat data harus memberikan manfaat bagi seluruh pihak, baik investor, penyedia energi maupun perekonomian Indonesia.
Selain energi, Danantara juga akan memperhatikan konsumsi air. Investor pusat data diharapkan menggunakan teknologi yang dapat menekan kebutuhan air serta menerapkan sistem pengolahan air. Jika memungkinkan, fasilitas desalinasi juga dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya air.
Menurut Stefanus, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya Danantara memastikan investasi yang masuk tidak hanya membawa modal, tetapi juga teknologi dan praktik bisnis berkelanjutan.
Seiring denagn rencana ekspansi Danantara tersebut, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama menilai, rencana investasi Danantara di sektor pusat data dan AI pada 2027 berpotensi menjadi katalis positif bagi industri pusat data Indonesia.
Menurut Nafan, kebutuhan infrastruktur digital terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital, penggunaan komputasi awan (cloud computing), dan pemanfaatan AI oleh dunia usaha. Investasi Danantara berpotensi memperluas akses pendanaan untuk pembangunan pusat data, mempercepat penambahan kapasitas, serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek industri tersebut.
“Namun, realisasi dampaknya akan sangat bergantung pada besaran investasi, skema pendanaan, pemilihan mitra strategis, serta proyek yang benar-benar dijalankan,” kata Nafan.
Menurut Nafan, sejumlah emiten yang berpotensi mendapat sentimen positif antara lain PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Indointernet Tbk (EDGE) dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL). Ketiganya memiliki tingkat eksposur yang berbeda terhadap industri pusat data dan infrastruktur digital.
Dia menjelaskan, DCII dan EDGE memiliki keterkaitan langsung dengan bisnis pusat data sehingga berpotensi memperoleh sentimen sektoral yang lebih kuat. Sementara itu, MTEL dapat diuntungkan apabila investasi tersebut turut mendorong pembangunan infrastruktur konektivitas dan ekosistem digital.
Selain ketiga emiten tersebut, TLKM juga layak dicermati melalui ekosistem digital dan bisnis pusat datanya, termasuk NeutraDC. Meski demikian, besarnya manfaat bagi masing-masing emiten tetap bergantung pada keterlibatan mereka dalam proyek investasi Danantara.
Nafan mengatakan, investor perlu mencermati sejumlah indikator fundamental sebelum mengambil keputusan investasi. Indikator tersebut mencakup tingkat utilisasi kapasitas pusat data, pertumbuhan pendapatan berulang, kontrak jangka panjang dengan pelanggan, belanja moda serta kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas positif.
Pasalnya, meski memiliki prospek pertumbuhan yang menarik, industri pusat data membutuhkan investasi awal yang besar, konsumsi listrik tinggi, serta dukungan jaringan dan sistem pendingin yang memadai.
“Untuk bisnis AI, kebutuhan komputasi berkapasitas tinggi juga berpotensi meningkatkan kebutuhan investasi dan kompleksitas operasional,” ujarnya.