Daftar Isi
Jakarta -
Penggunaan Codex, agen coding berbasis AI dari OpenAI, tumbuh pesat di Indonesia. Menariknya, lonjakan tersebut bukan hanya didorong oleh para programmer, melainkan juga pekerja kantoran, analis, peneliti, hingga pelaku bisnis yang memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas.
OpenAI mengungkapkan, sejak awal tahun hingga akhir April 2026, jumlah pengguna Codex di Indonesia meningkat lebih dari 12 kali lipat, sementara interaksi hariannya melonjak lebih dari 16 kali lipat. Yang lebih mengejutkan, sekitar 50% penggunaan Codex di Indonesia berkaitan dengan tugas non-coding.
"Komunitas builder di Indonesia sangat pragmatis. Mereka tidak sekadar membahas AI secara abstrak, tetapi menggunakannya untuk menjawab kebutuhan nyata dalam pekerjaan, bisnis, komunitas, dan produk yang mereka bangun," ujar Gabriel Chua, DX Engineer OpenAI, saat dihubungi detikINET.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Gabriel, tingginya adopsi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memanfaatkan Codex untuk mengotomatisasi pekerjaan berulang, meningkatkan produktivitas, hingga merancang prototipe berbagai ide.
Ia menilai para builder di Indonesia juga memiliki keunggulan dalam memahami konteks lokal, mulai dari bahasa, kebutuhan UMKM, pendidikan, hingga tantangan yang dihadapi masyarakat sehari-hari. Hal itu membuat solusi berbasis AI yang mereka bangun menjadi lebih relevan.
Meski namanya identik dengan coding, OpenAI menegaskan bahwa Codex kini digunakan jauh melampaui kebutuhan pengembangan perangkat lunak.
Gabriel menjelaskan bahwa banyak pekerjaan berbasis pengetahuan (knowledge work) sebenarnya memiliki alur yang terstruktur dan berulang, sehingga cocok dibantu oleh agen AI.
"Pembuatan laporan, spreadsheet, presentasi, peninjauan kontrak, pengisian dashboard, hingga proses internal lainnya umumnya mengikuti alur yang berulang. Di sinilah agen AI seperti Codex dan ChatGPT Work dapat membantu memetakan alur tersebut agar lebih mudah ditinjau, digunakan kembali, dan disempurnakan," jelasnya.
Secara global, Codex dan ChatGPT Work kini telah memiliki lebih dari 7 juta pengguna aktif mingguan. Bahkan lebih dari 1 juta orang menggunakan Codex untuk pekerjaan di luar pengembangan perangkat lunak, seperti membersihkan data, menyiapkan laporan rutin, memahami codebase, hingga menguji alat internal.
Gabriel Chua, DX Engineer, OpenAI Foto: LinkedIn Gabriel Chua
OpenAI juga membagikan sejumlah contoh penggunaan Codex oleh kalangan non-developer.
Tim komunikasi, misalnya, memanfaatkan Codex untuk menyusun kalender konten, membuat template yang dapat digunakan berulang, hingga membangun alur kerja sederhana untuk memantau unggahan media sosial.
Sementara analis dan peneliti menggunakan Codex untuk membersihkan data, memetakan pola, lalu mengubah hasil analisis menjadi laporan yang siap digunakan.
Bagi product manager, Codex bahkan dapat berfungsi sebagai asisten pribadi yang membantu menyiapkan agenda kerja setiap hari.
Salah satu contoh datang dari manajer produk di tim Codex yang menggunakan AI untuk mengumpulkan konteks dari Slack, dokumen, Linear, dan email, kemudian mengubah ide awal menjadi prototipe yang dapat langsung diuji.
Contoh lain berasal dari maskapai Virgin Atlantic. Tim produk digital perusahaan tersebut menggunakan ChatGPT Work yang didukung teknologi Codex untuk membandingkan pengalaman pelanggan dengan kompetitor dan menyusun strategi lima tahun ke depan. Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu berminggu-minggu dapat diselesaikan hanya dalam hitungan jam.
Meski demikian, Gabriel menegaskan bahwa Codex tidak dimaksudkan untuk menggantikan manusia.
"Codex tidak menggantikan keahlian manusia. Teknologi ini dirancang untuk membantu mempercepat terciptanya draf awal lebih cepat, sementara pertimbangan dan peninjauan mendalam tetap berada di tangan manusia," tutupnya.
(afr/fay)
TAGSLIHAT LAINNYA