REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Selama beberapa tahun terakhir, dunia lebih banyak menyoroti perang tarif Amerika Serikat (AS) dan kebijakan proteksionisme Presiden Donald Trump sebagai ancaman terhadap perdagangan global. Namun, tekanan yang tidak kalah besar justru datang dari arah sebaliknya: membanjirnya barang-barang murah buatan China ke pasar dunia.
Kapasitas produksi China yang sangat besar, ditambah lemahnya konsumsi domestik, mendorong perusahaan-perusahaan di negara itu semakin bergantung pada pasar luar negeri. Persoalannya, kemampuan dunia menyerap produk-produk tersebut mulai mendekati batas.
Michael Froman, mantan Perwakilan Dagang Amerika Serikat yang kini menjabat Presiden Council on Foreign Relations, memperingatkan bahwa model pertumbuhan China yang bertumpu pada industri dan ekspor mulai menghadapi jalan buntu.
“Daya serap dunia terhadap kelebihan kapasitas produksi China sedang mendekati titik kritis,” tulis Froman dalam Foreign Affairs beberapa waktu lalu.
Peringatan itu muncul di tengah kesenjangan yang semakin mencolok antara pertumbuhan ekonomi dunia dan ekspansi perdagangan China. Dana Moneter Internasional memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto global sekitar 3,1 persen tahun ini. Sebaliknya, surplus perdagangan China melonjak lebih dari 20 persen pada awal 2026.
Setahun sebelumnya, China telah membukukan surplus perdagangan sekitar 1,2 triliun dolar AS, terbesar sepanjang sejarah pencatatan. Pertumbuhan surplus tersebut bahkan berlangsung sekitar tiga kali lebih cepat dibanding pertumbuhan perdagangan barang global.
Ketidakseimbangan inilah yang mulai memicu perlawanan. Amerika Serikat telah menaikkan tarif terhadap berbagai barang asal China. Pemerintahan Trump bahkan menjadikan tarif sebagai salah satu instrumen utama dalam kebijakan perdagangan yang dikemas dalam agenda “Liberation Day”.
Namun, penolakan terhadap penetrasi produk China tidak hanya datang dari Washington. Uni Eropa, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pendukung utama pasar terbuka, juga mulai memperkuat berbagai instrumen perlindungan perdagangan.
Menurut Froman, perubahan tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak negara tidak lagi bersedia menerima konsekuensi industrial dari serbuan produk murah China.
“Selera politik untuk menerima deindustrialisasi dan ketergantungan strategis yang muncul akibat membanjirnya impor China terbatas dan terus menyusut,” kata dia.
Jika kecenderungan itu berlanjut, menurut Froman, proteksionisme akan semakin meluas. Konsekuensinya, produsen China akan kehilangan akses terhadap pasar-pasar yang selama ini menjadi katup pelepas bagi kelebihan produksi mereka.
Kemampuan China menguasai pasar internasional tidak terlepas dari struktur biaya produksinya. Perusahaan-perusahaan China disebut mampu menjual barang hingga sekitar 30 persen lebih murah dibanding pesaing mereka di berbagai negara lain.
Kondisi itu antara lain didukung nilai tukar mata uang yang dinilai rendah, subsidi negara, serta berbagai kebijakan industri Beijing.
Namun, kebijakan tersebut memiliki konsekuensi. Dorongan produksi besar-besaran menciptakan kelebihan kapasitas di banyak sektor, sementara persaingan di dalam negeri berkembang menjadi perang harga yang semakin tajam.
Ketika permintaan domestik tidak mampu menyerap produksi, perusahaan-perusahaan China beralih agresif ke pasar ekspor.
Persaingan tersebut bahkan telah menekan keuntungan perusahaan di dalam negeri. Hampir sepertiga perusahaan industri China disebut beroperasi dalam kondisi merugi.
Dari sinilah Froman melihat kontradiksi besar dalam mesin industri China. “Hasilnya adalah sebuah mesin industri yang tidak dapat berhenti dan tidak dapat melambat, tetapi karena keterbatasan permintaan juga tidak dapat terus berjalan,” katanya.
Dengan kata lain, China harus terus memproduksi untuk menjaga industri, tenaga kerja, investasi, dan stabilitas ekonominya. Tetapi pada saat bersamaan, semakin sedikit pasar internasional yang bersedia terus menerima tambahan produk China.
Apabila pasar-pasar utama mulai menutup pintu melalui tarif, subsidi tandingan, atau kebijakan proteksi lainnya, model tersebut berpotensi mengalami tekanan serius.