Jakarta, CNN Indonesia --
Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat (4/9) dilaporkan meluas ke sejumlah wilayah daratan Sumatra hingga Pulau Jawa.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menyatakan pergerakan abu vulkanik tersebut sangat bergantung pada dinamika cuaca dan arah embusan angin di atmosfer.
"Jadi arah sebaran abu ini sangat dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin pada berbagai ketinggian. Tinggi kolom erupsi, durasi erupsi, dan jumlah material yang dikeluarkan sangat mempengaruhi arah sebaran abu tersebut. Oleh sebab itu, arah sebaran abu dapat berubah dalam waktu relatif singkat dan harus diperbarui berdasarkan kondisi meteorologi terkini," ujar Lana Saria, Minggu (6/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pemantauan gabungan lintas lembaga, sebaran abu saat ini sudah melingkupi kawasan yang cukup luas, mulai dari Banten hingga wilayah DKI Jakarta dan Bengkulu.
"Berdasarkan gabungan informasi erupsi dan VONA dari PVMBG melalui MAGMA Indonesia, informasi VAAC Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9 oleh BMKG, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar di atmosfer ke arah Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu," ungkap Lana.
Pilihan Redaksi
Terkait dengan keselamatan untuk penerbangan, Badan Geologi secara intensif menyuplai data mitigasi berkala kepada pemangku kepentingan penerbangan guna mengantisipasi gangguan pada rute maskapai.
"PVMBG menyampaikan informasi sumber erupsi, waktu kejadian, tinggi kolom abu, warna, intensitas, dan arah kecenderungan kolom abu yang teramati. Untuk keselamatan penerbangan, informasi tersebut dikoordinasikan melalui mekanisme Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) dan menjadi masukan bagi otoritas penerbangan serta lembaga meteorologi penerbangan," tutur Lana.
Lana menambahkan bahwa potensi eskalasi gangguan keselamatan penerbangan dan kawasan permukiman berbanding lurus dengan durasi serta intensitas erupsinya.
"Potensi dampak yang lebih luas ini akan meningkat apabila kolom erupsi menjadi lebih tinggi, erupsi berlangsung lebih lama, atau angin membawa abu ke jalur penerbangan dan wilayah berpenduduk," jelasnya.
Meski demikian, keputusan mengenai penutupan atau penyesuaian operasional penerbangan berada penuh di tangan otoritas terkait berdasarkan evaluasi berkala.
"Dampak terhadap operasional bandara ditetapkan oleh otoritas penerbangan berdasarkan informasi abu aktual, prakiraan penyebaran, dan standar keselamatan penerbangan. Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi resmi karena sebaran abu tidak dapat diproyeksikan berdasarkan satu kejadian erupsi," kata Lana.
Menghadapi paparan abu vulkanik yang meluas, warga diimbau untuk membatasi kegiatan di ruang terbuka serta mematuhi arahan keselamatan dari pihak berwenang.
"Arah dan jangkauan sebaran abu dapat berubah bergantung pada arah dan kecepatan angin. Oleh karena itu, (masyarakat) dihimbau untuk saat ini mengurangi aktivitas di luar ruangan dan terus mengikuti informasi resmi dari pemerintah," katanya.
(csr/isn)