REPUBLIKA.CO.ID, BAKU — Mahasiswi Indonesia di Azerbaijan terancam dengan aturan di negara tersebut yang saat ini melarang pengenaan hijab ataupun pakain-pakain Islamis lainnya di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Satu siswa keturunan Indonesia, pun kini tercatat ada yang sudah sudah menjadi korban dari larangan penggunaan jilbab di negara tersebut.
Seorang mahasiswa Indonesia di Baku menyampaikan kepada Republika, larangan jilbab di sekolah-sekolah itu sebetulnya sudah lama direncanakan. “Baru pada 20 September 2026 kemarin sekolah-sekolah mengumpulkan orang tua para siswa untuk penerapan aturan itu,” kata mahasiswa tersebut saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Menurut dia, pada 15 September 2026 memang dimulai tahun ajaran baru. Siswi-siswi yang masuk kelas menggunakan jilbab diminta untuk menanggalkan, atau keluar dari kelas.
“Pilihannya cuma ada dua mengikuti aturan (menanggalkan jilbab), atau mereka tidak sekolah,” ujar sumber itu.
Aturan pelarangan jilbab bagi para siswa itu, kata sumber Republika tersebut, tak dapat dilawan. Karena guru-gurunya juga terikat aturan yang sama.
“Aturan itu juga berlaku untuk guru-gurunya juga,” kata sumber tersebut.
Pelarangan penggunaan jilbab itu, sementara ini berlaku pada sekolah negeri dari mulai sekolah dasar sampai jenjang menengah atas. Menurut sumber tersebut, para orang tua yang masih mempertahankan agar putri-putrinya berjilbab saat bersekolah banyak yang tak menerima aturan itu. Tetapi para orang tua, maupun murid-murid yang menolak aturan itu, seperti dipaksa menerima pelarangan jilbab itu.
“Kalau yang berasal dari keluarga yang dia memiliki uang, dia akan memindahkan putrinya untuk ke sekolah swasta,” kata sumber tersebut.
Namun di sekolah-sekolah swasta, pun menurut sumber itu hanya tinggal menunggu waktu akan pelarangan hal serupa. Karena sumber tersebut meyakini, sampai saat ini kampanye negara atas pelarangan jilbab itu mulai menyasar ke institusi-institusi pendidikan lain. Bahkan sampai ke level universitas, dan perguruan-perguruan tinggi.
Di Azerbaijan, 96 persen masyarakatnya adalah Muslim. Sumber itu mengatakan kontur keberagaman di negara tersebut dengan komposisi sekitar 20 persen bermahzab Sunni, dan 80 persen berpaham Syiah.
Akan tetapi, pemerintahan di negara yang dipimpin oleh Presiden Ilha Aliyev itu punya mahzab politik yang mengarah ke paham sekularisme dengan partai politiknya Yeni Azerbaycan Pariyasi atau Azerbaijan Baru.