CORE: Ada 1 juta ton tetes tebu yang bisa dikembangkan jadi bioetanol

calendar_today 26.07.2026 - person  - timer ~

CORE: Ada 1 juta ton tetes tebu yang bisa dikembangkan jadi bioetanol

Minggu, 26 Juli 2026 14:10 WIB

Image Print

Petani menggunakan alat berat memindahkan tebu saat panen raya di kawasan Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026). Pengembangan ekosistem tebu yang terintegrasi dari hulu hingga hilir di Lanud Abdulrachman Saleh tersebut menghasilkan gula, tebu yang diolah menjadi bioetanol, bahan bakar ramah lingkungan, pupuk organik dan berbagai produk industri bernilai tambah yang mendukung ketahanan energi serta memperkuat industri nasional. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/agr

Jakarta (ANTARA) - Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menyampaikan terdapat satu juta ton tetes tebu atau molase yang berpeluang untuk digunakan dalam pengembangan bioetanol.

“Total produksi molase nasional sekitar 1,9 juta ton per tahun. Yang baru keserap itu 900 ribu ton, masih ada 1 juta ton lagi. Ini berpeluang dipakai,” ujar Eliza ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Minggu.

Akan tetapi, lanjut dia, pasokan tetes tebu kebanyakan berasal dari luar Pulau Jawa, sedangkan pengolahannya berlokasi di Pulau Jawa. Permasalahan tersebut menimbulkan biaya logistik dalam prosesnya.

Lebih lanjut, Eliza juga menyoroti kemampuan nasional dalam memproduksi fuel grade ethanol (FGE) atau etanol dengan kadar di atas 99 persen yang layak dicampur dengan bahan bakar minyak (BBM).

“Realitas produksi domestik itu cuma sekitar 26 ribu kiloliter (KL) per tahun yang berasal dari tiga perusahaan utama di Lampung, DIY, dan Solo,” kata Eliza.

Total kapasitas terpasang seluruh pabrik etanol nasional itu mencapai 303 ribu KL dengan utilitas aktual berkisar di angka 172 ribu KL.

Ia menilai kondisi tersebut mencerminkan keterbatasan suplai bahan baku dan infrastruktur industri yang belum siap mendukung skala mandatori campuran dalam waktu dekat.

Oleh karena itu, untuk menerapkan kebijakan bioetanol E5 hingga E20 di skala nasional, Eliza menegaskan pentingnya investasi masif dalam rantai pasok dan infrastruktur bioetanol dalam beberapa tahun ke depan.

“Keberhasilan implementasi E5, E10, bahkan E20 nanti ini sangat bergantung pada skenario kebijakan untuk meningkatkan produktivitas tebu, serta mandatori campuran ditegakkan dengan kepastian offtaker oleh Pertamina,” kata Eliza.

Dengan demikian, ketimpangan kemampuan produksi FGE dengan kebutuhan untuk pengembangan bioetanol bisa ditutup secara bertahap tanpa harus bergantung kepada impor etanol.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah menargetkan penerapan campuran etanol 10 persen dalam bahan bakar minyak (E10) mulai 2027 sebagai tahap awal sebelum beralih ke E20.

Ia mengatakan pemerintah telah mengkaji kebijakan mandatori etanol sejak 2025. Saat ini, kajian tersebut hampir rampung dan menjadi dasar penyusunan peta jalan penerapan E20 yang ditargetkan berlangsung secara bertahap hingga 2028–2029.

Menurut Bahlil, kebijakan pencampuran etanol ke dalam bensin bertujuan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak, khususnya bensin.

Baca juga: Presiden Prabowo tinjau hilirisasi tebu menjadi bioetanol di Malang

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: CORE: Ada 1 juta ton tetes tebu yang bisa dikembangkan jadi bioetanol

Pewarta : Putu Indah Savitri
Editor: Wening Caya Ing Tyas
COPYRIGHT © ANTARA 2026